Kisah Pembangunan Masjid di Lombok: Sulitnya Mencari Sumber Air

Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Tim tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bahagia melihat air bersih mengalir mengisi ground tank yang berada di halaman sekolah di mana masjid yang sedang dibangun oleh Divisi Konstruksi MER-C tengah dibangun.

“Kami sangat terharu, sampai meneteskan air mata saking senangnya ada air. Pihak sekolah juga bersyukur, setelah sekian lama permasalahan air akhirnya bisa teratasi. Baru kali ini air bening, air bersih bisa masuk ke dalam sekolah,” ucap Nur Ikhwan, Site Manager Pembangunan Masjid di Lombok.

Air memang menjadi satu kendala di lokasi pembangunan masjid -bantuan dari masyarakat Indonesia melalui MER-C-, yang terletak di SMP 3 Kayangan, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sejak dulu, baik sekolah SMP 3 Kayangan beserta masyarakat warga desa, kendala kesehariannya adalah air yang sangat sulit. Kebanyakan warga desa mengandalkan beberapa sumber air yang berasal dari saluran irigasi, namun airnya sangat terbatas, tidak layak konsumsi dan jadwalnya tidak teratur.

“Sumber air pertama berjarak 2,5 km dari lokasi masjid. Air ini yang sebelumnya dimanfaatkan tim dan warga sekitar untuk keperluan pekerjaan pembangunan dan keperluan sehari-hari. Karena air irigasi, selain untuk tanaman, persawahan dsb, juga dimanfaatkan warga untuk minum ternak, mencuci, dsb,” ujar Nur Ikhwan.

“Di awal kami agak kesulitan beradaptasi dengan air ini, hampir semua mengalami gatal-gatal di kulit karena memang sumbernya dari irigasi. Kendala lainnya adalah jadwal pengalirannya yang kurang diperhatikan, kadang rebutan hingga ada kejadian pengrusakan pipa-pipa sehingga hampir beberapa waktu air tidak bisa masuk ke desa ini,” tambahnya.

Sumber air ke-2 menurut Nur Ikhwan, berasal dari arah barat. Namun, lagi-lagi kendalanya adalah pengaturan atau jadwal pengalirannya yang kurang diperhatikan oleh pengurus.

Kemudian timbul ide dari Tim MER-C untuk melakukan pengeboran guna mencari sumber air bersih bagi keperluan masjid, sekolah dan warga sekitar. Dari informasi yang didapat, ada dua perusahaan yang biasa melakukan pengeboran di daerah Gumantar, asalnya dari Mataram.

“Baik perusahaan bor pertama maupun kedua mengatakan bahwa daerah Gumantar adalah daerah yang sulit untuk mencari air. Kedalaman bor harus minimal 100 m ke bawah, baru kemungkinan ada air, itupun terkadang tidak ada,” kata Nur Ikhwan, relawan yang pernah bertugas di Jalur Gaza – Palestina tersebut.

“Harga yang ditawarkan pun cukup fantastis, mencapai hampir 200 juta rupiah Mereka akan mengebor hingga kedalaman 110 m, namun tidak menjamin sepenuhnya akan ada air, kalaupun ada air, debitnya sangat sedikit. Sehingga kalau dipaksakan, jika tidak ada, maka akan sia-sia,” jelasnya.

Tidak putus asa, relawan asal Lampung ini bersama Tim terus mencari alternatif sumber air lainnya. Ada sumber air dari PAM, namun pihak sekolah agak keberatan karena biaya operasional sekolah yang minim, sehingga pihak sekolah khawatir akan sulit nanti ke depannya untuk membayar biaya air PAM. Alterhatif ini pun tidak dipilih.

Akhirnya Tim mendapat informasi bahwa ada satu pipa lagi yang diurus secara lebih baik, yaitu sambungan pipa dari gunung. Jadi airnya benar-benar dari sumber mata air di gunung. Awalnya, Tim ingin memasang dan mempunyai pipa air sendiri dari gunung.

Namun, setelah dihitung-hitung jaraknya lumayan jauh, yaitu 4 – 5 km dari gunung, bisa habis ratusan juta juga. Akhirnya setelah meminta arahan dan berdiskusi dengan MER-C Pusat Jakarta, diputuskan untuk menyambung dari pipa terdekat milik warga yang sudah ada. Jaraknya kurang lebih 200 m dari ground tank sekolah/masjid.

“Bersama pihak sekolah, Tim MER-C lebih dahulu menemui pengurus sumber air gunung, baik pengurus bagian hulu, tengah dan hilir. Kami duduk bersama dan meminta untuk bisa menyambungkan pipa. Alhamdulillah pengurus menyetujui. Kami pun meminta semacam jaminan dari pengurus agar air ini bisa masuk ke dalam sekolah sehingga bisa dimanfaatkan untuk sekolah, masjid dan warga sekitar,” ujarnya.

Akhirnya, kata Nur Ikhwan yang pernah memimpin pembangunan RSI di Rakhine State/Rohingya, Myanmar itu, maka dibuat surat pernyataan yang ditanda tangani bersama antara pihak pengurus, pihak sekolah, dan dari MER-C.

Setelah adanya izin, Tim membeli pipa-pipa. Kemudian bersama warga sekitar dan anak-anak sekolah, Tim bergotong royong memasang dan menyambung pipa.

Sementara itu, ground tank sekolah yang tadinya pecah, lumayan hancur dan lumpurnya tebal karena lama tidak digunakan, juga bersama-sama dibersihkan dan diperbaiki dengan menambahkan adukan beton, kawat, diaci dan diberikan waterproof agar tidak bocor.

“Sudah beberapa hari ini kita coba isi ground tank. Alhamdulillah, air mengalir lancar dan deras, sehingga untuk memenuhi groud tank dengan panjang 6 m, lebar 3,7 m, dan kedalaman 1,8 m, dalam 2- 3 jam sudah bisa terisi penuh,” ucap Nur Ikhwan penuh rasa syukur.

“Intinya kita di darah lain yang banyak air harus benar-benar bersyukur, daerah lainnya di Indonesia mungkin hanya menggali 8 – 10 m sudah mendapat air. Kalau di sini, Subhanallah, air sebagai sumber kehidupan sangat sulit didapat. Kami sempat membeli air di awal-awal pembangunan, menampung air irigasi bahkan air hujan dengan membuat kolam penampungan dari terpal. Air sekecil apapun tetap kami tampung karena sangat berharga,” kenang Nur Ikhwan.

Ia berpesan, untuk bersama-sama bersyukur kepada Allah atas nikmat air yang luar biasa, karena tanpa air kita tidak bisa hidup. Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih banyak atas sumbangan, dan bantuan dari semua pihak, sehingga air yang dibutuhkan sekolah, masjid dan warga sekitar bisa terlaksana.

“Mudah-mudahan menjadi amal jariyah yang akan mendapat ganjaran besar dari Allah karena sudah menyediakan air bagi kebutuhan masyarakat dan umat manusia,” pungkasnya.

Sementara itu, proses pembangunan masjid di Lombok sudah mencapai 90% lebih, ditargetkan minggu pertama Oktober bisa selesai, pekan berikutnya masjid bisa diresmikan dan diserahterimakan untuk dimanfaatkan bagi warga sekolah dan masyarakat setempat. (R/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)