Kepada India dan Pakistan, Warga Perbatasan: Pergi Damai atau Perang

Wanita desa Devta di Mendhar, Kashmir, di area Garis Kontrol (LoC) perbatasan antara India dan Pakistan. (Foto: GK)

Srinagar, MINA – Warga desa Devta di Mendhar, Kashmir, di area Garis Kontrol (LoC) perbatasan antara India dan Pakistan, mengeluhkan nasib malang mereka dan menyeru kedua negara untuk “pergi berdamai atau berperang.”

Keluhan itu mereka serukan setelah lima orang dari satu keluarga tewas oleh pengeboman lintas perbatasan yang dilakukan oleh militer kedua negara, demikian Greater Kashmir melaporkan.

Di suatu pagi, ketika Mohammad Ramzan Chowdhary dan istrinya baru saja duduk sarapan bersama ketiga putra dan dua putrinya di gubuk lumpurnya, tiba-tiba keheningan berubah oleh gemuruh ledakan hebat.

Baca Juga:  PM Inggris Umumkan Pemilu Mendadak 4 Juli

Sebuah bom jatuh di gubuk Chowdhary, menewaskan ia dan istrinya, bersama ketiga putranya. Sementara kedua anak perempuannya terluka akibat pecahan dari bom tersebut. Padahal desa itu cukup jauh dari Garis Kontrol perbatasan.

Setelah tentara Pakistan dan India melalui periode damai yang singkat, mereka kembali berpaling ke senjatanya dan saling baku tembak di perbatasan. Kedua pihak selalu saling menyalahkan tentara tetangga yang memulai penembakan.

“Hanya kedua putri kecil keluarga ini yang tertinggal dan ini adalah tragedi besar, karena bukan hanya keluarga ini, tapi juga untuk seluruh wilayah,” kata Majid Chowdhary, keluarga dekat keluarga Ramzan Chowdhary.

Kematian lima anggota keluarga itu telah membuat warga desa dalam keadaan panik dan menyimpan dendam mendalam, karena desa tersebut menanggung beban penembakan lintas batas antara tentara India dan Pakistan.

Baca Juga:  AS: Kekerasan di Rakhine Berisiko Terjadi Kekejaman Baru

“Hentikan penembakan harian ini dan pergilah untuk berdamai atau berperang. Orang-orang yang tinggal di perbatasan sedang mengalami situasi seperti perang setiap hari,” kata Chowdhary. (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Rudi Hendrik