Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 5 Februari 2026 - 11:06 WIB

Kamis, 5 Februari 2026 - 11:06 WIB

49 Views ㅤ

Suasana khutbah Jumat di sebuah masjid di Indonesia (foto: Fpik)

oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan.

Seseorang akan mampu dan bersemangat menjalani ibadah di bulan Ramadhan jika mengetahui betapa besar keutamaan dan keistimewaannya.

Manusia akan bersungguh-sungguh ketika ia sadar bahwa yang sedang ia jalani bukan perkara biasa, melainkan kesempatan yang mungkin tidak datang lagi dalam hidupnya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Maka, barang siapa yang memahami kemuliaan dan keistimewaan bulan Ramadhan, ia akan menyambutnya dengan hati penuh rindu, semangat yang menggebu dan bukan sekadar rutinitas tahunan saja.

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Mengawali khutbah Jumat ini, khatib mengajak kepada diri sendiri dan seluruh jamaah semuanya untuk senantiasa bersyukur pada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala anugerah nikmat yang kita terima.

Sebagai bentuk syukur, mari kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bertakwa dalam ucapan, diyakini dalam hati sanubari dan diwujudkan dalam aktifitas kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari lagi, kita akan menyambut hadirnya bulan suci Ramadhan. Marilah kita sambut bulan mulia itu dengan hati yang penuh rindu, tekad untuk bertaubat dari segala dosa, mensucikan hati dari segala penyakit, dan menjadi pribadi yang lebih bertakwa dengan wasilah ibadah-ibadah di bulan Ramadhan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah [2] ayat 183, yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (البقرة [٢]: ١٨٣)

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Imam Ath-Thabari Rahimahullah menyatakan, maksud dari kalimat يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Karena puasa bulan Ramadhan menjadi bukti keislaman dan kesempurnaan iman seseorang.

Orang yang beriman akan mempersembahkan ibadah hanya kepada Allah semata, tidak akan sekali-kali menyembah selain-Nya.

Orang yang beriman adalah mereka yang berusaha mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam, meyakini adanya malaikat, meyakini dengan datangnya hari Kiamat, meyakini bahwa segala sesuatu yang ia alami, baik berupa nikmat maupun musibah, semuanya atas izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Barang siapa yang ragu dengan salah satu dari hal di atas, maka batal keshahihan imannya.

Pada akhir ayat di atas disebutkan kalimat لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ  menunjukkan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketakwaan inilah yang menjadi tujuan tertinggi dari seluruh ibadah di bulan Ramadhan, agar kita tidak hanya beribadah secara fisik, tetapi juga matang secara spiritual sehingga hidup seseorang menjadi lebih baik dan lebih mulia di sisi Allah .

Bulan Ramadhan adalah bulan latihan jiwa, melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, serta membersihkan hati dari penyakit-penyakit, seperti: egois, iri, sombong, dendam dan lainnya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Seseorang akan mampu dan bersemangat menjalani ibadah di bulan Ramadhan jika mengetahui betapa besar keutamaan dan keistimewaannya.

Manusia akan bersungguh-sungguh ketika ia sadar bahwa yang sedang ia jalani bukan perkara biasa, melainkan kesempatan yang mungkin tidak datang lagi dalam hidupnya.

Maka, barang siapa yang memahami kemuliaan dan keistimewaan bulan Ramadhan, ia akan menyambutnya dengan hati penuh rindu, semangat yang menggebu dan bukan sekadar rutinitas tahunan saja.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Di antara keistimewaan dan kemuliaan bulan Ramadhan yang perlu kita ketahui, dan menjadi inspirasi dan motivasi dalam beribadah di dalamnya antara lain:

Pertama, Dibuka Pintu Surga, Ditutup Pintu Neraka, dan Dibelenggu Setan-setan

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ (متفق عليه)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

“Apabila datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (Muttafaqun Alaihi)

Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan bahwa makna dibukanya pintu surga adalah dibukanya jalan ketaatan dan amalan shalih, sedangkan ditutupnya pintu neraka bermakna berkurangnya sebab-sebab maksiat di bulan Ramadhan.

Adapun setan dibelenggu, menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, bukan berarti setan hilang sama sekali, tetapi godaan mereka melemah, karena kaum mukmin sibuk dengan puasa, shalat Qiyamul lail , dan intens berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kedua, Diampuninya Dosa-Dosa yang Telah Lalu

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun Alaihi)

Jumhur ulama menegaskan bahwa ampunan dalam hadits tersebut ini mencakup dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat khusus (taubat nashuha).

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Ampunan itu akan ia peroleh dengan syarat, ada iman dalam dirinya, yakni keyakinan bahwa puasa adalah kewajiban dari Allah, dan ihtisaban artinya melakukannya dengan ikhlas, bukan karena ikut-ikutan atau ingin mendapat pujian dan sanjungan.

Ketiga, Pahala Puasa yang Luar Biasa Besar karena Allah  sendiri yang akan Membalasnya

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ (متفق عليه)

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (Muttafaqun Alaihi)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali Rahimahullah menjelaskan bahwa puasa disebut “untuk Allah” karena puasa adalah ibadah yang paling tersembunyi, tidak terlihat oleh manusia.

Karena itu, pahalanya tidak terbatas pada hitungan, sebagaimana amal lain yang biasanya dilipatgandakan 10 sampai 700 kali.

Puasa menjadi madrasah keikhlasan, yang melatih hati untuk bersandar hanya kepada Allah  semata, membersihkan hati dari riya’, dan membangun hubungan yang lebih jujur serta dekat dengan Sang Pencipta.

Itulah sebabnya puasa memiliki kedudukan istimewa, karena ia bukan sekadar menahan lapar, tetapi menumbuhkan ruh ketakwaan yang paling dalam.

Keempat, Kebahagiaan Ganda bagi Orang yang Berpuasa

Rasulullah ﷺ bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ (متفق عليه)

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya.” (Muttafaqun Alaihi)

Menurut Ibnu Hajar Al-Atsqalani Rahimahullah, kebahagiaan saat berbuka bukan semata karena makanan, tetapi karena seorang mukmin berhasil menyempurnakan ibadahnya.

Sedangkan kebahagiaan saat bertemu Allah  adalah kegembiraan tertinggi, karena puasa akan menjadi sebab kemuliaan dan pahala besar di akhirat.

Kelima, Masuk Surga Melalui Pintu Ar-Rayyan

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ… (متفق عليه)

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu bernama Ar-Rayyan, yang akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat…”(Muttafaqun Alaihi)

Pintu Ar-Rayyan adalah penghormatan khusus bagi ahli puasa, karena mereka telah menahan diri dari syahwat – meskipun itu halal – semata-mata karena Allah Ta’ala.

Semoga kita semua dapat berjumpa dengan bulan Mulia, bulan Ramadhan dan kita mampu beribadah dengan maskimal sehingga meraih derajat taqwa. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat