Jumat ini judul Khutbah Jumat adalah “Menatap Tahun Depan Lebih Baik dari Tahun Lalu”, yang ditulis oleh Ali Farkhan Tsani. Isinya mengajak jamaah untuk memperbaiki ibadah, akhlak, ekonomi, dan karier ke depan dalam ridha Allah. Jamaah juga diajak untuk optimis, istiqamah, dan taqarrub kepada Allah, termasuk mentadaburi hikmah dari berbagai bencana yang terjadi di tanah air.
الْـحَمْدُ لِلهِ الَّذِي خَلَقَ كُلَّ شَيْء فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا وَأَتْقَنَ مَا شَرَعَهُ وَصَنَعَهُ حِكْمَةً وَتَدْبِيْرًا،
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ إِلَى الْـخَلْقِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا،
Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan dan Al-Qur’an, Cahaya yang Menyinari Jiwa
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أمَّا بَعْدُ: عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ. فقال تعالى : يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hadirin sidang Jumah yang dimuliakan Allah
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, yang telah mempertemukan kita kembali dengan Sayyidul Ayyam, induknya hari dalam sepekan, yaitu hari Jumat. Hari Jumat juga menjadi hari ketika pahala sedekah dilipatgandakan oleh Allah, serta hari ketika doa-doa dikabulkan-Nya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa Ramadhan Membentuk Ketaqwaan Pribadi dan Sosial
Shalawat teriring salam marilah kita haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah mengantarkan manusia dari jaman jahiliyah menuju jaman yang penuh dengan keimanan dan keilmuan, minadz dzulumati ilan nuur.
Selanjutnya, melalui mimbar ini, khatib menyampaikan wasiat kepada diri dan keluarga serta hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah, agar kita senantiasa hidup bahagia, selamat dan sejahtera, di dunia hingga di akhirat kelak.
Allah mengingatkan kita di dalam firman-Nya :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Baca Juga: Khutbah Gerhana Bulan: Kebesaran Allah dan Ketaqwaan Manusia
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim (berserah diri kepada Allah)”. (QS Ali Imran [3] : 102).
Ayat ini mengandung perintah Allah kepada orang-orang beriman agar mensyukuri nikmat-nikmat-Nya yang besar, dengan cara bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, menaati-Nya dan meninggalkan kemaksiatan secara ikhlas karena Allah.
Pada ayat lain Allah berfirman:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلاً۬ سَدِيدً۬ا (٧٠) يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَـٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا (٧١)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Hubungan Puasa Ramadhan dan Jihad Pembebasan Al-Aqsa
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (QS Al-Ahzab [33]: 70-71).
Melalui ayat ini Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dalam seluruh kondisi, baik lahir maupun batin. Dari takwa itu Allah mengarahkan orang-orang beriman untuk berkata benar, yaitu perkataan yang sejalan kebenaran berupa bacaan dzikir, ucapan amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta mempelajari ilmu Al-Quran dan mengajarkannya.
Termasuk perkataan yang benar adalah berkata secara lembut, santun dan penuh kasih sayang dalam berbicara kepada orang lain, serta perkataan yang mengandung nasihat dan bimbingan kepada apa yang lebih maslahat.
Karenanya, takwa itu menjadi wasiat abadi sebab mengandung kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi terwujudnya kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Takwa merupakan kumpulan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan. Dengan takwa, seorang mukmin akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Tazkiyatun Nafs
Allah menyebutkan di dalam ayat:
إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]: 128).
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan selalu membersamai orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik, yakni mereka yang menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, dengan turunnya pertolongan, bantuan, dan taufik dari Allah kepada mereka.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Taqwa
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah
Perjalanan waktu seolah begitu cepatnya berjalan. Hari ke pekan, pekan ke bulan, bergerak ke tahun. Seperti hitungan detik. Seolah baru kemarin kita anak-anak, sekolah, remaja, berumah tangga. Dan kini tahu-tahu sudah punya anak bahkan cucu. Akselerasi tahun lama ke tahun baru berikutnya sedemikian cepatnya.
