Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Relawan UAR Menghidupkan Ramadhan di Aceh Tamiang

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 24 Februari 2026 - 15:38 WIB

Selasa, 24 Februari 2026 - 15:38 WIB

8 Views ㅤ

Kebersamaan relawan UAR menyiapkan makanan untuk buka dan sahur di Aceh Tamiang (foto: MINA)

BULAN Ramadhan tahun ini menghadirkan suasana berbeda di desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Di tengah kesederhanaan kampung yang pernah merasakan getirnya bencana dan keterbatasan air bersih dan kebutuhan dasar lainnya, hadir sekelompok relawan dari berbagai kota di Pulau Jawa. Mereka datang bukan membawa nama besar, melainkan membawa cinta dan kepedulian.

Relawan itu tergabung dalam Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR), sebuah tim kemanusiaan yang selama ini dikenal aktif bergerak di berbagai wilayah terdampak bencana dan daerah yang membutuhkan sentuhan sosial.

Perjalanan mereka ke Aceh Tamiang bukanlah perjalanan singkat. Dari Wonogiri, Bogor, Tangerang, dan daerah lainnya, mereka menempuh jarak hingga sekitar 1.800 kilometer demi satu misi: menghidupkan Ramadhan bersama masyarakat.

Aceh bukan wilayah yang asing dengan ujian. Provinsi ini pernah diguncang gempa dan tsunami besar 2004 silam, yang menyisakan luka panjang. Beberapa tahun terakhir, banjir juga kerap melanda sejumlah kabupaten, termasuk Aceh Tamiang. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, kehadiran relawan menjadi oase yang menyejukkan.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Di Tanjung Karang, UAR menjalankan program makan berbuka dan sahur gratis selama sebulan penuh. Setiap hari, sebanyak 460 bungkus makanan disiapkan dan dibagikan kepada warga. Sejak sore hari, dapur umum mulai sibuk. Nasi ditanak, lauk dimasak, sayur dipersiapkan, semuanya dilakukan dengan gotong royong.

Ketika azan Maghrib berkumandang, ratusan warga menikmati hidangan yang tersaji. Anak-anak duduk berjejer, para orang tua tersenyum penuh syukur. Bagi sebagian keluarga, bantuan ini sangat berarti di tengah kondisi ekonomi yang terbatas.

Tak hanya soal makanan, relawan UAR juga menghadirkan layanan kesehatan gratis. Bekam, fashdu, pijat refleksi, hingga terapi akupuntur diberikan kepada warga. Lansia yang mengeluhkan pegal bertahun-tahun, para pekerja yang tubuhnya letih, mendapat perhatian yang mungkin jarang mereka rasakan sebelumnya.

Respons masyarakat begitu hangat. Warga menyambut kehadiran para relawan dengan tangan terbuka. Beberapa di antaranya bahkan ikut membantu di dapur umum dan dalam distribusi makanan, menciptakan suasana kebersamaan yang menguatkan.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Menghidupkan Meunasah, Menguatkan Harapan

Selain program sosial dan kesehatan, UAR juga menghidupkan kembali aktivitas ibadah di meunasah setempat. Shalat berjamaah digiatkan, kultum Subuh dan kultum Tarawih rutin disampaikan, serta berbagai program Ramadhan digelar untuk anak-anak dan remaja.

Meunasah As-Syura yang sebelumnya tak selalu ramai, kini dipenuhi jamaah. Suara lantunan Al-Qur’an kembali terdengar lebih hidup. Anak-anak bersemangat datang, bukan hanya untuk belajar, tetapi juga merasakan suasana kebersamaan yang jarang mereka dapatkan.

Di sela aktivitas Ramadhan, relawan turut membantu penyediaan air bersih bagi warga. Beberapa fasilitas seperti toilet meunasah dan toilet warga yang rusak diperbaiki secara bertahap. Bagi masyarakat, bantuan ini sangat membantu dalam menjaga kebersihan, terlebih di bulan suci.

Kiprah UAR di Aceh Tamiang bukanlah yang pertama. Sebelumnya, mereka juga terlibat dalam berbagai aksi kemanusiaan, mulai dari respons bencana banjir di sejumlah daerah di Jawa, distribusi bantuan untuk korban gempa, hingga program sosial di pelosok desa.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Konsistensi itu membuat kehadiran mereka bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian dari komitmen jangka panjang, menebar cinta dan kasih sayang serta kepedulian kepada sesama.

Para relawan mengaku, Ramadhan menjadi momentum untuk memperkuat makna pengabdian. Mereka meninggalkan keluarga di kampung halaman, memilih menghabiskan waktu sahur dan berbuka bersama warga yang baru mereka kenal. Namun justru di sanalah mereka menemukan keluarga baru dalam ikatan ukhuwah (persaudaraan).

Bagi warga Tanjung Karang, Ramadhan kali ini bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan kebersamaan yang lebih terasa. Kehadiran UAR membawa semangat bahwa mereka tidak sendiri menghadapi keterbatasan.

Ketika nanti Ramadhan berakhir dan para relawan kembali ke kota asalnya, mungkin dapur umum akan berhenti mengepul dan kegiatan harian kembali seperti biasa.

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Namun jejak kepedulian yang mereka tinggalkan akan terus hidup, dalam doa-doa warga, dalam meunasah yang kembali ramai, dan dalam hati yang semakin yakin bahwa di negeri ini, masih banyak tangan yang siap menggenggam tangan saudaranya yang tertimpa musibah dan bencana.

Apa yang dilakukan para relawan ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa Ramadhan adalah tentang berbagi dan menguatkan. Masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan, yang menanti uluran tangan, yang berharap ada yang peduli pada kesulitan mereka.

Jika langkah kaki para relawan UAR mampu menempuh ribuan kilometer demi menghadirkan sepiring makanan dan setetes harapan, maka sesungguhnya kita pun mampu mengambil bagian—melalui doa, dukungan, dan donasi terbaik yang Allah titipkan kepada kita.

Bisa jadi, di bulan penuh berkah ini, satu kebaikan kecil yang kita berikan akan menjadi cahaya besar bagi mereka yang sedang berjuang bangkit dari luka dan bencana. []

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda