Kedelai BATAN Hasilkan Tempe Berkualitas Tinggi

Jakarta, MINA – Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional () Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, BATAN bisa menghasilkan berkualitas tinggi. Ia berharap para petani menanam varietas kedelai dari BATAN.

“Ini tantangannya besar, karena kedelai dan tempe ini bukan saja varietas BATAN dipakai, tapi bagaimana supaya petani juga termotivasi untuk menanam kedelai,” kata Djarot pada acara konferensi pers di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Pasar Jumat, Jakarta, Senin (9/7).

Dia menjelaskan, dalam proyek tempe ini, badan International Atomic Energy Agency (IAEA) bekerja sama dengan Food and Agriculture (FAO) dan United Nations Industri Development Organization (UNIDO). Sedangkan di Indonesia yang terlibat selain BATAN adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Koordinator BATAN Kemenristekdikti. Kelak juga akan melibatkan Kementerian Kesehatan.

Menurut Djarot, target proyek tempe ini adalah agar ada suatu model yang berdampak nasional, terutama yang berkaitan dengan kemandirian kedelai.

Saat ini produksi kedelai BATAN ada 10 varietas dari mutasi radiasi. Varietas tersebut bisa dimanfaatkan oleh petani dan yang penting adalah tempe yang menggunakan kedelai Indonesia, khususnya BATAN, kualitasnya tinggi.

Diharapkan tempe yang selama ini sebagian besar menggunakan kedelai impor, bisa memanfaatkan kedelai produksi atau hasil tanaman dalam negeri, contohnya produk dari BATAN.

Proyek tempe tersebut, lanjut dia, juga akan melibatkan rumah tempe, yaitu koperasi pertanian yang menjadi semacam pilot poject BATAN, rumah tempe menghasilkan tempe berkualitas tinggi menggunakan kedelai dari BATAN.

“Nanti dampak yang diharapkan adalah tempenya bagus, menggunakan kedelai produksi dalam negeri, khususnya dari BATAN, itu golnya,” ujar Djarot.

Ia menambahkan, proyek tempe ini akan disinergikan dengan proyek-proyek Kementan. Target proyet ini adalah mengikuti target Kementan, yaitu dengan percontohan tempe berkualitas bagus dengan kedelai dari BATAN, salah satu varietasnya adalah mutiara 1, yang memenuhi persyaratan tempe higienis dari Rumah Tempe.

Proyek tempe ini masih dalam penggodokan. “Kita akan launching tahun depan, kemudian targetnya di 2022, itu tercapai,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala PAIR Totti Tjiptosumirat menambahkan, itu merupakan tantangan dan program bagi PAIR, BATAN, dan yang menjadi pokok adalah para peneliti yang belajar di BATAN sekitar 3-6 bulan ini, IAEA mengkhususkan Indonesia untuk penyelenggaraan pemuliaan mutasi tanaman.

“Itu diharapkan menjadi inisiator, sehingga menjadi nilai tambah bagi produk kedelai, dan selanjutnya mengurangi impor kedelai dan meningkatkan UMKM, serta hasil produk dengan bahan baku kedelai,” terangnya.

Kegiatan selanjutnya adalah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO), untuk membuktikan bahwa produk hasil kedelai ini bisa memenuhi nutrisi yang dibutuhkan. (R/R01/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)