Hal ini menunjukkan semakin berkurangnya waktu hidup kita di dunia dan mengingatkan semakin dekatnya usia kita menuju alam akhirat. Maka, menjadi waktu terbaik untuk selalu introspeksi diri atas segala amal yang telah kita kerjakan, agar selalu semakin lebih baik dan lebih baik lagi.
Allah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Ramadhan
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ (١٨)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok [akhirat], dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Haysr [59]: 18)
Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah
Karunia waktu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kita seorang Muslim. Bahkan lebih berharga daripada harta dunia yang kita miliki. Karena harta dunia apabila hilang maka masih bisa kita cari. Sementara waktu apabila telah berlalu tidak mungkin untuk kembali lagi.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan
Sehingga tidak ada yang tersisa dari waktu yang telah lewat kecuali apa yang telah dicatat oleh malaikat. Baik buruk, besar kecil, semua tercatat sebagai amal kita.
Maka sungguh betapa ruginya orang yang tidak memanfaatkan waktunya untuk selalu menambah amal kebajikan, apalagi jika kemudian malah dipenuhi dengan kemaksiatan demi kemaksiatan. Rugilah kita jika tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya melalui ibadah, amal shalih dan brbagai kegiatan manfaat.
Allah mengingatkan kita tentang waktu dalam Surat Al-Ashr.
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Bulan Sya’ban, Jalan Menuju Cahaya Ramadhan
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1-3).
Hadirin rahimakumullah
Sebagai orang yang beriman kepada Allah, marilah kita menjadi orang yang menatap masa depan dengan perencanaan iman, bukan sekadar angan-angan. Tahun depan harus lebih baik dari tahun lalu, bukan hanya dalam urusan dunia, justru terutama dalam ibadah dan kedekatan kepada Allah.
Menatap tahun depan yang lebih baik dapat kita wujudkan dalam beberapa aspek:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menyambut Bulan Ramadhan dengan Gembira
- Lebih Baik dalam Ibadah
Marilah kita perbaiki shalat kita, perbanyak tilawah Al-Qur’an kita, biasakan dzikir dan doa kita, serta tingkatkan sedekah kita dalam membantu sesama yang memerlukan. Jangan sampai usia bertambah, tetapi amal ibadah tetap stagnan.
Kita harus selalu berprinsip bahwa semakin tambah umur, harus semakin baik pula amal kebaikannya. Seperti Rasulullah sebutkan di dalam haditsnya:
خَيْرُالنَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّالنَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَعَمَلُهُ.
“Sebaik- baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan bagus amalnya dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Hakim).
- Lebih Mulia dalam Akhlak
Akhlak adalah cermin iman. Lisan dijaga, tangan ditahan, hati dibersihkan dari dengki dan kebencian. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam sabdanya:
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (H.R. At-Tirmidzi).
Pada hadits lain dikatakan:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (H.R. At-Tirmidzi).
- Lebih Baik dalam Ekonomi dan Karier
Islam tidak melarang kita sukses secara duniawi. Justru setiap Muslim tidak boleh menjadi pengangguran, lalu menjadi beban orang lain, dan meminta-minta. Karena itu, bekerja dengan jujur, profesional, amanah, dan halal adalah bagian dari ibadah. Maka, jadikanlah karier kita sebagai sarana menebar manfaat, bukan kesombongan.
Di dalam hadits disebutkan:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” (H.R. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ad-Daruqutni).
- Optimis dan Istiqamah
Islam mengajarkan kita sikap optimism menghadapi masa depan. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Teruslah melangkah walau perlahan, selama istiqamah di jalan-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (H.R. Muslim).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sebagai pengingat tahun berlalu, kita dihadapkan pada berbagai bencana dan musibah di tanah air. Itu semua kiranya menjadi peringatan dan pelajaran, agar kita lebih arif dalam berkata dan bertindak, lebih peduli, lebih rendah hati, dan kembali kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang ada, sebagai pengingat untuk eningkatkan iman dan takwa kepada Allah. Aamiin. []
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
















Mina Indonesia
Mina Arabic