Kabupaten Malang, Diversifikasi Perkebunan Kopi Lindungi Petani

Kegiatan Petani kopi di wilayah AMSTIRDAM, Malang, Jawa Timur.(Foto: Istimewa)

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak cukup besar pada setiap aspek kehidupan. Pembatasan mobilitas masyarakat yang mengakibatkan berkurangnya aktivitas ekonomi menyebabkan pendapatan sebagian besar masyarakat menurun sehingga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun hal tersebut tidak terjadi pada petani kopi di wilayah AMSTIRDAM (Ampel Gading, Sumber Manjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit), Kabupaten Malang, Jawa Timur. Setidaknya hingga saat ini mereka tetap aktif berkebun dengan menerapkan protokol kesehatan dan tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan dasar sehari-hari.

Bakri, petani kopi di daerah Sumber Manjing Wetan mengatakan, pandemi ini tentunya turut memberikan dampak negatif pada kopi, namun kami tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini karena masing-masing kelompok tani kopi di desa kami mengembangkan budidaya kopi dan tanaman pangan lainnya.

“Oleh karena itu, kami dapat mengambil kebutuhan pangan dari kebun sendiri, seperti sayur dan buah-buahan, dan menjualnya jika berlebih” ujar Bakri, sebagaimana keterangan pers yang diterima MINA, Jumat (16/7).

Selain berkebun kopi dan tanaman pangan, ia bersama petani di Sumber Manjing Wetan lainnya juga mengembangkan ternak kambing dan lebah serta mengembangkan kegiatan diversifikasi lainnya di kebun.

Hasilnya, mereka mendapatkan madu, membuat pupuk kompos dari campuran kotoran kambing dan kulit biji kopi, membuat bibit kopi dan juga menyewakan pengeringan biji kopi.

“Meskipun sedang dalam keadaan pandemi, sampai saat ini permintaan bibit kopi dari luar wilayah Sumber Manjing Wetan selalu ada. Bahkan kami sering mengejar produksi untuk memenuhi target permintaan hingga 10.000 bibit. Satu bibitnya dijual sekitar lima ribu rupiah, sehingga bisa menjadi pendapatan utama kami ketika bijih kopi belum bisa dipanen,” jelasnya.

Bakri yang juga berperan sebagai petani terlatih di Desa Harjokuncaran, mengatakan bahwa untuk mengembangkan kebunnya tersebut, ia dan petani lainnya mendapatkan berbagai pengetahuan baru tentang budidaya kopi.

Pengetahuan ini didapat dari program pendampingan peningkatan kapabilitas petani yang dilakukan Yayasan Inisiatif
Dagang Hijau (Yayasan IDH) bersama dengan PT Asal Jaya, perusahaan eksportir kopi nasional di Jawa Timur sejak
tahun 2016 hingga 2021.

“Selama lima tahun, saya dan 15.000 petani kopi lainya di AMSTIRDAM dilatih mengenai teknik dalam memanen seperti cara memetik cherry merah, paska panen seperti pengeringan biji dan sortasi, sampai mengolahnya menjadi produk yang siap dikonsumsi. Kami juga diajarkan untuk bertanam tumpang sari dengan jahe, mengembangkan organisasi petani, manajemen keuangan, dan kesempatan praktik dalam perkebunan percontohan dengan ekosistem terintegrasi untuk mengembangkan budidaya kopi berkelanjutan,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa tidak hanya bercocok tanam, para petani perempuan juga tergabung dalam kelompok wanita tani (KWT). Mereka diajarkan untuk belajar membatik, memelihara bunga, dan sayur-sayuran untuk dikonsumsi masyarakat.

Pengecekan kualitas biji kopi yang dihasilkan dari petani kopi di wilayah AMSTIRDAM, Malang, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)

Ia mengakui sebelum adanya pelatihan, para petani di AMSTIRDAM masih bercocok tanam dengan pengetahuan yang terbatas dan menggunakan cara yang diwariskan orang tua sebelumnya, yaitu dengan sistem monokultur atau satu jenis tanaman kopi saja. Ini mengakibatkan kualitas biji kopi yang dihasilkan dari masing-masing kebun masih beragam dan nilai jualnya menjadi rendah.

