Kredibilitas Seorang Da’i

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Sejatinya, dalam bidang apapun seorang muslim harus mempunyai kredibilitas. Terlebih bila ia seringkali mendakwahkan Islam kepada banyak orang (berprofesi sebagai da’i).

Dakwah setiap muslim mengakui bahwa itu adalah pekerjaan yang sangat mulia yang mempunyai banyak keutamaan. Tiada perkataan yang lebih baik selain dakwah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’anul Karim,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33).

Karena mulianya profesi seorang da’i, maka setidaknya da’i yang ideal harus memiliki empat kredibilitas (misdaqiyah) untuk menunjang proses dakwah yang dilakukannya. Empat kredibilitas tersebut adalah Misdaqiyah Ar ruhiyah (Kredibilitas Ruhani), Misdaqiyah Al Ilmiyah (Kredibilitas Keilmuan), Misdaqiyah As Syabiyah (Kredibilitas Sosial) dan Misdaqiyah Al Akhlaqiyah (Kredibilitas Akhlaq). Dari keempat kredibilitas itu bisa dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, Misdaqiyah Ar ruhiyah (Kredibilitas Ruhani)

Ruhiyah merupakan sebuah kondisi yang menggambarkan tingkat kedekatan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Sebuah kata yang mewakili seberapa besar tercurahkannya pikiran seorang hamba kepada pencipta-Nya. Ruhiyah adalah bekal terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seseorang yang telah membulatkan dirinya sebagai seorang dai.

Ruhiyah bagi seorang muslim berperan sebagai motivator, penggerak, dan evaluator dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh dirinya. Jika ruhiyah bagus kemauan dan kesadarannya berputar pada hal yang positif dan sebaliknya jika ruhiyahnya jelek maka kemauan dan kesadarannya akan berputar pada hal yang negatif.

Seorang da’i harus senantiasa menjaga ketajaman sekaligus ruhiyahnya. Umar bin Khathtab pernah berkata, “Siapa yang memperbaiki batinnya, maka Allah akan memperbaiki lahirnya.

Seorang da’i yang mempunyai ruhiyah yang bagus, maka ia akan memancarkan aura kebaikan bagi sekitarnya. Seperti kisah seorang tabi’in masyhur Imam Hasan Al Basri ketika masuk pasar, orang satu pasar menangis melihatnya dikarenakan ingat kepada Akhirat. Pernah suatu hari pula, ada sepasang suami istri yang sedang ribut bertengkar dan tidak mengetahui bagaimana agar bisa damai kembali, atas dasar rekomendasi tetangganya pergi ke rumah Imam Hasan Al Basri untuk meminta nasehat. Akan tetapi, Imam Hasan Al Basri baru buka pintu saja pasangan suami istri tersebut sudah langsung berdamai. Hal ini bisa terjadinya karena Imam Hasan Al Basri memiliki Ruhiyah yang sungguh luar biasa bagusnya sehingga memancarkan aura kebaikan yang berefek positif terhadap orang lain.

Imam Ahmad bin Hambal, seperti yang diceritakan oleh Imam Dzahabi, ketika wafat satu juta mengitarinya. Enam ribu wanita mengantarnya karena daya tarik ruhiyahnya, padahal hukum wanita mengantar jenazah di kalangan ulama masih khilafiyah antara makruh dan haram. Ada yang memakruhkan secara makruh Tanziq seperti imam An Nawawi dan ada yang mengharamkan seperti kalangan addzhohiriyyah misalnya Imam Daud dan Imam Ibnu Hajm. Kemudian yang luar biasa, dua ribu orang masuk islam pada saat Imam Ahmad bin Hambal meninggal. Begitulah orang yang shaleh yang ruhiyahnya bagus, meninggalnya saja membawa manfaat apalagi hidupnya. Masya Allah.

Kedua, Misdaqiyah Al Ilmiyah (Kredibilitas Keilmuan)

Seorang da’i harus memiliki kredibilitas dalam keilmuan dan ini merupakan bekal yang sangat utama. Hujjah Al Balighoh (Argumen yang kuat dan mendalam) merupakan salah satu parameter dari da’i yang memiliki misdaqiyah al ilmiyah.

