oleh: Ust M Nurhamid, M.Pd, Mudir (pengasuh) Ponpes Al-Fatah, Cileungsi, Kab Bogor, Jawa Barat
بســم الله الرحمن الرحـيم
اَلْحَمْدُ لِلّهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ وَحْدَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى ألِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ اتَّبَعَهُ إِلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Baca Juga: Khutbah Idul Fitri: Mengokohkan Ukhuwah, Meneguhkan Dukungan untuk Pembebasan Al-Aqsa
مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَ مَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ وَ لاَحَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ، أَمَّا بَعْدُ:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (ال عمران:102)
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ (الروم:30)
Baca Juga: Khutbah Idul Fitri: Dengan Spirit Ramadhan, Kita Wujudkan Syariat Al-Jama’ah
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ قُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا *
فَـاعْلَمُوْا إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ, وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِى النَّارِ.
اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin, Rohimakumullah..!
Baca Juga: Komunitas Muslim Indonesia di Jepang Berbagi Kasih di Bulan Ramadhan
Alhamdulillah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada pagi ini kita dapat berkumpul di tempat ini dalam rangka melaksanakan ibadah shalat Idul Fitri 1 Syawwal 1446 H dengan penuh kegembiraan.
Gembira, karena pada hari ini kita telah berada pada hari yang fitri, hari yang penuh nikmat, penuh kegembiraan, sebagaimana sabda Nabi SAW:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثرَ نِعَمَهُ عَلَى عَبْدِهِ (رواه الترمذي)
“Sesungguhnya Allah menyukai terlihatnya dampak nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya.” (HR. At-Tirmidzi)
Baca Juga: Kemenag Rukyatul Hilal Sabtu, 29 Maret: Bukan Sekedar Melihat, Tapi Soal Pembuktian
Gembira, karena kita telah mampu menyelesaikan ibadah shaum sebulan penuh. Kegembiraan ini sebenarnya sudah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ، فَرْحَةٌ عِنْدَ إِفْطَارِهِ وَ فَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ (رواه البخارى و مسلم)
“Bagi orang yang shaum ada dua kegembiraan; kegembiraan tatkala berbuka puasa dan kegembiraan tatkala berjumpa dengan Tuhannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan gembira tatkala berbuka yaitu pada hari ini kita dapat melaksanakan hari raya dengan penuh kegembiraan, dan yang dimaksud dengan gembira tatkala bertemu dengan Allah, yaitu kelak kita menikmati semua pahala shaum pada hari akhirat. Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita kenikmatan-kenikmatan di dunia dan di akhirat kelak, aamiin.
Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal 1446 Senin, 31 Maret
Pada kesempatan Idul Fitri seperti saat ini, kita semua bergembira dan senang, Alhamdulillah. Kegembiraan itu manusiawi, boleh saja, tetapi tidak boleh berlebihan, jangan sampai membuat kita lupa diri, karena kita tidak tahu secara pasti, apakah ibadah shaum sebulan penuh yang telah kita laksanakan akan diterima oleh Allah Ta’ala, atau tidak. Masya Allah, Ramadhan telah berlalu. Kemudian apakah tahun depan kita masih menjumpai Ramadhan lagi, wallohu a’lam bis shwwab.
Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa ada seorang Ulama terdahulu, pada suatu hari raya wajahnya terlihat gundah gulana. Ada yang bertanya kepadanya: “Mengapa Anda gundah gulana dan bersedih, bukankah hari ini kita harus bersenang-senang dan gembira?” Dia menjawab, benar apa yang Anda katakan, tetapi saya ini adalah seorang hamba yang diperintahkan oleh Allah untuk mengerjakan suatu pekerjaan, saya tidak mengetahui apakah pekerjaan yang telah saya kerjakan ini diterima atau ditolak oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu pada pagi hari ini, marilah kita warnai kegembiraan kita dengan harapan dan doa;
تَقَبَّل اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ وَ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمٌ
“Semoga Allah mengabulkan ibadah shaum kita, menyempurnakan pahala kita, dan mengampuni segala dosa-dosa dan kesalahan kita. Semoga Allah Ta’ala membukakan pintu Arroyan untuk kita semua. Aamiin Ya Robbal Alamin.
