KEIN Harap Sektor Pariwisata Akan Genjot Ekonomi di Atas 10 Persen

Jakarta, 15 Ramadhan 1437/20 Juni 2016 (MINA) – Sektor Pariwisata sebagai salah satu bidang yang dibidik dalam industrialisasi oleh Pemerintah Indonesia.

Oleh karena itu, dalam rangka penyusunan Roadmap Industrialisasi Sektor Pariwisata dan anggaran belanja untuk pariwisata, Kelompok Kerja (Pokja) Pariwisata Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) membahas masalah tersebut bersama Kementerian Pariwisata secara serius.

Ketua KEIN, Sutrisno Bachir mengatakan bahwa pihaknya sangat berharap sektor pariwisata ini akan mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional hingga di atas 10 persen.

“KEIN berharap sektor pariwisata ini bisa menjadi sektor yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga di atas 10 persen,” kata Sutrisno Bachir di sela acara Focuss Group Discussion (FGD) Pokja Pariwisata KEIN bersama Kemenpar di Ruang Rapat Menko Perekonomian, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (20/6).

Menurutnya, harapan itu wajar karena dirinya melihat bahwa sektor pariwisata itu memang berbeda dengan sektor industri lainnya. Hal itu karena, sektor ini melibatkan stakeholder yang banyak, dan didalamnya bisa meliputi pengusaha pemodal besar dan kecil.

Selain itu, sektor pariwisata juga mempunyai multi efek yang banyak. “Tidak banyak negara yang bisa mengandalkan sumber devisa dari sektor pariwisata. Karena itu, kami berharap agar sektor pariwisata bisa lebih cepat menggerakan ekonomi dan sekaligus mendapatkan devisa,” ujarnya.

Dari hasil FGD ini, KEIN berencana akan membuat roadmap khusus sektor pariwisata hingga tahun 2045 bersama dengan Kementerian Pariwisata. Roadmap ini nantinya bukan hanya diusulkan kepada presiden, namun juga kepada parlemen sehingga apa yang dinginkan itu bisa terwujud dan industri pariwisata ini bisa menjadi andalan, jelas Sutrisno.

“Kami yakin kalau sektor pariwisata bisa menjadi sektor yang sangat kuat dalam situasi bangsa ke depan yang pasti akan banyak menemui tantangan. Justru di sektor pariwisata ini didukung oleh situasi geografis di Asia Pasifik, di kawasan Timur juga. Belum lagi potensi wisatawan dari kawasan Timur Tengah, ditambah lagi negara kita dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Selain itu, kita juga memiliki sumber daya alam maupun kebudayaan yang komplit,” ujarnya.

Karena itu, KEIN melihat hal tersebut sebagai sebuah tantangan bersama dan perkembangan itu harus segera dipercepat. Menurut Sutrisno, KEIN bertugas menyampaikan dan memberikan masukan roadmap tersebut kepada presiden.

“Apalagi industri pariwsata ini juga sesuai dengan program yang diarahkan Presiden Jokowi, dimana kita bisa memaksimalkan dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dan memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka yang mempunya pendidikan rendah,” imbuhnya.

Pariwisata Sumbang PDB Tertinggi

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arif Yahya yang juga hadir sebagai narasumber dalam FGD mengatakan, di Tahun 2015 sektor pariwisata telah menyumbangkan 10 persen PDB Nasional, dengan nominal tertinggi di ASEAN yang disusul oleh Thailand, Malaysia dan Filipina.

“Karena itu, pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata adalah yang tertinggi, yaitu 13 persen dibandingkan pendapatan dari sektor industri minyak gas bumi, batubara, dan minyak kelapa sawit yang bahkan pertumbuhannya negatif,” ujar Arif Yahya.

Menurutnya, sektor pariwisata juga menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan atau sebesar 8,4 persen secara nasional dan menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor industri.

Selain itu dalam penciptaan lapangan pekerjaan, sektor pariwisata tumbuh 30 persen dalam waktu 5 tahun.

Pariwisata juga dianggap telah menciptakan proyek lapangan kerja dengan modal termurah yaitu dengan US$ 5.000/satu pekerjaan, dibanding rata-rata industri lainnya sebesar US$ 100.000/satu pekerjaan.

Hadir juga dalam kesempatan FGD itu, Niko Barito utusan khusus Presiden Seychelles untuk Asia Pasifik , Hiramsyah Sambudhy Ketua Pokja 10 Destinasi Baru Pariwisata, Asnawi Bahar Ketua Umum ASITA, Effi Setiabudhi Ketua Umum ASPERAPI, Yuliandre Darwis Ketua Umum ISKI dan lainnya. (L/P010/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)