Keutamaan Berbakti Kepada Ibu

Oleh: Siti Sa’adah Mahasiswa STAI Al Fatah Bogor, Reporter MINA

Selain beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, beruat baik kepada manusia adalah keutamaan yang harus kita laksanakan terutama berbuat baik kepada kedua orang tua, yang merupakan upaya untuk mendapatkan ridha dari Allah.

Dalam hal ini Allah berfirman pada Surat Al-Isra ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Isra/17: 23).

Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua dan melarang berbuat kasar atau menyakiti mereka, baik fisik maupun hatinya.

Terutama jasa seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa dan merawat kita dengan penuh kasih sayang. Maka sudah sepantasnyalah sebagai seorang anak kita menghormati dan memperlakukannya dengan baik serta mematuhinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, yang meriwayatkan sebagaimana berikut: Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “ Ibumu.” “ Lalu siapa lagi?” “ Ibumu.” “Siapa lagi?” “Ibumu.” “ Siapa lagi?” “Bapakmu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pengorbanan dan perjuangan seorang ibu berawal dari mengandung selama sembilan bulan dengan segala persiapan kasih sayang untuk menyambut kelahiran buah hati, menahan rasa sakit hingga nyawa yang menjadi taruhan saat melahirkan.

Setiapa kasih dan belaiannya tak pernah ada yang kurang. Terlebih menyusui dan merawat anak, itu bukanlah tugas yang mudah. Setiap kebutuhan yang diperlukaan anaknya, ibu juga berusaha untuk memenuhi tampa keluh dan kesah.

Karena itu, berbakti kepada ibu adalah keutamaan yang wajib kita penuhi, untuk mendapat ridha-Nya.

Seperti disebutkan di dalam hadits riwayat Ibnu Majah, An-Nasa’i, Ahmad, dan Ath-Thabarani. Bahwasannya Mu’awiyah bin Jahimah datang kepada Nabi SAW, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, dan aku datang untuk meminta petunjukmu.” Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau memiliki ibu?”, “Iya.” “Menetaplah dengannya, karena sungguh surga di bawah telapak kaki ibu”.

Itulah kewajiaban yang harus kita penuhi untuk mendapatkan ridha, yaitu berbakti kepada ibu.

Semoga kita selalu menjadi orang yang berbakti kepada kedua orang tua, terumata kepada ibu. Jasa ataupun gelar yang tidak akan pernah tergantikan adalah peran seorang ibu. Sehebat atau setinggi apapun gelar kita, tanpa kehadiran, perjuangan dan doanya tidak akan sampai. (A/SH/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)