Klasifikasi Manusia Menurut Al-Qur’an (bag. 2 selesai)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Berikut ini adalah lanjutan tulisan klasifikasi manusia menurut al Qur’an.

Kelima, manusia Kafir. Kelompok penamaan manusia kafir ini jelas ditegaskan oleh Allah Ta’ala berikut ini,

وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْۙ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖ ۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

“Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.” (Qs. Al-Baqarah: 89)

Selain membuktikan kebohongan ucapan mereka sebelum ini, ayat di atas juga menunjukkan keburukan lain Bani Israil, yaitu menolak al Qur’an. Penolakan tersebut sungguh aneh dan tidak berdasar sama sekali.

Dan setelah sampai kepada mereka Kitab Al-Qur’an dari sisi Allah yang kandungannya membenarkan apa yang ada pada mereka, menyangkut kedatangan seorang nabi yang sifat-sifatnya sudah mereka ketahui, mereka tetap mengingkari nabi itu, sedangkan sebelumnya, yakni sebelum kedatangan nabi itu, mereka memohon kemenangan mereka atas orang-orang kafir yang menjadi musuh-musuh mereka.

Tetapi ternyata setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, yakni menyangkut kitab suci Al-Qur’an, Nabi Muhammad, dan sifa-sifat beliau, mereka lalu mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.

Pada surah al-Baqarah ayat 89 di atas merupakan menggambarkan keadaan manusia kafir yang sangat bertolak belakang dari empat tipe manusia sebelumnya.

Keenam, manusia Musyrik. Manusia jenis ini banyak dilukiskan Allah Ta’ala dalam al Qur’an. Satu di antaranya ada dalam surat At-Taubah ayat 28,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هٰذَا ۚوَاِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيْكُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖٓ اِنْ شَاۤءَۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa), karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

Setelah ayat-ayat sebelumnya menunjukkan beberapa perintah, larangan, dan ketentuan-ketentuan yang berisi anjuran dan ancaman, maka ayat ini menunjukkan alasan mengapa kaum mukmin harus memutuskan hubungan dengan kaum musyrik.

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik yang sedemikian mantap kemusyrikannya, baik dari ucapan maupun perilakunya, itu najis, jiwa dan akidahnya kotor, karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam dan tanah haram di sekitarnya setelah tahun ini, yaitu akhir tahun 9 Hijriah.

Dan jika kamu khawatir menjadi miskin karena orang kafir tidak datang di musim haji dengan membawa barang dagangan, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan berupa kecukupan rezeki kepadamu dari karunia-Nya. Jika Dia menghendaki, sesuai dengan ketetapan-Nya, yakni rezeki itu harus dicari dengan usaha yang optimal sesuai dengan sunatullah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala makhluk-Nya, Mahabijaksana dalam segala ketentuan dan pengaturan-Nya.

Ketujuh, manusia Munafik. Manusia munafik artinya manusia bermuka dua; tidak punya kemuliaan, pendusta, riya, berkhianat dan sederet akhlak buruk lain melekat padanya. Allah Ta’ala sudah menyebut tipe manusia ini dalam al Qur’an surat an Nisa ayat 142-143,

ِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. An Nisa: 142)

Sesungguhnya dengan sikap dan perbuatan yang mereka lakukan seperti yang digambarkan pada ayat-ayat di atas, orang-orang munafik itu berusaha hendak menipu Allah, tetapi usaha-usaha mereka menjadi sia-sia, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya bahwa Allah-lah yang menipu mereka dengan membiarkan mereka tetap dalam kesesatan dan penipuan mereka.

Apabila mereka melaksanakan salat, baik salat-salat wajib maupun salat sunah, mereka lakukan dengan malas, yaitu mereka tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, tidak bersemangat, merasa sangat berat, bahkan tidak senang, karena mereka tidak merasakan nikmatnya.

Sementara pada ayat 143 surat an Nisa disebutkan,

امُّذَبْذَبِيْنَ بَيْنَ ذٰلِكَۖ لَآ اِلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ وَلَآ اِلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ ۗ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ سَبِيْلًا

“Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak termasuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang kafir). Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (Qs. An Nisa: 143)

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa dalam keadaan ragu dan bingung antara yang demikian, yaitu iman atau kafir. Mereka tidak termasuk kepada golongan ini, yaitu golongan orang-orang beriman, dan tidak pula kepada golongan itu, yaitu orang-orang kafir. Keraguan mereka disebabkan karena mereka tidak mengikuti petunjuk Allah dan memilih kesesatan. Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu, wahai Muhammad, sekali-kali tidak akan mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk baginya.

Kedelapan, manusia Fasik. Allah Ta’ala berfirman terkait manusia fasik ini,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Qs. al Hasyr: 19)

Allah mengingatkan orang berimaan agar jangan seperti orang-orang fasik. Mereka (orang fasik) itu lupa kepada Allah, tidak menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi manusia dalam kehidupan ini sehingga Allah menjadikan mereka lupa. Pola hidup mereka yang hanya mencari kepuasaan, kelezatan, dan kenikmatan duniawi tanpa mempertimbangkan kebutuhan hidup sesudah mati.

Allah menyebut mereka adalah manusia yang lupa akan diri sendiri, yakni manusia yang tercabut dari akar kemanusiaannya. Mereka itulah, manusia yang lupa kepada Allah dan lupa kepada diri sendiri adalah orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang bergelimang dosa dan perbuatan keji.

Kesembilan, manusia Zalim. Alla berfirman tentang orang zalim ini dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 229,

وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim.”

Ini adalah jenis manusia yang suka menganiaya diri sendiri bahkan orang lain. Orang-orang yang seperti ini biasanya selalu menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya dan memiliki sikap yang tidak adil. Bahkan tidak segan-segan menyalahgunakan kekuasaan dan merekayasa hukum sesuai kemauannya yang mengakibatkan kehancuran bagi orang yang lain.

Kesepuluh, manusia Mutraf. Mutraf yang bentuk jamaknya mutrafun atau mutrafin adalah orang yang itraf, yaitu orang yang tidak mau bersyukur nikmat, orang yang dianugrahi amanah kekayaan, kekuasaan dan kepintaran oleh Allah Swt, tetapi menggunakannya untuk maksiat keapda Allah SWT.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang yang mutraf ini dalam surat al Isra ayat 16,

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).”

Inilah manusia yang memiliki sifat Mutraf. Dia selalu kufur dan tidak mensyukuri nikmat dan anugerah yang diberikan oleh Allah. Selalu mengeluh seolah-olah tidak mendapatkana rezeki dari Allah, padahal sebaliknya.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita golongan manusia-manusia mulia dan menjauhkan dari sifat dan sikap manusia-manusia yang terlaknat, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

(dari berbagai sumber)

Mi’raj News Agency (MINA)