ألله اكبر, ألله اكبر, و لله الحمد
Baca Juga: Memburu Datangnya Lailatul Qadar
Ma’asyiral Muslimin, Rohimakumullah..!
Pada hari ini kita Idul Fitri. Id berarti kembali dan Fitri berarti agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Fitri berarti kesucian. Suara hati nurani merupakan fitrah manusia, dan setiap orang memiliki fitrah bawaannya sejak lahir.
Suara hati itulah yang kita kumandangkan melalui takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Apabila kalimat-kalimat takbir itu benar-benar meresap dalam hati, maka nicaya hilanglah segala ketergantungan hati dan diri kita kepada selain Allah. Tiada tempat bergantung, tiada tempat berharap, tiada tempat mengabdi kecuali hanya kepada Allah, Allohus shomad (Allah tempat bergantung). Alllah Ta’ala berfiman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ. مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ (الروم:30-32)
Baca Juga: I’tikaf di Masjid At-Taqwa Cileungsi, Rasakan Kedamaian dalam Balutan Kehidupan Berjama’ah
Berdasarkan ayat ini, minimal ada empat point yang dapat kita ambil pelajaran untuk menjaga fitrah Allah, yaitu;
- kembali kepada pimpinan Allah secara mutlak,
- bertaqwa kepada Allah dengan ketaqwaan yang sesungguhnya,
- menegakkan shalat, dan
- meninggalkan perilaku orang-orang musyrik yaitu hidup berpecah belah.
Adapun kata fitrah merupakan gabungan dari tiga nilai: benar, baik, dan indah. Maka diharapkan dengan Idul Fitri ini kita dapat kembali kepada “kesucian”;
dengan fitrah, amal perbuatan kita akan berubah menjadi lebih benar,
dengan fitrah, semua tugas dan pekerjaan kita akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan membuahkan hasil yang seindah-indahnya.
Baca Juga: Merajut Kebersamaan dalam Iftar Multietnis, Kisah Harmoni PSMTI Pekalongan di Bulan Ramadhan
dengan fitrah pula, kita akan bersikap dengan sikap dan prasangka yang lebih positif (husnudzon), sehingga kita selalu mencari sisi baiknya, yakin kepada Allah, bahwa apa-apa yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala kepada kita merupakan pilihan yang terbaik, karena dilandasi dengan keyakinan terhadap kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, Allah berfirman:
وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُوْنَ (ألأعراف:156)
“dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156)
ألله اكبر, ألله اكبر, و لله الحمد
Baca Juga: Pintu Surga Bernama Ar-Royyan Buat yang Berpuasa Ramadhan
Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah..!
Rangkaian amaliyah Ramadhan, mulai dari shaum, shalat berjamaah lima waktu, shalat tarawih, tadarrus Al-Quran, sodaqoh Ramadhan, zakat fitrah, zikir dan berdoa, kemudian i’tikaf di masjid. Semua telah kita laksanakan dengan penuh perjuangan; lelah, letih, lapar, dahaga dan capek. Semoga Allah Ta’ala memberikan bonus kepada kita berupa lailatul qodar. Aamiin.
Melalui QS. Al-Baqarah ayat 183 s/d 187, Allah Ta’ala mengharapkan kepada kita, agar amaliyah Ramadhan itu dapat mengantarkan tujuan shaum yang sesungguhnya, yaitu la’allakum tattaqun, la’allakum tasykurun dan la’allahum yarsyuduun.
