Khutbah: Keutamaan Menulis, Penjaga Al-Quran dan Al-Hadits (Oleh: Rudi Hendrik)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اقرأ باسم ربك الذي خلق ۞ خلق الإنسان من علق

اقرأ وربك الأكرم ۞ الذي علم بالقلم

“Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mu adalah yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantara) pena.” (Q.S. Al-Alaq [96] ayat 1-4)

Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah perintah membaca, yakni bacalah dari hafalanmu. Jika tidak ada, maka dari tulisanmu. Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala menjelaskan bagaimana hendaknya kita mengobati penyakit ini, yaitu penyakit lupa. Cara mengobati penyakit lupa adalah dengan menulis.

Tulisan adalah salah satu bahan utama agar ibadah membaca bisa dilakukan. Maka, membuat tulisan sebagai bahan untuk membaca juga merupakan amal saleh.

Sedemikian penting dan besarnya peran pena dan apa yang ditulis oleh manusia, Allah sampai bersumpah menggunakan nama pena dalam Al-Quran Surat Al-Qalam (68) aya 1.

نٓ‌ۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.”

Al-Qurtuby rahimahullah berkata, “Bagi Allah bersumpah dengan apa yang disukai dari makhluk-Nya, baik hewan dan makhluk padat. Meskipun tidak diketahui hikmah hal itu.” (Al-Jami Liahkamil Qur’an, 19/237)

Salah satu nama Al-Quran adalah  al-kitab. Bahkan, penyebutan kata al-kitab jauh lebih banyak dibandingkan dengan kata Al-Quran di dalam kitab suci Al-Quran sendiri. Kata “al-kitab” disebutkan sebanyak 230 kali, sedangkan kata “al-qur’an” hanya disebutkan sebanyak 58 kali.

Al-Quran berarti “bacaan” sedangkan al-kitab berarti “tulisan”. Lebih banyaknya peggunaan kata al-kitab daripada Al-Quran menunjukkan tingginya anjuran Al-Quran untuk menulis tanpa mengenyampingkan pentingnya membaca pada saat yang sama.

Allah Yang Mahasuci menjadikan pekerjaan menulis sebagai salah satu bagian utama dalam menertibkan makhluknya dan menjadikannya dokumentasi sebagai bukti di saat Dia mengadili seluruh hamba-Nya.

Dua malaikat utama Allah memiliki tugas mencatat seluruh amalan seorang hamba. Catatan yang ditulis oleh para malaikat ternyata menjadi pengingat bagi manusia ketika catatan mereka dibuka di Hari Persidangan oleh Allah Yang Mahatahu.

Di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam para sahabat dilarang menulis sabda-sabdanya, karena dikhawatirkan terjadi tumpang tindih antara ayat Al-Quran dan sabda Nabi, sehingga para sahabat hanya menulis ayat-ayat Al-Quran di berbagai benda. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam justru berlaku khusus kepada sahabat muda ahli ibadah Abdullah bin Amr, putra ahli strategi perang Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu.

Ketika kebanyakan orang masih buta huruf, sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu sudah mahir baca dan tulis. Ia memiliki kebiasaan yang tidak umum dilakukan oleh para sahabat, ia gemar sekali mencatat sabda-sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, usianya masih 17 tahun.

Ketika Abdullah bin Amr dikeluhkan oleh para sahabat lain karena gemar menulis sabda-sabda Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ia menghadap Nabi untuk berkonsultasi.

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu kemudian diperintah oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Tulislah! Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran.”

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ

“Tidak ada seorang pun dari shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang paling banyak (meriwayatkan) hadits dari Beliau (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) selain aku, kecuali dari Abdullah bin Amr, karena ia dahulu menulis, sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Bukhari no.113)

 

Tulisan yang menjaga Al-Quran

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, penyandaran pada hafalan lebih banyak daripada penyandaran pada tulisan, karena hafalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sangat kuat dan cepat, di samping sedikitnya orang yang bisa baca tulis dan sarananya. Oleh karena itu, siapa saja dari kalangan mereka yang mendengar satu ayat, dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana seadanya di pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta. Jumlah para penghapal Al-Quran sangat banyak.

Namun, demi menjaga keberadaan Al-Quran setelah perang Yamamah banyak membunuh para sahabat penghafal Al-Quran, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mendesak Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk mengumpulkan catatan-catatan Al-Quran.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan, mulanya Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu.

Abu Bakar lalu memanggil Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Dengan didampingi Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid, “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka sekarang carilah Al-Quran dan kumpulkanlah!”

Zaid berkata, “Maka aku pun mencari dan mengumpulkan Al-Quran dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang. Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar radhiyallahu ‘anhuma.”

Sampai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Orang yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Quran adalah Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Bakar, karena dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Di masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, demi menyelamatkan umat dari fitnah berselisih dalam dialek membaca Al-Quran, Khalifah menyetujui masukan sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu.

Maka Khalifah Utsman memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf yang ada menjadi satu versi mushaf, sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya dan tidak mempertengkarkan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu akhirnya berpecah belah.

Demikianlah, begitu pentingnya peran menulis di dalam Islam sehingga menjadi cara untuk menjaga kelestarian Al-Quran dalam bentuk fisiknya hingga kini. Demikian pula dengan sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bisa kita baca dan hafal saat ini karena dituliskan sejak awal. (A/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)