Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Nabi Sulaiman Memperbaharui Masjidil Aqsa

Ali Farkhan Tsani Editor : Bahron Ans. - 1 menit yang lalu

1 menit yang lalu

0 Views

Kompleks Masjidil Aqsa (Al-Maudhu)

Allah berfirman:

 وَلِسُلَيْمَـٰنَ ٱلرِّيحَ عَاصِفَةًۭ تَجْرِى بِأَمْرِهِۦٓ إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَـٰرَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَىْءٍ عَـٰلِمِينَ

Artinya: “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. Al Anbiya [21]: 81).

Surat Al-Anbiya ayat 81 menjelaskan tentang pemberitahuan, bagaimana Allah memberikan kekuasaan kepada Nabi Sulaiman bin Dawud  berupa ditundukannya angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintah Nabi Sulaiman, yang sekaligus juga sebagai raja diraja. Raja yang bukan hanya menguasai bangsa manusia, tapi juga menguasai bangsa binatang, angin, hingga bangsa jin.

Baca Juga: Fenomena Riya’ Digital: Bahaya Pamer Ibadah dan Gaya Hidup di Media Sosial

Di sini disebutkan, Nabi dan sekaligus Raja Sulaiman  tinggal dan berkuasa di negeri yang Allah berkahi, yaitu Palestina di kawasan Syam. Nabi Sulaiman diperkirakan hidup pada abad ke-9 Sebelum Masehi atau sekitar 989-931 SM.

Tentang Nabi Sulaiman, para pemuka Yahudi mengklaim bahwa ada peninggalan kuil (sinagog) Solomon (Nabi Sulaiman) yang mereka anggap sebagai lambang kekuatan. Mereka meyakini bahwa pondasi kuil tersebut berada di bawah Masjidil Aqsa.

Padahal, Masjidil Aqsa adalah masjid tempat beribadah kepada Allah. Nabi Sulaiman  pun berada di tempat itu untuk ibadah kepada Allah, bukan kuil atau sinagog.

Di samping itu, Masjidil Aqsa adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi ini setelah Masjidil Haram di Makkah.

Baca Juga: Tadabur Rekayasa Jalan Raya, Ikhtiar Menuju Keselamatan Berkendara

Tentang pembaharuan Masjidil Aqsa oleh Nabi Sulaiman , disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Abddullah bin Amr bin Ash, disebutkan:

إنَّ سليمانَ بنَ داودَ لمَّا بنَى بيتَ المقدِسِ ، سألَ اللهَ عزَّ وجلَّ خِلالًا ثلاثةً : سألَ اللهَ حُكمًا يُصادِفُ حُكمَه ، فَأُوتِيَه ، وسألَ اللهَ مُلكًا لا ينبَغي لأحدٍ من بعدِه ، فَأُوتِيَه ، وسألَ اللهَ حينَ فرغَ مِن بناءِ المسجدِ أنْ لا يَأْتِيَه أحدٌ لا يَنهَزُه إلَّا الصَّلاةُ فيهِ ، أن يُخرِجَه مِن خطيئَتِه كَيومِ ولدَتْهُ أُمَّه ، أمَّا اثْنَتانِ فقَد أُعطِيَهُما ، وأَرجو أن يكونَ قد أُعطِيَ الثَّالثةَ

Artinya : ”Sesungguhnya ketika Nabi Sulaiman bin Dawud membangun (kembali) Baitul Maqdis, (ia) meminta kepada Allah ‘azza wa jalla tiga perkara. (Yaitu), meminta kepada Allah agar (diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang menepati hukum-Nya, lalu dikabulkan; dan meminta kepada Allah dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan; serta memohon kepada Allah bila selesai membangun Masjid (Al-Aqsa), agar tidak ada seorangpun yang berkeinginan shalat di situ, kecuali agar dikeluarkan kesalahannya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya Adapun yang pertama dan kedua, maka telah diberikan. Dan aku berharap, yang ketiga (dikabulkan)”. (H.R. An-Nasa’i dari Abddullah bin Amr bin Ash).

Nabi Sulaiman adalah nabi utusan Allah, yang menyembah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang beribadah di Masjidil Aqsa. Bahkan Nabi Sulaiman  pula yang pertama kali dari kalangan nabi dan manusia yang menuliskan surat dengan Basmallah. Seperti diabadikan di dalam ayat-Nya:

Baca Juga: Bersaudara Karena Allah

إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَـٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ    

Artinya: “Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)-nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Naml [27]: 30).

Nabi Sulaiman  adalah nabi utusan Allah, yang pandai bersyukur di atas kekuasaan dan kekayaannya sebagai Raja dan kepemimpinannya sebaga Nabi. Di tengah kekuasaan yang luar biasa itu, Nabi Sulaiman  tidak sombong. Ia tahu bahwa semua yang ia miliki adalah amanah dari Allah, bukan hasil dari dirinya sendiri.

Pernyataan Nabi Sulaiman  tersebut, disebutkan di dalam Al-Quran:

Baca Juga: 7 Alasan Rakyat Palestina Yakin Indonesia Bantu Perjuangannya

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Artinya: Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.” (Q.S. An-Naml [27]: 40).

Nabi Sulaiman  begitu istimewa. Ia tak terlena oleh kekayaan. Ia tak buta oleh kekuasaan. Ia tetap taat dan tunduk kepada Allah. Hikmahnya, kita mesti begitu, selalu bersyukur atas segala karunia Allah, tidak sombong. Bahkan Nabi Sulaiman  senantiasa berdoa atas kesyukuran itu, seperti doa Nabi Sulaiman yang diabadikan di dalam Al-Quran:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

Baca Juga: Amal Baik vs Amal Banyak: Rahasia Hidup Bermakna Menurut QS. Al-Mulk Ayat 2

Artinya: Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (Q.S. An-Naml [27]: 19).

Kisah Nabi Sulaiman mengajarkan bahwa sehebat apa pun pencapaian manusia di dunia ini, tetap ada batas yang tak bisa dilampaui, kecuali dengan izin Allah. Nabi Sulaiman  diberi kerajaan yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya, seperti angin tunduk padanya, dan jin bekerja untuknya, bahkan hewan dan tumbuhan pun memahami bahasanya. Namun, Nabi Sulaiman  tidak pernah merasa lebih tinggi dari hamba-hamba Allah yang lain.

Justru, semakin besar karunia yang ia terima, semakin dalam rasa syukurnya. Ia senantiasa berdoa agar tetap dijaga dalam keimanan dan dijauhkan dari kesombongan. Baginya, semua yang dimiliki adalah titipan, bukan milik sejati. Ya, tugas seorang pemimpin bukan untuk membanggakan kekuasaan, melainkan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Dari keteladanan itu, kita diajarkan untuk tidak membiarkan harta, jabatan, atau kepandaian membuat kita lupa diri. Semua yang ada di dunia ini fana, dan hanya amal serta ketaatan yang kekal. Oleh karena itu, jika diberi kelebihan, jangan tinggi hati, gunakanlah kelebihan itu untuk memberi manfaat bagi sesama dan mendekatkan diri kepada Allah.

Baca Juga: 9 Fakta Mengejutkan: Tanda-Tanda Zionis Israel Menuju Kehancuran

Nabi Sulaiman  adalah cermin bahwa kemuliaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang kita punya, tetapi dari seberapa besar kita bersyukur dan tetap rendah hati. []

Mi’raj News Agency (MINA)]

Baca Juga: Kementerian Haji dan Umrah, Antara Harapan dan Kekhawatiran

Rekomendasi untuk Anda

Palestina
Indonesia
Indonesia
Kolom