Kepala Badan Bahasa Paparkan Tiga Program Utama

Tangerang Selatan, MINA – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPP Bahasa/Badan Bahasa) Kemendikbudristek RI tengah berfokus pada tiga program prioritas, yakni penguatan literasi kebahasaan dan kesastraan; perlindungan bahasa dan sastra daerah; dan internasiolisasi Bahasa Indonesia.

“Program prioritas Badan Bahasa kami kerjakan melalui pengawalan program KKLP (Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional) pada tujuh bidang,” kata Kepala Badan Bahasa Prof. E. Aminudin Azis dalam Kegiatan Riung Wartawan “Dua Tahun Kinerja Badan Bahasa” di Gedung Intermark Indonesia, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (1/7).

Dia menjelaskan tujuh bidang program KKLP sebagai pengawalan program prioritas Badan Bahasa yaitu KKLP perkamusan dan peristilahan; Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI); literasi; pembinaan dan bahasa hukum; penerjemahan; perlindungan dan permodernan; dan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

“Kami diberi amanah untuk memodernkan bahasa melalui pemerkaya kosakata, pemantapan dan pembakuan sistem bahasa, pengembangan laras bahasa, serta mengupayakan peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Ini bertujuan untuk meningkatkan jati diri dan meningkatkan daya saing bangsa,” ujarnya.

Dalam program literasi, BPP Bahasa berupaya menciptakan ekosistem masyarakat Indonesia yang berbudaya literasi terutama baca-tulis, diarahkan pada dunia pendidikan dan masyarakat umum.

“Badan Bahasa juga sudah menerjemahkan 1.375 buku cerita anak dari berbagai sumber, yang sangat membantu untuk bahan-bahan buku bacaan bermutu bagi literasi generasi muda. Buku terjemahan tersebut sudah dapat diakses di laman storywaver dan Lets Read Asia,” jelasnya.

Pada fokus kebijakan kedua, lanjut Amin, Badan Bahasa berupaya menjaga bahasa dan satra daerah agar tidak punah. “Hal ini dilandasi pada pemahaman ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga,” kata Amin.

Dia mengkhwatirkan jika sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah.

Dari berbagai aktivitas perlindungan bahasa daerah, prioritas diarahkan pada upaya menumbuhkan penutur muda melalui revitalisasi bahasa daerah.

“Dalam implementasinya, revitalisasi bahasa dilaksanakan berdasarkan model yang sesuai dengan situasi kebahasaan di wilayah tertentu,” tutur Amin.

Sementara pada fokus program prioritas ketiga, untuk mewujudkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, Amin memaparkan strategi diplomasi kebahasaan yang perlu ditempuh melalui peningkatan penyebaran bahasa Indonesia di berbagai ranah penggunaan dengan menggunakan berbagai pendekatan di berbagai bidang.

Pendekatan tersebut baik di bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, olah raga, ekonomi, investasi, politik, diplomasi, pertahanan, dan keamanan.

Untuk itu, selain mengelola program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dan penerjemahan, BPP Bahasa berkoordinasi dengan berbagai pihak yang relevan.

“Selain BIPA sudah diperkenalkan di 50 negara sejauh ini, kita juga ikut andil menjadi bagian tim penerjemah dunia dalam bidnag perbukuan. Tahun ini pun kami meneruskan hal baik ini dan berkejasama dengan UNESCO untuk penerjamahan buku-buku literasi,” pungkasnya.

Amin menambahkan Badan Bahasa juga mendorong penerjemahan buku-buku dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia agar gairah menulis kembali bahasa daerah tumbuh pesat.

Sejak kepemimpinan dipegang Prof. Endang Aminudin Azis yang berjalan selama dua tahun terakhir, Badan Bahasa telah melakukan banyak transformasi, baik dari segi kelembagaan maupun segi program.

Transformasi tersebut di antaranya terbentuknya Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa (Pustanda); peningkatan eselon Balai Bahasa; pembentukan jabatan fungsional widyabasa; dan penyelesaian kantor pusat Badan Bahasa.(L/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)