لعلكم تتقون, maka dengan shaum, agar kita meningkat taqwanya kepada Allah Ta’ala, meningkat tauhidnya (tidak lagi menjadi hamba benda), meningkat takutnya kepada Allah, meningkat dekatnya kita dengan Allah dan meningkat taatnya kita kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri.
Baca Juga: Doa Lailatul Qadar
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ (البقرة:183)
لعلكم تشكرون, maka dengan shaum, agar kita semakin bersyukur atas segala nikmat Allah Ta’ala:
….وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة:185)
Bersyukur artinya menempatkan karunia Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik berupa ilmu, harta, kesehatan badan maupun waktu yang Allah sediakan kepada kita.
Dengan nikmat ilmu, maka wujud syukurnya harus diamalkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan nikmat harta, maka wujud syukurnya kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan zakat, infak, sadaqoh, dan untuk membelajakan keperluan perjuangan di jalan Allah. Nabi SAW bersabda:
أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ، دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ» (رواه مسلم)
“Sebaik-baik (uang) dinar adalah yang diinfakkan oleh seorang laki-laki untuk keluarganya, (uang) dinar yang diinfakkan untuk kendaraan jihad fie sabilillah dan (uang) dinar yang diinfakkan untuk membiayai orang-orang yang sedang berjuang di jalan Allah.”[1]
Dengan nikmat sehat (kemampuan badan), maka wujud syukurnya adalah kita gunakan badan kita untuk beramal shalih, melaksanakan segala bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala.
dengan nikmat waktu (kesempatan), maka wujud syukurnya adalah kita habiskan semua kesempatan hidup kita hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Bagi kita yang pandai bersyukur, maka Allah akan memberikan dua pahala, yaitu:
Yang pertama, Allah akan menambah nikmatnya.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم:7)
Yang kedua, Allah akan menjaganya dari segala macam ancaman adzab dan fitnah.
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا (النساء:147)
لعلهم يرشدون agar kita memperoleh petunjuk kebenaran dari Allah Ta’ala.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّي فَإِنِّي قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة:186)
Untuk mendapatkan petunjuk kebenaran dari Allah, maka ayat ini memerintahkan kepada kita minimal ada tiga:
- agar kita banyak berdoa dan memohon kepada Allah Ta’ala.
- agar kita selalu memenuhi seluruh panggilan-panggilan (perintah) Allah Ta’ala.
- agar kita selalu beriman kepada AllahTa’ala (istiqomah dalam melaksanakan perintahnya).
Dari tujuan-tujuan shaum tersebut, maka Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani memaknakan Idul Fitri, dengan tanda-tanda diterimanya amal ibadah, pengampunan atas segala dosa-dosa, berlimpahnya pahala, dan meningkatnya derajat di sisi Allah Azza wa Jalla.[2] Ada sebuah ungkapan Arab berbunyi:
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لِبَسُ الْجَدِيْدُ وَ لَكِنَّ الْعِيْدَ لِمَنْ تَقْوٰىهُ يَزِيْدُ
“Bukanlah `id itu bagi orang yang pakaiannya baru, tetapi `id itu adalah bagi orang yang taqwanya bertambah.”
ألله اكبر, ألله اكبر, و لله الحمد
Ma’asyiral Muslimin, Rohimakumullah..!
Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ . وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (الإنشراح:7-8)
Ramadhan baru saja berpisah meninggalkan kita, bukan berarti ibadah kita sudah selesai, namun pasca Ramadhan justru tantangan kita lebih besar lagi, oleh karena itu dengan berbekal hasil Ramadhan (menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala). Maka dengan ketaqwaan kita, mari kita upayakan dalam bentuk taqwa yang sesungguh-sungguhnya. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (ال عمران/102)
Dengan taqwa yang sesungguhnya, kita dituntut oleh Allah Ta’ala setelah Ramadhan ini tidak saja meningkatkan ibadah mahdhoh (hablum minallah), tapi lebih luas lagi kita dituntut harus mampu mengaplikasikan taqwa itu dalam bentuk ibadah sosial (hablum minannas).
Problema umat Islam hari ini secara kesuluruhan (sedunia) masih menghadapi krisis ukhuwwah Islamiyah. Di dalam negeri sendiri, umat Islam masih dalam kondisi berpecah-belah, bercerai-berai, bergolong-golong dalam banyak bentuk organisasi dan perkumpulan, yang masing-masing golongan berpotensi saling mengklaim golongannya yang paling benar dan dikhawatirkan dapat menimbulkan terjadinya permusuhan.
Ma’asyiral Muslimin, Rohimakumullah..!
Marilah kita muhasabah diri, merenungi apa saja yang masih menghalangi hati kita dari kebeningan dan kemurnian. Iri, dengki, dan dendam merupakan racun yang harus dibuang. Sebab, hati yang penuh dengan noda, sulit bagi cahaya iman untuk masuk dan menerangi hati seseorang. Oleh karena itu marilah kita mengisi Idul Fitri ini dengan cinta dan persaudaraan dengan sesama kita. “Bukankah Rasulullah SAW bersabda, bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada rasa dengki?”
Marilah kita pererat tali persaudaraan kita, mari kita hilangkan segala rasa iri, dengki, dan dendam dengan sesama kita, walau keadaan kita berbeda-beda. Karena Allah tidak melihat diri kita dari segi warna kulit, harta kekayaan, dan tidak pula dari pangkat dan jabatan kita, tetapi Allah hanya akan melihat ketaqwaan kita masing-masing.
Di belahan dunia yang lebih luas, umat Islam hari ini masih menghadapi krisis keamanan, sebut saja umat Islam di Palestina yang sampai hari ini masih menghadapi genosida oleh zionis Israel negaranya belum kunjung merdeka.
Menurut berita dari Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 7 Oktober 2023 sampai dengan hari ini Maret 2025 telah menjadi korban tewas penduduk Palestina akibat agresi Israel mencapai 50.082 orang dan 113.408 terluka dan yang terbanyak dari kalangan anak-anak. Belum lagi rusaknya infrastruktur yang sangat parah hampir seluruh wilayah Gaza.
Sebagai bagian dari saudara kita sesama muslim yang pada hakikat persaudaraannya tidak terbatas oleh batas-batas negera, maka kita semua wajib membela dan menolong saudara-saudara kita di Palestina tersebut. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات/10)
Nabi SAW mengumpamakan gambaran persaudaraan sesama muslim itu bagaikan anggota badan:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه البخارى ومسلم)
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Di Palestina, tidak saja umat Islam yang sedang terzolimi, tetapi juga jauh lebih penting yaitu adanya Masjidil Aqsa yang merupakan masjid kiblat pertama umat Islam dan masjidnya para nabi yang sampai hari ini masih menjadi target utama bagi zionis Israel untuk dihancurkan.
Maka menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai umat Islam untuk menolong saudara-saudara kita di Palestina dan membebaskan Masjidil Aqsha dari cengkraman zionis Israel. Allohu Akbar, Al Aqsha Haqquna.
Masjidil Aqsha adalah salah satu tempat suci yang mulia, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ (الإسراء [١٧]: ١)
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS. Al-Isra: 1)
Dengan ayat ini mengingatkan kepada kita, bahwa Masjidil Aqsha milik umat Islam (Al Aqsha Haqquna) dan mempertahankannya merupakan amanah Allah Ta’ala yang wajib kita tunaikan.
Ma’asyiral Muslimin, Rohimakumullah..!
Masalah Palestina dan Masjidil Aqsha bukanlah semata-mata masalah politik internal negara Palestina itu sendiri (Penjajahan Israel atas Pelastina), tetapi masalah Palestina dan Masjidil Aqsha sebenarnya merupakan bagian dari masalah agama, yaitu terjadinya kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang kafir zionis Israel memerangi umat Islam (Palestina) secara berkepanjangan.
