New Yaork, MINA — Ketegangan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat memuncak di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), setelah pertemuan darurat sejak Kamis (15/1) untuk membahas situasi kerusuhan di Iran.
Dalam pertemuan yang diminta oleh wakil Amerika Serikat di PBB, delegasi AS menegaskan dukungannya kepada rakyat Iran yang melakukan protes terhadap tindakan keras pemerintah, sambil menyatakan bahwa “semua opsi tetap ada di atas meja” untuk merespons represi yang terjadi di lapangan.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Washington mempertimbangkan berbagai langkah, termasuk kemungkinan tekanan lebih jauh jika kekerasan terus berlanjut.
Menanggapi pernyataan AS tersebut, utusan Iran di PBB menuduh Amerika menggunakan forum internasional untuk memanipulasi narasi dan mencampuri urusan dalam negeri Iran.
Baca Juga: Partai Demokrat Unggul Sementara dalam Pemilu Sela AS
Teheran menilai sesi dewan yang digelar ini sebagai upaya untuk mendiskreditkan pemerintah Iran dan menolak keras tuduhan tentang campur tangan eksternal dalam protes-protes yang terjadi.
Delegasi Iran juga menekankan bahwa kritik yang dilontarkan AS dan sekutunya tidak mencerminkan realitas di lapangan dan justru menunjukkan upaya Washington untuk mengalihkan perhatian dari kebijakan luar negerinya sendiri.
Pernyataan keras ini mencerminkan perbedaan fundamental pandangan antara Teheran dan Washington terkait akar dan solusi krisis yang sedang berlangsung.
Selain itu, beberapa anggota tetap Dewan Keamanan lainnya, termasuk Rusia dan China, turut menguatkan posisi Iran dengan mengecam retorika yang dinilai provokatif oleh AS. Mereka menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghindari penggunaan atau ancaman kekuatan yang bisa memperburuk situasi.
Baca Juga: Abaikan Larangan, Ratusan Pelajar Prancis Tetap Demo di Dekat Pantheon Paris
Pertemuan Dewan Keamanan ini berlangsung di tengah tekanan internasional yang lebih luas menyusul protes nasional di Iran yang telah berubah menjadi kerusuhan besar akibat kesulitan ekonomi dan represi pemerintah.
Sidang darurat dipandang sebagai refleksi meningkatnya kekhawatiran global atas dampak krisis ini terhadap stabilitas regional dan peran negara-negara besar dalam meresponsnya.
Kerusuhan di Iran bermula dari protes yang dipicu oleh kondisi ekonomi dan kemudian melebar menjadi tuntutan perubahan politik. Pemerintah Iran menghadapi kecaman keras atas tindakan kerasnya terhadap demonstran, sementara Amerika Serikat dan beberapa negara Barat mengecam pelanggaran hak asasi manusia di Iran.
Dalam konteks ini, hubungan bilateral antara Teheran dan Washington kian memburuk, dengan tudingan berbalas mengenai campur tangan asing, hak untuk protes, serta interpretasi atas hukum internasional di forum PBB.
Baca Juga: Menteri Transportasi Spanyol Mundur Usai Dua Kecelakaan Kereta Cepat dalam Setahun
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic