Kisah Sayyida Al-Hurra, Muslimah yang Dijuluki Ratu Bajak Laut

Perjalanan Islam sejak diutusnya Nabi Muhammad Saw hingga sekarang penuh dengan ukiran tinta emas nan memesona para tokoh-tokohnya. Jejaknya dipenuhi dengan kilauan cahaya yang membuat generasi setelahnya takjub. Salah satu permata yang hadir dalam catatan sejarah itu adalah Sayyida al-Hurra. Ia dikenal wanita tangguh juga legendaris dalam sejarah Islam.

Sosok Sayyida al-Hura dilahirkan dari keluarga Muslim yang lumayan terpandang di wilayah Andalusia sekitar tahun 890 hijriyah atau bertepatan 1485 masehi. Namun, pada saat dirinya berusia tujuh tahun, Sayyida al-Hurra harus terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Hal itu karena Ferdinand dan Isabella melakukan ekspansi ke kerajaan-kerajaan Islam, termasuk Andalusia.

Nama asli Sayyida tidak diketahui dan nama Sayyida al-Hurra adalah sebutannya karena sifatnya yang kuat dan berani. Sayyida al-Hurra artinya wanita mulia yang bebas dan mandiri, wanita berdaulat yang tidak tunduk pada otoritas superior. Ia menjadi orang terakhir dalam sejarah Islam yang memegang gelar al-Hurra atau ratu.

Ketika Ferdinand dan Isabella melakukan ekspansi ke wilayah Andalusia, Sayyida al-Hurra dan keluarganya, beserta umat Muslim lainnya memilih berpindah ke Maroko. Dalam catatan Women in Islam-Exploring New Paradigms, Sayyida al-Hurra menetap di Maroko, kemudian saat usia 16 tahun, ia menikah dengan Abu Hassan al-Mandari, seorang gubernur dari Tetouan, sebuah wilayah di utara Maroko.

Mengawali perjalanan spiritualnya sebagai salah satu tokoh Islam yang dikagumi, Sayyidah al-Hurra setia mendampingi sang suami. Sayangnya, belum lama bersama, tepatnya tahun 1515 masehi, suami Sayyidah al-Hurra kembali kepada pangkuan Sang Khalik. Kini, ia pun memimpin Tetouan menggantikan mendiang suami yang kemudian dikenal sebagai Hakima Tatwan atau Gubernur Tetouan.

Sebagai seorang gubernur perempuan, kepemimpinan Sayyida al-Hurra sungguh mengagumkan. Ia bahkan mendapat pujian dari Ratu Spanyol Isabella sebagai perempuan Andalusia yang kuat. Sayyida al-Hurra juga dikenal cerdas dalam memainkan taktik politik dan diplomasi untuk melawan agresivitas orang-orang Spanyol dan Portugis.

Seiring berjalannya waktu, populasi Muslim dari Andalusia yang menyeberang ke wilayah Maroko semakin banyak. Karena sejumlah alasan, termasuk untuk melawan Ferdinand dan Isabella yang menaklukkan kerajaan Islam Granada, Sayyidah al-Hurra kemudian berusaha keras dan berjuang bersama rakyatnya. Ia menjadikan Tetouan sebagai pangkalan utama angkatan laut melawan orang-orang Spanyol dan Portugis, demi merebut kembali tanah kelahirannya. Ini menjadi langkah awal Sayyida mengemban gelar ‘ratu bajak laut’.

Gelar ‘ratu bajak laut’ yang disandang Sayyida al-Hurra pun sering dianggap berasal dari dirinya sendiri. Ia bersekutu dengan Barbarossa al-Algeirs, seorang Kanselir Turki untuk menguasai jalur laut Eropa dan Timur Tengah. Wanita berhijab ini kemudian berhak atas sebagian besar laut Mediterania Barat bersama armada bajak lautnya, yang ia gunakan untuk mendominasi kapal-kapal Spanyol dan Portugis.

Lama menikmati kesuksesannya sebagai ratu bajak laut, Sayyida al-Hurra akhirnya menjatuhkan pilihan untuk menikah dengan raja Maroko, penguasa Fes Ahmed al-Wattasi. Namun, Sayyida tidak pernah berniat menyerahkan kekuasaannya, justru ia meminta sang Raja untuk datang ke Tetouan. Itu adalah kali pertama dan satu-satunya dalam sejarah Maroko seorang raja tidak menikah di ibu kota.

Selama 30 tahun Sayyida al-Hurra menjadi ratu bajak laut dengan target menyerang kapal Spanyol dan Portugis. Seperti dituliskan dalam artikel yang diterbitkan The New Arab, sekitar tahun 1540 masehi ia juga sempat menjadi bagian dari serangan bajak laut besar-besaran di wilayah Gibraltar.

Sayyida al-Hurra pun menjadi sosok yang membuat gentar Eropa kala itu. Kepemimpinannya sebagai ratu bajak laut tak terbantahkan kehebatannya. Hingga akhirnya Sayyida al-Hurra harus tumbang di tangan menantu lelakinya, Moulay Ahmed al-Hassa al-Mandari.

Dikutip dari Aramco World, tahun 1542 masehi sang menantu melakukan pemberontakan melawan kepemimpinannya. Sayyida al-Hurra kemudian kembali ke wilayah Chefchaouen, sebuah kota di barat laut Maroko, untuk tinggal di sana hingga akhir hayat. Wanita tangguh itu mengembuskan napas terakhir di tahun 1561 masehi. (A/R2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)