Krisis UE-Belarus: Janin Bayi Irak Dimakamkan

Bayi Irak bernama Halikari Dhaker yang wafat dalam kandungan di shalatkan sebelum dimakamkan di pemakaman Muslim Bohoniki, Polandia, Selasa, 23 November 2021. (Foto: AP/Czarek Sokolowski)

Seorang imam Polandia membacakan doa di atas peti mati putih kecil seorang janin bayi laki-laki Irak yang belum lahir. Diperkirakan janin empat bulan. 14 Nopember. Dari keluarga Muslim.  Ia adalah korban terbaru dari migran asal Timur Tengah, yang mencoba menyelinap ke Uni Eropa secara ilegal, tapi  mendapati jalan diblokir oleh tentara di hutan Polandia maupun Belarus.

Setelah salju pertama musim itu turun semalaman, Aleksander Ali Bazarewicz, sang imam, menunggu dengan harapan ayah anak itu – di pusat pengungsian dan bersama istrinya yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi serius – akan tiba. Ketika mereka tidak muncul, Bazarewicz memimpin upacara pemakaman di depan sebuah masjid kayu tua.

“Korban lain,” kata Bazarewicz. Ia pula yang memimpin doa saat korban pertama migrasi dimakamkan di pemakaman yang sama, seorang pengungsi Suriah berusia 19 tahun, sembilan hari lalu.

“Kami pikir ini hanya akan terjadi sekali, tetapi sekarang semakin banyak,” katanya. Ia berdiri di antara empat gundukan kuburan sederhana, masing-masing dikelilingi oleh batu dan ditutupi dengan cabang-cabang pinus.

Keempatnya sekarang beristirahat bersama di tepi pemakaman Muslim terbesar di Polandia, yang merupakan milik komunitas Tatar yang telah tinggal di hutan timur Polandia selama berabad-abad.

“Mereka akan beristirahat di antara saudara Tatar mereka,” katanya.

Tidak ada jumlah pasti di antara para migran dan pengungsi yang sejak musim panas telah melakukan perjalanan ke Belarus, kemudian berusaha menyeberang ke Polandia, Lituania atau Latvia, tiga negara yang berbatasan dengan Uni Eropa.

Uni Eropa menganggap migrasi “perang hibrida” yang dilakukan oleh pemerintah otoriter Presiden Belarusia Alexander Lukashenko. Polandia telah memerintahkan keadaan darurat di sepanjang perbatasannya untuk menghentikan para migran masuk, dan untuk mencegah keluarga – atau penyelundup – mendekati perbatasan untuk memfasilitasi perjalanan mereka lebih jauh ke barat. Sebagian besar bertujuan untuk mencapai Jerman atau tempat lain di Eropa Barat, dan beberapa di antarm untuk bertemu kembali dengan kerabat.

Ketika Polandia telah mnghadirkan militernya di daerah itu, banyak migran terperangkap di hutan, didorong bolak-balik oleh pasukan Belarusia dan Polandia.

Badan Penjaga Perbatasan Polandia sejak September melaporkan sekitar 10 kematian, tetapi mereka tidak mengidentifikasi mereka. Sementara itu, kelompok kemanusiaan dan media Polandia telah melaporkan lebih banyak kasus tetapi sulit untuk memverifikasi kematian tersebut.

Ada juga kematian migran di pihak Belarusia, dengan mayat dikembalikan ke Irak untuk dimakamkan, tetapi pihak berwenang Minsk belum melaporkan berapa banyak.

Seorang pria yang tampak seperti pendatang dari Afrika dimakamkan pada Senin, 22 November 2021, di pemakaman Katolik Sokolka, tidak jauh dari pemakaman Muslim di Bohoniki, karena sebuah Alkitab ditemukan di sebelah jasadnya. Namun, karena tidak ada kepastian bahwa dia adalah orang Kristen, pendeta setempat tidak mau memimpin upacara pemakaman dan semua yang menghadiri pemakamannya adalah jurnalis.

Media Polandia juga melaporkan kematian seorang pria Kristen Suriah berusia 24 tahun yang mereka identifikasi bernama Issa Jerjos.

Bazarewicz memimpin upacara untuk keluarga yang belum pernah  pernah bertemu dengannya sebelumnya. Namun ia mengakui tahu sedikit lebih banyak tentang ibu yang keguguran pada pekan ke-27 kehamilannya. Keluarga itu memiliki lima orang anak.

Dia kemudian memanggil dua orang Muslim, keduanya imigran Chechnya, untuk membantu pemakaman yang hanya dihadiri oleh sekitar tiga lusin wartawan.

Bazarewicz mengatakan, adalah tugasnya sebagai seorang Muslim untuk memastikan bahwa Muslim lain yang tewas di tanah Polandia, jauh dari tanah air mereka, dikuburkan dengan ritual keagamaan yang tepat. “Dalam Islam, janin setelah empat bulan dianggap sebagai manusia dan dikuburkan sebagai seorang Muslim,” jelasnya.

Peti mati bayi yang belum lahir itu diberi nama Halikari Dhaker dan tanggal kematiannya 14 November. Ia sangat kecil sehingga dibawa ke kuburan digendong oleh seorang pria sebelum diturunkan dengan tali.

“Orang-orang ini telah meninggalkan negara mereka, bukan untuk bepergian atau melihat tempat-tempat indah, meskipun Polandia itu indah, tetapi untuk menemukan kehidupan yang lebih baik,” katanya. “Mereka dimanipulasi dan mereka menderita yang bukan salah mereka.” (AT/RI-1/P1)

 

Sumber: AP

 

Mi’raj News Agency (MINA)