Karena umat Islam masih dalam kondisi berpecah belah yang mengakibatkan umat Islam sendiri menjadi sangat lemah, maka orang-orang kafir zionis Israel dengan mudah menguasai negara muslim Palestina, dimana mereka telah bersatu berskongkol saling bantu membantu satu sama lain (Israel kerjasama dengan Amerika dan skutunya) sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (الأنفال:73)
Maka sepantasnya dalam menghadapi perskongkolan zionis Israel ini, umat umat Islam harus segera bersatu dalam satu jamaah dan satu imaamnya agar menjadi kuat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَأَطِيْعُوْا اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ وَلاَ تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ ﴿الأنفال: 46﴾
“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal/8: 46)
Padahal umat Islam secara kuantitas jumlahnya cukup besar (mayoritas) tetapi karena masih bercerai-berai hanya memikirkan dirinya sendiri dan golongannya masing-masing karena cinta dunia serta takut mati (Al-Wahn), maka umat Islam menjadi lemah. Dalam hadits dari Tsauban dari Nabi SAW bersabda:
يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الْأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الْقَوْمُ إِلَى قَصْعَتِهِمْ» قَالَ: قِيلَ: مِنْ قِلَّةٍ؟ قَالَ: «لَا وَلَكِنَّهُ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ يُجْعَلُ الْوَهَنُ فِي قُلُوبِكُمْ، وَيُنْزَعُ الرُّعْبُ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ لِحُبِّكُمُ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَتِكُمُ الْمَوْتَ»﴿رواه أبو داود﴾
“Kamu sekalian hampir-hampir dikroyok sebagaimana dikeroyoknya hidangan makanan di atas meja oleh orang-orang yang kelaparan. Kemudian ada yang bertanya: Apakah kami ketika itu termasuk golongan yang sedikit? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: bahkan kamu Ketika itu adalah banyak jumlahnya, tetapi kamu seumpama buih di lautan. Allah mencabut dati hati musuh kamu rasa takut kepada kamu dan Allah menjadikan dalam hati kamu suatu penyakit “wahn”. Lalu ada yang bertanya lagi, Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan penyakit “wahn” itu? Rasul menjawab, yaitu cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)
Di sisi lain orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak suka kepada umat Islam sehingga umat Islam mengikuti agama mereka. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (البقرة:120)
Untuk itu sebagai umat Islam, kita di sini harus bertanggung jawab membela saudara-saudara kita sesama muslim di Palestina tersebut dan menjaga kelestarian masjid Al-Aqsha.
Melalui khutbah ini, kami mengajak kepada segenap kaum muslimin, marilah kita bersama-sama membantu saudara-saudara kita sesama muslim yang sedang terzalimi dan marilah kita menjaga masjidil Aqsha dari upaya pengrusakan oleh zionis Israel. Allohu Akbar, Al-Aqsha Haqquna.
Marilah kita terus menerus berdoa, memohon kepada Allah perlindungan bagi umat Islam dan Masjidil Aqsha di Gaza Palestina, serta bantuan muril dan materiel berupa infak untuk saudara-saudara kita di Gaza.
ألله اكبر, ألله اكبر, و لله الحمد
Jamaah Imaamah sebagai Solusi Krisis Umat
Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah..!