Seorang da’i yang berkewajiban menyampaikan ayat-ayatnya, mengajarkan manusia tentang Islam, menyampaikan manusia tentang halal dan haram haruslah kita faham tentang ilmunya terlebih dahulu. Sebagaimana sebuah peribahasa Arab mengatakan Faaqidu asy-syai’i laa yu’ti syai’a yang memiliki arti orang yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan mampu memberikan apa-apa.

Suatu hari seorang wanita menghadap Khalifah Umar bin Khattab dan melapor bahwa ia telah diperkosa. Sebagai bukti, wanita ini membawa dan memperlihatkan selimut yang dalam pengakuan sang wanita adalah sperma laki-laki yang memperkosanya. Khalifah Umar bin Khattab kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menganalisis apakah sang wanita jujur atau tidak. Ali bin Abi Thalib kemudian menyiram selimut itu dengan air panas dan tidak lama kemudian bercak sperma tersebut menggumpal. Ali bin Abi Thalib lalu berkata bahwa sang wanita telah berbohong karena itu adalah bercak putih telur. Begitulah profil seorang da’i, ia harus memiliki wawasan dan keilmuan yang cukup untuk mengatasi permasalahan masyarakat yang ada.

Ketiga, Misdaqiyah As Syabiyah (Kredibilitas Sosial)

Seorang mukmin tidak cukup dengan menjadi shalih atau baik untuk dirinya sendiri saja. Namun, seorang mukmin harus menjadi mushlih atau menshalihkan orang lain sebagai salah bentuk dakwah yang ia lakukan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tak sabar menghadapi gangguan mereka.” (HR. Imam Bukhari dalam Adabul Al Mufrad, Imam At Tirmidzy, dan Imam Ahmad).

Hadits di atas menegaskan peran seorang mukmin untuk senantiasa bergaul dengan masyarakat, sehingga interaksi seorang da’i dengan masyarakat dalam kehidupan sosial adalah sebuah keniscayaan. Sebuah kisah masyhur yang seringkali kita dengar mengenai amalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyuapi seorang tua yang buta beragama yahudi setiap harinya dengan kelembutan dan kesabaran. Lalu Abu bakar ash shidiq pun berusaha untuk mengamalkannya sepeninggalan beliau.

Serta-merta orang tua tunanetra ini kaget karena merasa “sentuhan” suapannya berbeda. Abu Bakar pun menjelaskan bahwa yang biasa menyuapinya adalah Rasulullah yang telah tiada. Hingga akhirnya orang tua tersebut masuk Islam karena orang ini tidak menyadari bahwa yang menyuapi dirinya adalah seorang Nabi yang selalu ia ejek, caci maki, dan dibencinya. Ini merupakan contoh langsung dari Rasulullah kepada para da’i, agar senantiasa bergaul dengan masyarakat. Oleh karena itu karena setiap mukmin sejatinya adalah seorang da’i  hendaknya mempunyai kredibilatas sosial untuk menunjang dakwahnya.

Keempat, Misdaqiyah Al Akhlaqiyah (Kredibilitas Akhlaq)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Ta’ala dalam rangka untuk menyempurnakan Akhlaq manusia sebagaimana beliau bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ)وَفِي رِوَايَةٍ صَالِحَ(الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak).” (HR Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri langsung mencontohkan kepada kita bagaimana keagungan akhlaknya sehingga diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an sesuai firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung.(QS. al-Qalam [68]:4).

Begitupun juga sebagai Da’i saat ingin melakukan amar makruf nahi munkar, mengajarkan kebaikan kepada setiap insan, mengajak mereka mengagungkan asma-Nya, beribadah kepada-Nya, dan memperbaiki akhlaq manusia, terlebih dahulu harus memiliki alkhlaqul mahmudah atau akhlak yang terpuji agar semakin dekat kepada umat.

Seringkali dakwah bil hal (dakwah dengan contoh perbuatan yang terpuji) lebih efektif untuk mengajak manusia kepada lingkaran kebaikan dibandingkan dengan dakwah bil lisan (dakwah dengan perkataan) semata. Begitu banyak kaum Quraisy yang masuk Islam karena terkesan dengan akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat mulia.

Insya Allah dakwah akan efektif dan optimal ketika serorang da’i sudah memiliki empat kredibilitas di atas, wallahua’lam. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)