Kuliah Umum, Menkopolhukam Bahas Pertahanan Keamanan di AS dan Indonesia

Depok, 13 Rajab 1437 / 21 April 2016 (MINA) – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) RI, Luhut Binsar Pandjaitan memberikan kuliah umum yang bertema “Perbandingan Penerapan Teknologi bagi Pertahanan dan Keamanan di Amerika Serikat dan Indonesia” di hadapan sivitas akademika Universitas Indonesia, di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Kamis (21/4).

Luhut membuka kuliah umum dengan memberikan wejangan kepada mahasiswa bahwa hal yang paling utama dalam kehidupan ini adalah keteladanan, “Sepintar apapun kamu, yang paling penting dimiliki adalah teladan”, tekannya, demikian laman resmi UI yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Selanjutnya, Luhut menyajikan data mengenai komposisi belanja militer di Indonesia tahun 2000-2015. Ia mengutarakan bahwa berdasarkan komposisi yang ada di tahun-tahun sebelumnya belanja alutsista Indonesia masih minim. Oleh karena itu, katanya, pemerintah saat ini memiliki kebijakan untuk membeli alutsista.

Meskipun begitu, belanja pegawai seperti gaji akan tetap diperhatikan. Berkaitan dengan anggaran, Luhut mengungkapkan bahwa anggaran yang dikucurkan untuk pertahanan ini berkisar 200 triliun. Pada tahun 2015 belanja pertahanan Indonesia mencapai 0,9 persen PDB, lebih kecil daripada negara-negara ASEAN, terlebih bila dibandingkan dengan Amerika Serikat yang belanja pertahanannya mencapai 3,3 persen dari PDB.

Di samping itu, berkaitan dengan teknologi pertahanan, Amerika Serikat telah memiliki teknologi pertahanan yang maju. Indonesia sendiri lebih membutuhkan peningkatan teknologi di bidang pesawat terbang, juga IT.

Teknologi informasi butuh ditingkatkan mengingat “Cyber War” merupakan jenis peperangan yang akan mendominasi di masa depan, contohnya adalah pembobolan akun yang bisa saja terjadi dan mengakibatkan terganggunya pertahanan dan keamanan Indonesia.

Tidak hanya sebatas teknologi pertahanan, Luhut juga memberikan pemaparan mengenai berbagai persoalan yang ada di Indonesia, ancaman-ancaman yang ada di dalam negeri adalah terorisme, narkoba, separatisme, disintegrasi dalam negeri.

Sementara, ancaman dari luar negeri adalah konflik perbatasan, siber, serta ancaman lainnya berupa perubahan iklim dan pemanasan global. Untuk menghadapi berbagai permasalahan tersebut Luhut mengungkapkan perlunya partisipasi dari akademisi dengan melakukan penelitian sehingga dapat menjadi gerbang solusi pertahanan dan keamanan nasional. (T/ima/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)