RAMADHAN memasuki hari-hari pekan terakhir. Perjuangan saudara-saudara kita di Masjidil Aqsa, Jalur Gaza, dan Palestina secara keseluruhan masih terus memerlukan bantuan kaum Muslimin di seluruh dunia.
Dalam kaitan ini, kita harus terus semakin memberikan doa dan dukungan untuk perjuangan saudara-saudara kita dan untuk pembebasan Masjidil Aqsa dan Palestina dari belenggu penjajahan.
Untuk itu, berikut hadir Khutbah Jumat bertema “Ramadhan, Persatuan Umat dan Pembebasan Al-Aqsa,” yang ditulis oleh Ustadz Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional, yang juga Redaktur Senior Kantor Berita MINA.
Berikut teks khutbah selengkapnya:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menyambut Idul Fitri dengan Mensyukuri Nikmat Ibadah Bulan Ramadhan
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْـمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ, وكُتِبَ عَلَيْنَا الصِّيَام اَلَّذِى هُوَ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ اْلاِسْلاَمِ
أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمِ الزِّحَامِ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى دَارِ السَّلاَم
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ وَمَصَابِيْحِ الظُّلاَمِ. أمَّا بعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ عَزَّوَجَلَّ اُوْسِيْنيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَااللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ , كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ , أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Baca Juga: Khutbah Jumat : Perkuat Perjuangan Pembebasan Al-Aqsa di Bulan Ramadhan
وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
وَقَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلاَّ مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ قَالَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِس
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah telah menyampaikan kita hingga menjelang detik-detik terakhir bulan suci Ramadhan ini.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan I’tikaf di Sepuluh Hari Akhir Bulan Ramadhan
Shalawat serta terkirim terkirim untuk baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta segenap keluarganya, para sahabatnya, dan pengikutnya yang istiqamah mengikuti sunnahnya.
selanjutnya, khatib sampaikan wasiat untuk diri khatib khususnya dan untuk hadirin sekalian dengan wasiat taqwa kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman–Nya :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim berserah diri kepada Allah”. (Q.S. Ali Imran [3] : 102).
Baca Juga: Khutbah Jum’at: Istiqamah Beramal Hingga Akhir Ramadhan
Hadirin yang dimuliakan Allah
Dari sekian banyak hikmah disyari’atkannya puasa Ramadhan adalah memperkokoh jalur komunikasi vertikal dari seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta. Sekaligus horisontal, memperhalus rasa mahabbah (kecintaan) kepada sesama, yang akan mampu menjalin hubungan persaudaraan umat Islam (ukhuwah Islamiyah), persatuan umat Islam.
Shoimun yang bergelar taqwa sebagaimana Allah janjikan “la’allakum tattaquun”, akan menjadi manusia yang gemar menolong dengan hartanya, baik pada waktu lapang maupun pada waktu sempit, dapat menahan amarah, mudah memaafkan kesalahan orang lain, serta suka berbuat baik.
Karena itu, sesungguhnya dampak puasa akan dirasakan manakala shaimun tersebut menjalin ikatan persaudaraan (ukhuwah) sebagai buah puasanya dengan sesama kaum beriman dalam satu kesatuan umat dalam satu kesatuan Jama’ah Muslimin yang tidak dapat dipecah-belah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Pengendalian Diri sebagai Esensi Puasa Ramadhan
Kasih sayang sesama orang beriman sebagai buah kasih sayang Allah Yang Maha Pemurah akan tertanam ke dalam hati, satu saudara, satu iman, satu aqidah, satu jama’ah muslimin, bagai tubuh yang satu (kal jasadil wahid).
Ruh “haqqo tuqootihi” (taqwa dengan sebenar-benar taqwa) sebagaimana Allah nyatakan dalam Surat Ali Imran ayat 102, diwujudkan dalam kehidupan berjama’ah, saling bersaudara (ikhwana). Seperti lanjutan ayat 103 Surat Ali Imran:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Q.S. Ali Imran [3] : 103).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan Bulan Al-Qur’an, Pedoman Hidup Orang Beriman
Hidup bersaudara, “ikhwanaa”, merupakan aplikasi dari kehidupan berjamaah.
Allah menegaskan di dalam ayat lainnya:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujurat [49] 10).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa Ramadhan dan Pendidikan Kesabaran
Di dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, menjelaskan bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu saling bersaudara dalam agama dan akidah. Berdamailah dengan saudara kalian saat terjadi perselisihan dan pertentangan. Bertakwalah kepada Allah saat terjadi perselisihan tentang hukum-hukum-Nya dan berlakulah sebagai penengah, supaya kalian dirahmati dan ditolong-Nya dalam menciptakan perdamaian, sebagai hasil dari ketakwaan kalian.
Jadi, hasil dari puasa Ramadhan adalah takwa kepada Allah, dan hasil ari takwa adalah menunjukkan persaudaraan sesama orang-orang yang beriman kepada Allah.
