Jakarta, MINA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyoroti pentingnya strategi yang matang dan adil dalam mencapai target iklim bebas karbon Indonesia pada tahun 2050.
Gus Yahya menekankan bahwa visi tersebut memerlukan perencanaan yang realistis dan berkelanjutan, mengingat banyak masyarakat yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
“Visi (bebas karbon pada 2050) adalah langkah ke depan yang harus dibangun dengan strategi yang tepat,” ujar Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta Pusat pada Kamis (6/6).
“Realitasnya, banyak masyarakat yang masih membutuhkan bahan bakar fosil karena itu lebih murah dan mudah didapat. Tidak bisa serta-merta diterapkan sebagai kebijakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat,” tambahnya.
Baca Juga: Sebanyak 8.065 Narapidana di Jakarta Terima Remisi Lebaran 2025
Gus Yahya juga menyoroti pentingnya transformasi teknologi dalam pemanfaatan energi. Indonesia harus menguasai teknologi energi bersih dan tidak boleh bergantung pada teknologi dari negara lain.
“Untuk transformasi pemanfaatan energi, kita membutuhkan transformasi teknologi. Maka harus ada strategi supaya kita ikut menguasai teknologinya. Jangan nanti kita tidak boleh pakai bahan bakar fosil tapi kita bergantung pada teknologi negara lain,” jabarnya.
“Kita harus tetap merdeka. Kita harus kuasai juga teknologinya, jangan bergantung pada teknologi orang,” imbuh Gus Yahya.
“Realitasnya, banyak masyarakat yang masih membutuhkan bahan bakar fosil karena itu lebih murah dan mudah didapat. Tidak bisa serta-merta diterapkan sebagai kebijakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat,” tambahnya.
Baca Juga: TNI Kembali Berangkatkan Bantuan Kemanusiaan untuk Myanmar
Gus Yahya juga menyoroti pentingnya transformasi teknologi dalam pemanfaatan energi. Ia menegaskan, Indonesia harus menguasai teknologi energi bersih dan tidak boleh bergantung pada teknologi dari negara lain.
“Untuk transformasi pemanfaatan energi, kita membutuhkan transformasi teknologi. Maka harus ada strategi supaya kita ikut menguasai teknologinya. Jangan nanti kita tidak boleh pakai bahan bakar fosil tapi kita bergantung pada teknologi negara lain,” jabarnya.
“Kita harus tetap merdeka. Kita harus kuasai juga teknologinya, jangan bergantung pada teknologi orang,” imbuh Gus Yahya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hingga H+1 Idul Fitri, 1,9 Juta Kendaraan Keluar Jakarta