Jihad Dengan Harta Adalah Perniagaan Yang Tidak Pernah Merugi

(Photo Ilustrasi: Hidayatullah.com)

Oleh: Mustofa Kamal, Mahasiswa STISA ABM Lampung

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir: 29-30).

Perniagaan yang tidak merugi artinya suatu perniagaan yang tidak mengakibatkan kerugian pada pelakunya bahkan melahirkan keuntungan. Jihad dengan harta merupakan perniagaan yang tidak merugi. Pelakunya akan mendapat keuntungan yang berlipat ganda.

Jihad dengan harta bermacam-macam bentuknya. Ada yang sudah ditetapkan dan ada yang belum ditetapkan, ada yang secara sembunyi-sembunyi ada yang dengan terang-terangan. Jihad dengan harta dalam Al-Quran disebut menafkahkan harta pada jalan Allah. Lihat Qur’an surah Al-Baqarah ayat 261-262. Jihad dengan harta dilipat gandakan pahalanya.

Allah Subhana Wa Ta”ala berfirman;

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (261)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al-Baqarah: 261).

Ketika kita mengeluarkan harta kita pada jalan Allah perumpamaan nilai keuntungan (pahalanya) adalah seperti sebutir benih yang bercabang tujuh dan pada setiap bulirnya (tangkai beserta buah, bunga, majemuk yang terdapat pada tangkai tersebut), dan masih dilipat gandakan lagi bagi siapa yang dikehendaki oleh Allah, yaitu bagi mereka yang sabar dan ikhlas.

Yang dimaksud jalan Allah pada ayat 261 Al-Baqarah adalah mengeluarkan harta sebagai wujud ketaatan, dalam masalah ini ada kaitannya tentang ketaatan kepada Allah, Rasul dan Ulil amri. Dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan, yang dimaksud dengan ‘Jalan Allah’ menurut Sa’id ibnu Jubair ialah dalam rangka taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menurut Makhul, yang dimaksud dengan ‘Jalan Allah’ ialah menafkahkan hartanya untuk keperluan berjihad, seperti mempersiapkan kuda dan senjata serta lain-lainnya untuk tujuan berjihad.

Syabib ibnu Bisyr meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa menafkahkan harta untuk keperluan jihad dan ibadah haji pahalanya dilipatgandakan sampai tujuh ratus kali lipat.

Sebagai contoh keuntungan sesorang menyedekahkan satu unit mobil untuk jalan Allah, kelak di akhirat akan mendapat ganti tujuh ratus unit mobil atau lebih dari itu atas kehendak Allah.

Atau seseorang menyedekahkan dua ekor kambing untuk keperluan di jalan Allah, maka keuntungannya kelak di akhirat adalah dia akan mendapatkan ganti satu juta empat ratus kambing atau lebih dari itu atas kehendak Allah.

Itu semua adalah perumpamaan keuntungan dari harta yang ia keluarkan pada jalan Allah bisa berupa uang dan barang.

Marilah kita simak hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سُلَيْمَانَ، سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ: أَنَّ رَجُلًا تَصَدَّقَ بِنَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَتَأْتِيَنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِسَبْعِمِائَةِ نَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ”

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sulaiman, bahwa ia pernah mendengar Abu Amr Asy-Syaibani menceritakan hadits berikut dari Ibnu Mas’ud, bahwa ada seorang lelaki menyedekahkan seekor unta yang telah diberi tali kendali, maka Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya kamu akan datang di hari kiamat nanti dengan membawa tujuh ratus ekor unta yang telah diberi tali kendali. (HR. Imam Ahmad)

Imam Muslim dan Imam Nasa’i meriwayatkannya melalui hadits Sulaiman ibnu Mihran, dari Al-A’masy dengan lafaz yang sama. Lafaz menurut riwayat Imam Muslim seperti berikut:

جَاءَ رَجُلٌ بِنَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. فَقَالَ: “لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَبْعُمِائَةِ نَاقَةٍ

Seorang lelaki datang dengan membawa seekor unta yang telah diberi tali kendali, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, unta ini untuk sabilillah.” Maka beliau Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kamu kelak di hari kiamat akan mendapatkan tujuh ratus ekor unta karenanya.”

Jihad Dengan Harta Akan Memperoleh Surga

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12) وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (13) }

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (QS. Ash-Shaff: 10-13).

Para sahabat bertanya-tanya tentang amalan yang paling disukai oleh Allah, maka turunlah ayat di atas yang menerangkan di antaranya jihad dengan harta adalah termasuk amalan yang mulia, di samping ada jihad dengan jiwa atau raga, yang keduanya saling berkaitan.

Jihad dengan harta dan benda pernah dicontohkan oleh sahabat-sahabat Nabi yang mereka dijamin masuk surga karena mereka tahu itu adalah jihad dan beroleh pahala berlipat dan sebuah perniagaan yang dapat menghantarkan ke surga dan terbebas dari api neraka. Para sahabat tersebut adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-khathab, juga Abdulrahman bin Auf, mereka bahkan menafkahkan semua hartanya pada jalan Allah.

Kita hanya diperintah oleh Allah dalam Al-Qur’an menafkahkan sebagian rejeki atau bisa kita katakan sisanya saja. Apakah kita masih berat dan tidak mau ?

Abu Ubaidah berkata, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Barang siapa yang membelanjakan sejumlah harta lebihan di jalan Allah, maka pahalanya diperlipatgandakan tujuh ratus kali. Dan barang siapa yang membelanjakan nafkah buat dirinya dan keluarganya atau menjenguk orang yang sakit atau menyingkirkan gangguan (dari jalan), maka sesuai amal kebaikan (pahalanya) sepuluh kali lipat kebaikan yang semisal. Puasa adalah benteng selagi orang yang bersangkutan tidak membobolnya. Dan barang siapa yang mendapat suatu cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala pada tubuhnya, maka hal itu baginya merupakan penghapus (dosa).

Dengan infak yang telah ditetapkan oleh ulil amri sebagai wujud ketaatan marilah kita tunaikan atau yang belum ditetapkan, mari kita laksanakan baik dengan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Bila mampu kita tunaikan, bila tidak mampu kita mencari agar tetap dapat menunaikan. Karena sejatinya yang kita keluarkan itu adalah sebuah barter untuk mendapatkan surga.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

{إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111)

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 111).

Semoga kita semua diberi kemudahan oleh Allah untuk mendapatkan rezeki berupa harta dan benda, sehingga kita dapat menunaikan infak, dan semoga apa yang kita keluarkan berupa harta dan benda untuk jalan Allah besar ataupun kecil banyak ataupun sedikit, dilipat gandakan keuntungan (pahalanya) dan kita bersama meraih surga Allah. Aamiin (A/mus/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)