UWAIS al-Qarni adalah nama yang nyaris tak dikenal di panggung sejarah, namun justru sangat masyhur di langit. Ia bukan sahabat Nabi, tidak pernah berjumpa langsung dengan Rasulullah ﷺ, dan hidup dalam kesederhanaan di Yaman.
Meski demikian, Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutnya sebagai sebaik-baik tabi’in, sebuah predikat agung yang tidak diberikan karena kedudukan sosial atau keilmuan formal, melainkan karena ketulusan iman dan baktinya yang luar biasa kepada sang ibu. Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bahkan memerintahkan para sahabat besar, termasuk Umar ibn al-Khattab, untuk meminta Uwais memohonkan ampun kepada Allah, sebuah isyarat bahwa kemuliaan spiritual dalam Islam sering lahir dari amal-amal sunyi yang jauh dari sorotan manusia.
Dalam sejarah Islam, terdapat sosok-sosok besar yang tidak masyhur karena panggung publik, tetapi justru harum namanya di langit. Salah satu figur yang kerap dijadikan teladan dalam keikhlasan, bakti, dan kerendahan hati adalah Uwais al-Qarni.
Ia bukan sahabat Nabi, tidak pernah berjumpa langsung dengan Rasulullah, bahkan nyaris tak dikenal di tengah masyarakat. Namun, justru tentang dirinya Rasulullah ﷺ menyampaikan pujian yang begitu dalam dan menggetarkan hati para sahabat.
Baca Juga: Anas bin Malik, Pelayan Rasulullah hingga Menjadi Guru dan Sahabat Terakhir yang Wafat
Keistimewaan Uwais al-Qarni terabadikan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (HR. Muslim no. 2542). Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menggambarkan akan datang seorang dari Yaman bernama Uwais bin Amir, berasal dari kabilah Murad, suku Qarn. Ia pernah menderita penyakit kulit yang kemudian sembuh, kecuali bekas kecil seukuran dirham. Yang paling menonjol dari dirinya bukanlah kelebihan fisik atau status sosial, melainkan baktinya yang luar biasa kepada sang ibu. Rasulullah bahkan menyatakan, seandainya Uwais bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa Uwais adalah sebaik-baik tabi’in. Sebuah predikat yang tidak lahir dari banyaknya pengikut, melainkan dari kemurnian hati, ketulusan ibadah, dan pengorbanan yang sunyi. Karena itulah Rasulullah berpesan kepada Umar ibn al-Khattab agar, jika suatu hari bertemu dengannya, meminta Uwais memohonkan ampun kepada Allah.
Uwais hidup pada masa Rasulullah ﷺ, namun takdir tidak mempertemukan keduanya. Kerinduan untuk berjumpa Nabi harus ia kubur dalam-dalam demi satu hal yang ia anggap lebih utama: merawat ibunya yang telah renta dan sakit. Baginya, meninggalkan ibu demi perjalanan jauh berisiko menyeretnya pada durhaka. Maka ia memilih tinggal, berkhidmat, dan bersabar hingga ibunya wafat. Keputusan ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang prioritas moral dalam Islam: bakti kepada orang tua sebagai jalan tercepat menuju ridha Allah.
Setelah ibunya wafat, Uwais berangkat bersama rombongan dari Yaman dengan harapan bertemu Rasulullah ﷺ. Namun sekali lagi, takdir berbicara lain. Ketika ia tiba, Rasulullah telah wafat. Uwais kembali ke kehidupannya yang sederhana, tanpa gelar, tanpa pengakuan, dan tanpa cerita heroik di hadapan manusia.
Baca Juga: Kisah Tatang Asy’ari dari Lorong ke Lorong Istiqamah di Jalan Dakwah
Beberapa waktu kemudian, ketika Umar bin Khathab menyambut rombongan dari Yaman, ia mengingat betul pesan Rasulullah ﷺ. Umar pun menanyakan satu per satu ciri Uwais hingga akhirnya memastikan bahwa pemuda sederhana di hadapannya itulah orang yang dimaksud Nabi. Umar lalu menyampaikan sabda Rasulullah tentang keutamaan Uwais dan memohon agar ia didoakan. Dengan penuh ketulusan, Uwais mendoakan Umar agar diampuni Allah.
Menariknya, ketika Umar menawarkan bantuan berupa surat rekomendasi kepada pejabat Kufah agar kehidupan Uwais lebih layak, Uwais menolaknya dengan lembut. Ia memilih tetap hidup sebagai orang kecil dan miskin, jauh dari sorotan kekuasaan. Sikap ini menegaskan satu prinsip agung dalam spiritualitas Islam: kemuliaan tidak selalu sejalan dengan kenyamanan dunia.
Pada tahun berikutnya, seorang tokoh terhormat dari Yaman yang pernah bertemu Uwais datang berhaji dan bertemu Umar. Ketika ditanya tentang kondisi Uwais, ia menjawab bahwa Uwais hidup sangat sederhana, dengan rumah dan harta yang minim. Mendengar itu, Umar kembali mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ tentang keutamaan Uwais. Tokoh tersebut pun mendatangi Uwais dan memohon agar didoakan. Dengan kerendahan hati, Uwais sempat mengingatkan bahwa orang itu baru saja menunaikan perjalanan suci, namun akhirnya tetap mendoakannya.
Sejak saat itu, kabar tentang kemuliaan Uwais mulai tersebar. Justru karena itulah, Uwais memilih mengasingkan diri, menjauh dari keramaian. Ia khawatir pujian manusia akan mencemari keikhlasan hatinya dan menumbuhkan kesombongan yang halus. Sebuah sikap yang menunjukkan kedewasaan spiritual tingkat tinggi, tak hanya beribadah dengan benar, tetapi juga menjaga hati dari penyakit batin.
Baca Juga: Abu Hurairah Sang Penjaga Hadits, Ahli Ibadah, dan Teladan Ramadhan
Dari kisah Uwais al-Qarni, kita belajar bahwa kedekatan dengan Allah tidak selalu ditandai oleh popularitas, jabatan, atau pengakuan sosial. Kadang, ia tumbuh dalam kesunyian, dalam bakti seorang anak kepada ibunya, dalam doa-doa yang tak terdengar manusia, namun bergema di langit. Kisah ini menjadi cermin bagi umat Islam hari ini: bahwa akhlak, keikhlasan, dan pengabdian yang tulus sering kali lebih bernilai daripada segala bentuk kemasyhuran. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Muhammad bin Sirin, Ulama Tabi’in Penjaga Integritas di Era Bani Umayah
















Mina Indonesia
Mina Arabic