“Kini upaya pembelajaran kami selama lima tahun telah teruji dengan pandemi sekaligus perubahan iklim. Alhamdullilah, sampai saat ini kami masih bisa berkebun dan memenuhi kebutuhan keluarga kami. Terlebih, produktifitas kebun kopi kami juga meningkat sekitar 11%, dimana PT Asal Jaya menjadi pembeli utama. Berbekal pengetahuan yang dimiliki, kedepannya kami akan meningkatkan biji kopi yang lebih baik dan menurunkan ilmu ini kepada anak cucu kami untuk mencegah kepunahan kopi,” jelasnya.

Dampak pelatihan dan peningkatan kapasitas juga dirasakan oleh Ibu Yurniati, petani kopi perempuan asal Ampel Gading.

Saat ini, ia dan kelompok petaninya yang disebut dengan Sustainable Agriculture Business Cluster (SABC) Tawangagung memiliki unit usaha simpan pinjam bagi anggotanya.

“Dana usaha simpan pinjam ini dapat digunakan oleh anggota SABC untuk menjadi modal perkebunan mereka, atau bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga. Contohnya seperti pinjaman untuk biaya pengobatan COVID-19,” jelasnya.

Sebagai Ketua SABC Tawangagung, Ampel Gading, ia mengatakan sebelum mendapatkan program pelatihan dan pendampingan, aktifitas yang dilakukan kelompok tani sangat kurang sekali. Saat ini di bawah kepemimpinannya, kelompok tani dapat memproduksi dan menjual pupuk kompos yang dibuat bersama, hingga mendapatkan sertifikasi SDM Organik untuk produksi pupuknya.

“Saya sebagai perempuan merasa diberikan kepercayaan yang cukup baik dari pelatihan ini sehingga dapat mendorong petani perempuan lainnya untuk aktif dalam kegiatan serupa. Selain memproduksi pupuk, kelompok tani kami juga membuka usaha pembibitan kopi yang kami gunakan sendiri dan untuk dijual,” pungkasnya.

Yayasan IDH dan PT Asal Jaya merespon baik atas dampak program pendampingan yang dirasakan petani.

“Kami senang sekali program kerja sama dengan PT Asal Jaya ini membuat para petani di AMSTIRDAM mampu mengaplikasikan pelatihan dan keterampilan dalam kegiatan budidaya kopi. Apalagi manfaatnya dapat mereka rasakan di saat pandemi seperti sekarang,” ujar Melati, Program Manager Yayasan IDH.

Sebagai mitra lokal pertama Yayasan IDH untuk co-funding program kopi di Indonesia, Melati berharap akan ada perusahaan lokal lainnya yang akan mengikuti jejak PT Asal Jaya untuk mereplikasi model ini. Tujuannya agar mutu dan kesejahteraan petani dapat terus berkembang dalam sistem diversifikasi, pelatihan, dan peningkatan kapasitas praktik pertanian yang baik.

Contohnya dari penanaman bibit kopi hingga teknik paska panen pada perkebunan petani kopi swadaya.

Sependapat dengan Yayasan IDH, Hariyanto, Direktur PT Asal Jaya mengatakan bahwa untuk mencapai peningkatan mutu biji kopi dan kesejahteraan petani, tidak bisa dilakukan oleh beberapa pihak saja.

Perlu dukungan berbagai pihak yaitu dari pemerintah daerah, asosiasi industri kopi seperti Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI) sebagai pembuat kurikulum pelatihan serta penyediaan pelatih petani kopi, pihak swasta, dan tentunya petani sebagai objek utama.

“Kerja sama berbagai pihak terbukti berbuah manis, dimana saat ini petani kopi di AMSTIRDAM masih bisa bertahan di tengah pandemi dan masih dapat terus mengembangkan produktifitasnya. Meski sempat terjadi hambatan ekspor di awal pandemi, namun permintaan pasar internasional, khususnya biji kopi robusta di Eropa sudah kembali normal dengan kecenderungan tren yang terus meningkat,” kata Hariyanto.

Ia menambahkan tren permintaan kopi yang meningkat ditingkat global tercermin dengan adanya rencana kerjasama PT Asal Jaya dengan Jacobs Douwe Egberts (JDE), yaitu salah satu perusahaan kopi murni terbesar dunia yang sudah berjalan selama 265 tahun untuk mendapatkan pasokan kopi yang berkelanjutan dengan mereplikasi program pelatihan dan pendampingan yang sama dengan Yayasan IDH di kecamatan lainnya di Kabupaten Malang Jawa Timur sampai dengan tahun 2023.(AK/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)