Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Tatang Asy’ari dari Lorong ke Lorong Istiqamah di Jalan Dakwah

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 26 Februari 2026 - 14:02 WIB

Kamis, 26 Februari 2026 - 14:02 WIB

48 Views

TAK banyak yang tahu bahwa Tatang Asy’ari, pria asal Karangnunggal, Tasikmalaya ini, pernah menghabiskan masa-masa mudanya berkeliling dari lorong ke lorong demi menyambung hidup di Kota Pahlawan, Surabaya.(Foto: BA)

TAK BANYAK yang tahu bahwa Tatang Asy’ari, pria asal Karangnunggal, Tasikmalaya ini, pernah menghabiskan masa-masa mudanya berkeliling dari lorong ke lorong demi menyambung hidup di Kota Pahlawan, Surabaya. Hari ini ia dikenal sebagai seorang ustadz sekaligus pedagang sukses, ayah dari dua orang anak, namun perjalanannya menuju titik itu penuh keringat, kegelisahan, dan keteguhan hati.

Motor tuanya seperti sahabat setia yang tahu betul kerasnya perjuangan itu. Dengan bermodal beberapa liter bensin, ia berkeliling dari kampung ke kampung di Jawa Timur, terutama Surabaya dan sekitarnya, menjadi pembeli emas yang mengetuk pintu-pintu rumah warga. Ada hari-hari ketika ia pulang tanpa membawa apa pun selain lelah. Namun ada juga hari ketika Allah memberi kelapangan, dan hasilnya cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup selama sebulan.

Emas-emas rusak yang berhasil ia kumpulkan kemudian dijual kembali ke toko emas atau pembeli yang lebih besar. Awal 2000-an, usaha inilah yang ia tekuni—jual beli emas tanpa surat, tanpa banyak jaminan, dengan risiko yang tidak kecil. Harga bisa turun sewaktu-waktu, penawaran sering kali rendah. Tetapi ia tetap berjalan. Sebab baginya, rezeki mungkin tak selalu besar, tapi harga diri seorang lelaki yang mencari nafkah halal tak pernah boleh jatuh.

Ketika usaha emas meredup sekitar 2004–2005, ia beralih menjual tahu Sumedang. Ia belajar dari sesama perantau Sunda, mengambil tahu matang dari pabrik, lalu memikulnya berkeliling pasar. Jika lelah, ia duduk di sudut bersama pedagang asongan, menunggu pembeli sambil menata harapan. Hampir setahun ia jalani rutinitas itu. Tak ada gengsi, tak ada keluhan panjang. Yang ada hanya tekad: keluarga harus tetap makan, anak-anak harus tetap tumbuh dengan nafkah yang bersih.

Baca Juga: Anas bin Malik, Pelayan Rasulullah hingga Menjadi Guru dan Sahabat Terakhir yang Wafat

Di sela berdagang, kadang datang panggilan menjalankan amanat lembaga untuk menggantikan tugas atasannya ke luar kota. Tanpa banyak hitung-hitungan, tahu dagangannya dibagikan saja. Modal tak ia pikirkan. “Yang penting amanat,” begitu prinsipnya. Ia percaya, rezeki bisa dicari kembali, tetapi amanah tak boleh dikhianati.

Perjalanannya berlanjut ke dunia makroni. Ia memasarkan produk ke kantin-kantin kecil, satu dus berisi sepuluh pak, dijajakan dari warung ke warung. Awalnya ia hanya berani bermain di pasar kecil. Namun ia belajar memperluas pandangan. Ia membangun kerja sama dengan produsen dari kampung halamannya di Tasikmalaya dan sekitarnya. Modalnya bukan uang besar, melainkan kejujuran dan komitmen. Barang habis, uang harus ada. Jika punya uang, ia bayar dulu. Jika belum, ia jujur. Kepercayaan tumbuh. Hingga suatu masa, kiriman datang satu mobil penuh—ratusan karung sekali jalan. Semua bermula dari menjaga janji kecil.

Dari Kegelisahan Menuju Keyakinan

Namun perjalanan Tatang Asy’ari bukan hanya tentang berdagang dan membangun usaha. Ada kegelisahan batin yang lebih dalam: pencarian kebenaran. Sejak akhir 80-an hingga pertengahan 90-an, ia aktif dalam sebuah lingkungan pergerakan NII dan bahkan dipercaya membimbing rutin teman-temannya setiap pekan. Tujuh tahun ia jalani. Tetapi hatinya terus bertanya. Ia merasa pembinaan ibadah dan akidah belum menjadi inti, sementara pembahasan strategi dan gerakan politik lebih dominan. “Ada apa ini,” pikirnya saat itu.

Baca Juga: Abu Hurairah Sang Penjaga Hadits, Ahli Ibadah, dan Teladan Ramadhan

Sebagai pribadi yang kritis, ia tak mudah menerima tanpa kejelasan dalil dan arah kepemimpinan. Tahun 1996 menjadi titik balik. Ia mulai menghadiri pertemuan taklim Jama’ah Muslimin di Surabaya. Dua kali, tiga kali. Yang pertama kali menyentuhnya bukan perdebatan panjang, melainkan rasa persaudaraan Islalm yang terbangun. Ia merasa dihargai, dirangkul, diperlakukan dengan santun. Diskusi tentang jamaah, imamah, dan baiat membuka cakrawala baru dalam pikirannya. Ia sudah faham.

Namun, ia tak tergesa mengambil keputusan. Ia bertanya, menimbang, memastikan. Dari 17 orang yang pernah ia ajak dalam pembinaan saat di NII dulu, semua mengikutinya untuk menetapi Jama’ah, tapi sayang, sebagian mundur ketika tekanan datang. Tersisa sedikit yang bertahan. Namun baginya, kualitas lebih penting daripada kuantitasa. Ia belajar memahami bahwa hidayah bukan soal ramai atau sepi, tetapi soal kesiapan hati menerima kebenaran.

Kini, sebagai ayah dari dua anak dan seorang ustadz yang juga mengelola usaha, Tatang Asy’ari sering menoleh ke belakang. Ia tak hanya melihat deretan usaha—emas rusak, tahu Sumedang, makroni, usaha kredit. Ia melihat rangkaian hikmah. Bahwa hidup memang berkelok. Kadang sepi, kadang penuh. Kadang jatuh, kadang bangkit.

Dari Karangnunggal Tasikmalaya hingga lorong-lorong Surabaya, dari satu tangki bensin yang habis tanpa hasil hingga satu mobil kiriman penuh barang dagangan, perjalanan itu membentuknya. Ia membuktikan bahwa kesuksesan bukan lahir dari kemudahan, melainkan dari keteguhan menjaga amanah dan keberanian mencari kebenaran.

Baca Juga: Kisah Uwais al-Qarni, Tabi’in Terbaik yang Dipuji Rasulullah

Kini, bersama istri dan anaknya, ia menetap di Suko Legok III Surabaya untuk terus istiqamah di jalan dakwah membersamai umat dan mengembangkan usahanya. Ia berpesan untuk semua, bahwa di setiap langkah, ia selalu percaya: selama niat lurus dan usaha tak putus, Allah tak pernah salah menuntun jalan.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Muhammad bin Sirin, Ulama Tabi’in Penjaga Integritas di Era Bani Umayah

Rekomendasi untuk Anda

7 Kebiasaan Guru Hebat yang Selalu Dirindukan Murid
MINA Edu
Lelahmu Tidak Sia-Sia Jika Niatmu Lurus
MINA Preneur
MINA Preneur
MINA Preneur