Hadirin rahimakumullah
Dengan persaudaraan itulah, maka kekuatan orang-0orang beriman semakin diperhitungkan. Jangan kalah dengan orang-orang kafgir yang saling menguatkan di antara mereka dalam memusuhi Islam dan Muslimin.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan Bulan Tarbiyah Hati dan Jiwa
Allah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shaff [61]: 4).
Pada ayat lain kita diingatkan:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Bersama Bulan Suci Ramadhan Meraih Gelar Takwa
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
Artinya: “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah menjadi diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (Q.S. Al-Anfal [8]: 73).
Terlebih dalam upaya pembebasan Masjidil Aqsa dan bangsa Palestina dari belenggu penjajahan Zionis Yahudi. Maka, tidak ada lain kecuali kita semua mempersatukan diri dalam satu kekuatan kaum Mukminin secara terpimpin semata-mata kerana Allah.
Sentral kepemimpinan umat Islam dalam kehidupan berjama’ah, menjadi suatu yang mutlak adanya, dalam juang kaum Muslimin keseluruhan. Wabil khusus juang dalam pembebasan Masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina, serta dalam membela kaum Muslimin tertindas di Rohingya, Uyghur, Kashmir dan di tempat-tempat lainnya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjadikan Bulan Ramadhan Istimewa
Dalam sebuah hadits dari Khudzaifah bin Yaman Radliallahu ‘Anhu disebutkan wujud kongkrit persatuan dan kesatuan umat Islam adalah dalam Jama’ah Muslimin beserta Imaamnya:
تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ
Artinya : “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Tentang perjuangan pembebasan Masjidil Aqsa di kawasan Baitul Masdis ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلاَّ مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ قَالَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِس
Artinya: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku kelompok yang selalu menolong kebenaran atas musuh mereka, orang-orang yang yang menyelisihi mereka tidak akan membuat mereka goyah kecuali orang yang tertimpa cobaa, sampai datang kepada mereka janji Allah Azza wa Jalla. Mereka bertany, “Wahai Rasulullah di manakah mereka?” Beliau menjawab, “Baitul Maqdis dan sisi Baitul Maqdis.” (H.R. Ahmad).
Oleh karena itu, marilah kita menjadi bagian dari orang-orang yang memuliakan, mempertahankan, menjaga dan mengawal Masjid Al-Aqsa di kawasan negeri yang disucikan Baitul Maqdis.
Memuliakan Masjidil Aqsa bukan semata tanggung jawab kaum Muslimin Palestina saja. Namun juga tanggung jawab seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia.
Di dalam hadis disebutkan:
عَنْ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ، فَقَالَ : ” أَرْضُ الْمَنْشَرِ والْمَحْشَرِ، إَيتُوهُ، فَصَلُّوا فِيهِ ، فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ . قَالَتْ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ نُطِقْ أَنْ نَتَحَمَلَ إِلَيْهِ أَوْ نَأْتِيَهُ ؟ , قَالَ : ” فَأَهْدِينَ إِلَيْهِ زَيْتًا يُسْرَجُ فِيهِ ، فَإِنَّ مَنْ أَهْدَى لَهُ كَانَ كَمَنْ صَلَّى فِيهِ
Artinya: “Dari Maimunah pembntu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Ya Nabi Allah, berikan fatwa kepadaku tentang Baitul Maqdis.” Nabi menjawab, “Tempat dikumpulkanya dan disebarkanya (manusia). Maka datangilah ia dan shalatlah di dalamnya. Karena shalat di dalamnya seperti shalat 1.000 rakaat di selainnya.” Maimunah bertanya lagi, “Bagaimana jika aku tidak bisa. “Maka berikanlah minyak untuk peneranganya. Barangsiapa yang memberikannya, maka seolah ia telah mendatanginya.” (HR Ahmad).
Dalam kaitan ini, kewajiban “mengirimkan minyak” agar menjadi penerang Masjidil Aqsa, sebuah kewajiban sepanjang masa. Tentu bukan sekedar mengirim minyak dalam arti harfiah. Namun, mengirim segala daya dan kemampuan, ilmu, ceramah, tulisan, statemen, harta, jiwa, raga, aksi-aksi, doa, dan semua yang Allah karuniakan untuk tetap terangnya Al-Aqsa dari penodaan musuh-musuh-Nya.
Dengan demikian, kehadiran bulan suci Ramadhan bukan hanya bermanfaat bagi peningkatan amal individu. Akan tetapi lebih luas lagi adalah merekatkan nilai-nilai persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiyyah), bagai satu bangunan kokoh yang saling menguatkan. Pada akhirnya akan memperkuat pembebasan Masjidil Aqsa dan kemerdekaan bangsa Palestina dari belenggu penjajahan.
Semoga kita dapat mengamalkannya sesuai kemapuan kita masing-masing. Semoga pula para pejuang dan rakyat Paleslina tetap solid dalam persatuan dan kesatuan, Allah beri pertolongan saudara-saudara kita di sana, dan Masjidil Aqsa dan Palestina dapat terbebas dari belenggu penjajan Zionis Yahudi. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. []
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Mi’raj News Agency (MINA)