Ke-Arab-an Sudan

Oleh:  Kang Ribut Nur Huda, MA, M.Ed,

(Staff Bagian Politik KBRI Khartoum, Mustasyar PCI NU Sudan, dan Kandidat Doktoral di University of The Holy Qur’an and Islamic Science, Khartoum, Sudan).

Berbicara kearaban Sudan ada fenomena yang cukup unik. Pasalnya, negara ini secara geografis masuk bagian Afrika, namun secara geo-politik masuk bagian Timur Tengah dan Liga Arab.

Tidak heran jika ada yang penasaran dengan identitas Arab-Sudan, apakah identitasnya pribumi ataukah pendatang, apakah Arab asli ataukah hasil blasteran dengan warna kulit “lumayan hitam”, berbeda dengan Arab pada umumnya yang kulitnya putih atau sawo matang dengan hidung relatif mancung. Literatur sejarah Sudan yang ditulis saat sebelum pisah dengan Sudan Selatan menyebutkan beberapa suku babon yang berkembang di Sudan adalah suku Zanuj, Beja, Nuba dan Arab.

(Catatan: Masalah perbedaan etnis di Sudan pernah menjadi alat propaganda Barat untuk mempengaruhi Sudan agar dilanda konflik,  hingga pada akhirnya Sudan melepas Sudan Selatan yang ngotot menolak pemberlakuan syariat Islam dan bahasa Arab. Akibatnya terjadi perang Darfur yang “mengorbankan” etnis Arab untuk melawan etnis non-Arab yang ngotot memperjuangkan referendum. Stigmatisasi bahwa Arab sebagai etnis pendatang di Sudan sudah tidak efektif sebagai alat propaganda luar/AS yang menghendaki Sudan lumpuh tak berdaya melakukan konsolidasi ke negara-negara Muslim agar mau diajak “tidak bergantung” dan menyaingi kekuatan Barat.)

Issue etnis telah beralih ke issue kebebasan dan demokrasi pasca lengsernya Omer Al Bashir.

Berbeda dengan kondisi yang terjadi di Iraq, Suriah dan Yaman, issue Sunni-Syiah sudah lama tidak laku di Sudan meskipun Omer Al Bashir membuka peluang selebar-lebarnya bagi pengembangan paham wahabi, bukan salafy, hambaly atau taimy oleh para alumni Saudi Arabia di Sudan.

Seorang Sastrawan Sudan kenamaan, Prof. Abdullah Thayyib meyakini bahwa sebenarnya orang Arab kulitnya berwarna hitam. Beberapa tokoh Suku Quraish seperti paman Nabi Saw yang bernama Al Abbas bin Abdul Muthalib, Umar bin Khattab dan lainnya berkulit hitam, termasuk juga Sayidina Ali ra. Menurutnya, masyarakat Arab di Syam dan Jazirah Arab bagian timur yang kulitnya berwarna putih dilatarbelakangi oleh faktor blasteran atau sudah mengalami banyak percampuran dengan masyarakat Romawi dan Bizantium.

Lebih dari itu, Abdullah Thayyib berkesimpulan bahwa asal-usul Arab adalah Sudan. Dalam hal ini, yang dimaksud Sudan adalah Sudan Bagian Timur ketika masih menjadi bagian dari wilayah Jazirah Arab sebelum dibentuk peta kawasan Red Sea yang memisahkannya dengan Jazirah Arab.

Bahkan menurutnya, Kuda Arab pun juga berasal dari Sudan Timur, sebelum menyebar dan beranak-pinak di Jazirah Arab pasca ada batas pemisah tersebut. Jika sejarah Islam mencatat para Sahabat Nabi Saw pernah hijrah ke Habasyah maka yang dimaksud hijrah ke Habasyah adalah ke Sudan Timur hingga daerah yang dibatasi oleh tepian sungai Nil dekat Marowe dan Kabushiya sebagaimana beberapa bukti peninggalan yang ada di Bajrawiya.

Pendapat Abdullah Thayyib tersebut didukung oleh banyak ilmuwan Sudan, diantaranya Prof. Hasan Al Fatih Qaribullah, Dr. Jaafar Mirghani, Prof. Hassan Makki dan lainnya.

Adapun Prof. Zakaria Bashir Al Imam menilai argumen Abdullah Thayib yang banyak mengandalkan pendekatan Antropologi Bahasa juga menyimpulkan bahwa Sudan merupakan pusat peradaban dunia Arab dan peradaban dunia “zaman kuno”. Dalam kaitan ini, Sudan memiliki beberapa Piramid yang dinilai keberadaannya lebih awal dari piramid yang terdapat di Mesir.

Apabila diitelisik dari suku-suku babon yang ada di Sudan, suku Arab merupakan suku paling berpengaruh dalam dinamika kehidupan di Sudan hingga saat ini.

Suku Arab babon tersebut dikenal dengan sebutan Ja’li, sebuah suku yang menyambungkan geneologi etnis Arab-Sudan hingga ke suku Quraish atau lebih spesifik hingga ke paman Nabi Saw yang bernama Al Abbas bin Abdul Muthalib dan kemudian dikenal dengan “Trah Abbasiyyun”. Trah ini menduduki peran penting dalam kepemimpinan Arab (suku Quraish) di jaman Jahiliyah.

Selain itu, Keberadaan masyarakat Sudan yang merupakan keluarga keturunan Nabi Saw berjumlah tidak sedikit, diantaranya keluarga Al Mirghani, keluarga Al Mahdi, keluarga Idrisiyah, keluarga Al Syarif al Hindi dan lainnya.

Kebanggaan masyarakat Sudan kepada etnis/nenek moyang bukanlah bentuk kesombongan, melainkan bentuk kebanggaan atas ajaran Islam dalam menjaga silaturahmi dan kemuliaan akhlak sebagaimana masyarakat Arab-Ja’li yang dikenal sebagai suku paling tinggi tepo selironya dan banyak bergaul dengan suku-suku non-Arab.

Sifat muru’ah, kebersamaan, keramahan dan kedermawanan mereka telah menjadi persepsi umum di Sudan hingga dewasa ini, termasuk di kalangan pendatang Asing yang seringkali terkesan dengan keramahan dan empati mereka.

(Catatan: setelah sering terjadi gesekan antar suku di Sudan, banyak tersebar peribahasa Arab yang memberi pesan “orang Arab itu kondisinya beragam”. Artinya menepis stigma negatif bahwa semua etnis Arab menyukai permusuhan. Peribahasa tersebut tersebar setelah negara-negara Arab dilanda perselisihan, adanya situasi politik dan tekanan politik Barat terhadap Arab serta upaya Barat dalam mencitrakan umat Islam-Arab sebagai umat yang lemah dan enggan bersatu hanya karena perbedaan etnis atau aliran keagamaan).

Kemurnian Ke-Arab-an Sudan tidak hanya didukung oleh faktor asal usul etnis berkulit hitam dan bahasa Arabnya, melainkan juga oleh identitas budaya Sudan yang asal usulnya Arab sebagaimana kesimpulan pakar sastra Arab Sudan, Prof. Ibrahim Al Qurashi Osman.

Dirinya menggambarkan Sudan sebagai Arab-Afrika sebagaimana dua keping mata uang yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Afrika dari segi geografisnya dan Arab dari segi asal usul masyarakatnya. Bagi yang mengamati langsung di Sudan akan dapat merasakan bagaimana sentuhan kemurnian bahasa dan budaya Arab yang sangat terjaga, dilengkapi panorama khas Arab seperti pohon kurma, onta bahkan khimar. Tentu hal tersebut setelah melalui penalaran yang cukup terhadap keterkaitan fenomena dan nomena yang ada di Sudan maupun di negara-negara Arab lainnya.

(Catatan : Suku non-Arab di Darfur yang kondisi hidupnya nomaden dan menggembala binatang ternak atau disebut juga dengan kelompok badui yang nota bene kurang terdidik direkrut oleh Omer Al Bashir (Sebelum lengser dan masa transisi saat ini) untuk menjadi milisi di saat krisis perang Darfur. Setelah itu, dialihkan menjadi pasukan resmi dibawah komando Al Bashir langsung.

Sebagai kepanjangan dari rezimnya, pasukan tersebut melakukan tindakan represif terhadap aksi unjuk rasa damai. Pasukan tersebut terindikasi mayoritas berasal dari milisi Chad, Libya dan Negeria/Poko Haram yang sudah lama tergabung. Tindakan mereka tidak mencerminkan karakter orang Sudan pada umumnya).

Kondisi Sudan saat ini masih menunggu kejelasan politik. Militer dan sipil dalam proses negosiasi dengan semangat kompetitif. Semoga menjumpai titik temu agar cepat kelar.

اللهم احفظ السودان وأهلها. امين
Pray to Sudan.

Khartoum, 15 Juni 2019. (A/Ast/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)