Jangan Takut Tak Dapat Rezki, Takutlah Tak Dapat Ridha Ilahi

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA, Pembina Ma’had Tahfidzul Quran DTI Bekasi Jawa Barat

 

Kita sebenarnya tidak sedang mencari rezki. Tapi menjemput rezki. Rezkinya sudah ada, sudah Allah tentukan. Tinggal kita jemput. Yang kita lakukan adalah mencari berkahnya dari rezki itu.

Kita jangan takut dapat atau tidak dapat rezki. Karena itu semua sudah ada dalam jaminan Allah. Yang penting adalah justru apakah kita dapat berkahnya atau tidak? Berkah itu karena halal caranya dan halal dzatnya.

Jadi, kita ikhtiar jangan takut tidak dapat rezki. Tapi takutlah tidak dapat ridha ilahi.

Wilayah kita adalah meluruskn niat, menyempurnakan ikhtiar dan memperkuat doa. Jangan risau tidak dapat rezki yang itu sudah dijamin Allah. Tapi risaulah kalau tidak dapat ridha Allah.

Pernahkah kita tidak minum dalam sehari saja? Atau tidak bernafas satu jam saja? Ternyata banyak rezki yang datang sendiri. Air minum, udara, semua rezki dari Allah.

Bahkan saat kita di dalam kandungan ibu. Apakah kita mencari rezki? Ternyata tidak. Rezkilah yang mendatangi kita.

Sekarang yang terpenting adalah kita kerja yang benar. Benar niatnya, benar pula caranya. Kalau dapat rezki, kita bersyukur. Kalau tidak dapat atau belum sesuai harapan, ya kita bersabar.

Soal jaminan Allah dalam hal rezki, di antaranya terdapat di dalam Surat Hud [11] Ayat 6:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).”

Berkaitan dengan ayat ini, Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa seluruh rezeki dan ketentuannya hanya Allah yang semata-mata memilikinya. Simpanan rezeki tersebut adalah di tangan Allah. Allah-lah yang memberi pada siapa yang Allah kehendaki, Allah pula yang menghalangi rezeki tersebut pada yang lain sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya yang luas.

Bukan berarti juga berpangku tangan dan meminta-minta. Namun tetap maksimalkan ikhtiar, doa dan tawakkal. Ikhtiar itu fisikal. Doa itu lisan. Tawakkal itu jiwanya.

Berkaitan dengan ini, ada satu doa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ajarkan kepada kita agar kita merasa cukup dengan rezki yang halal. Sehingga tidak perlu lagi menambah dengan yang haram. Sehingga tidak perlu lagi kita berbuat korup, menupi, menzalimi atau memakan riba.

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Artinya: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR At-Tirmidzi).

Hal lainnya adalah kita seringkali menyebut rezki itu hanya yang bersifat materi, kasat mata, seperti uang, makanan, benda-benda, dsb. Namun justru ada rezki dalam bentuk lain yang sering kita lupakan, yaitu rezki dalam bentuk nikmat kesehatan, kelapangan waktu, ketekunan beribadah, nikmat Islam dan iman.

Kita dapat bertadarus satu hari satu juz, itu rezki yang luar biasa. Kita konsisten shalat lima waktu berjama’ah, jangan lupa itupun rezki tak terkira. Kita memiliki anak yang tekun menghafal ayat-ayat Al-Quran, gemar ke masjid shalat berjama’ah, berbakti kepada orang tua. Itu pun sungguh rezki sangat besar.

Semoga Allah cukupkn kita dengan rezki yang halal, thayyib, berkah, mudah lagi melimpah. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)