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menempatkan kedudukan umat Islam ini di antara umat manusia di dunia ini adalah sebagai umat yang tertinggi dibanding umat-umat lain (Al-Islaamu Ya’lu wala yu’la alaih) dan merupakan umat terbaik. Allah Ta’ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (العمران:110)
Maka mengapa keadaan umat Islam menjadi terpuruk dan dijajah oleh zionis Israel? Karena umat Islam belum dalam satu jamaah dan satu imaamnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا (ال عمران:103)
Dan Nabi Muhammad SAW memerintahkan dalam sabdanya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِاْلجَمَاعَةِ وَ إِيَّاكُمْ وَ اْلفُرْقَةِ (رواه الترمذي)
Dalam hadits lain, Nabi SAW memerintahkan kepada kita dalam menghadapi situasi fitnah dan dakhon, dengan sabdanya:
تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ ﴿رواه البخارى و مسلم و ابن ماجة ﴾
Maka jika umat Islam ini berada dalam Al-Jamaah, insya Allah mereka akan mendapat rahmat Allah Ta’ala. Rasul SAW bersabda:
أَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَ الْفُرْقَةُ عَذَابٌ ﴿رواه أحمد﴾
“…Al-Jamaah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.” (HR. Ahmad dari Nu’man bin Basyir)
ألله اكبر, ألله اكبر, و لله الحمد
Nasihat Khusus untuk Kaum Muslimat
Sebelum mengakhiri khutbah ini, perkenankan kami menyampaikan nasihat khusus untuk kaum muslimat sebagaimana nasihat Nabi SAW:
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ (رواه البخارى ومسلم)
“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena aku diperlihatkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah kalian.” Maka para wanita bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa demikian?’ Rasul menjawab, ‘Karena kalian banyak melaknat dan mengkufuri suami (tidak mensyukuri kebaikan suami).'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wahai kaum muslimat-mukminat:
Bertaqwallah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa,
janganlah berbuat syirik kepada Allah sekecil apa-pun,
jauhilah riba dalam berbagai urusan duniamu,
jagalah kehormatan-mu,
tutuplah auratmu dengan jilbab sesuai syari’at,
sempurnakanlah kekurangan agama-mu dengan memperbanyak shadaqah,
jadilah pendamping setia bagi suami-mu dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya, dan dalam berjuang di jalan Allah,
berhiaslah di depan suami-mu,
bersyukurlah atas kebaikan suami-mu sekecil apa-pun,
jadilah penjaga yang baik atas harta dan keluarga-mu,
makanlah selalu dengan harta yang halal.
Jauhilah sifat dengki dan saling mengumpat diantara kaum-mu.
Untuk mengakhiri khutbah ini, marilah kita tundukan hati kita dengan khusyu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ،
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا يُوَافِى نِعَامَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ ، يَا رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ اْلكَرِيْمِ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ و بَارِكْ عَلَى نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ اْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ أَلْأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتُ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
أَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ صَلاَتَنَا وَ رُكُوْعَنَا وَ سُجُوْدَنَا وَ تَضَرُّعَنَا وَ تَمِّمْ تَكْثِيْرَنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ إِنّك أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ اِلاَّ اللهُ أًسْتْغْفِرُ اللهَ أَسْأَلُكَ اْلجَنَّةَ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ،
أَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا يَا كَرِيْمٌ
اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءِ وَالْبَلاَءِ وَالْوَبَاءِ وَالـْمِـحَنِ وَ سُوْءِ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنِ في بَلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَفيِ بُلْدَانِ الـْمُسْلِمِيْنِ عَامَّةً. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. أَللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ فِى بِلاَدِ فِلِسْطِيْنَ خَاصَّةً وَ فىِ أَنْحَاءِ بُلْدَانِ المُسْلِميْنَ عَامَّةَ.
اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْكُفَّارِ الَّذِيْنَ يُحَارِبُوْنَ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ أَذِلِّ الشِّركَ وَ اْلمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ شَطِّطْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَمَزِّقْ حِزْبَـهُمْ وَاخْـتَلِفَ بَيْنَ قُلُوبِـهِمْ، اَللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ.
اَللَّهُمَّ اَحْيِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ (حِزْبَ الله) حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاتِلٍ وَ ظَاِلِمٍ وَ سُوْءٍ وَ مُنْكَرٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ,وَ صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
ألله اكبر, ألله اكبر, و لله الحمد
و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Mi’raj News Agency (MINA)