Laporan: Ribuan Anak-anak Daesh/ISIS Terlantar di Kamp-kamp Suriah

Suriah, MINA – Save the Children pada Kamis (23/9) melaporkan, ribuan anak-anak yang diduga keluarga Daesh/ISIS yang terperangkap di kamp-kamp di timur laut Suriah telah ditinggalkan oleh pemerintah mereka dan hidup dalam kondisi yang mengerikan.

“Kondisi di kamp-kamp, ​​terutama di Al-Hol, sangat buruk. Al-Hol sangat padat dan tempat yang tidak cocok untuk anak-anak tumbuh,” kata organisasi itu, Anadolu melaporkan.

“Layanan terbatas dan tempat tinggal tidak memadai. Skala kekerasan, kesulitan, perampasan dan trauma yang dialami anak-anak yang tinggal di kamp-kamp ini setiap hari tidak dapat ditolerir,” tambahnya.

Organisasi amal itu memperkirakan 50% dari populasi kamp Al-Hol dan 55% dari populasi Roj berusia di bawah 12 tahun dengan mayoritas berasal dari Suriah dan Irak. Namun laporan tersebut berfokus pada warga negara lain dari sekitar 60 negara di seluruh dunia, termasuk beberapa negara terkaya di dunia.

Menurut laporan itu, 62 anak telah meninggal karena alasan yang berbeda di Al-Hol saja sepanjang tahun ini, sekitar dua setiap pekan.

Anak-anak di kamp juga kekurangan kebebasan bergerak, pendidikan yang tidak memadai, kekurangan air dan kondisi yang tidak bersih, serta kurangnya akses Kesehatan.

Kamp-kamp yang saat ini dikelola oleh kelompok teroris YPG/PKK dimaksudkan untuk menampung keluarga-keluarga yang tinggal di bawah kekuasaan Daesh/ISIS.

Organisasi itu mengecam negara-negara anggota Uni Eropah, Inggris, Australia, Norwegia, AS, dan Kanada, yang termasuk di antara negara-negara terkaya di dunia, karena proses pemulangan mereka yang lambat dibandingkan dengan negara-negara miskin.

Negara-negara Barat telah menyatakan keprihatinan bahwa repatriasi massal keluarga terkait Daesh/ISIS menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional mereka.

Tetapi Save the Children menuntut agar “semua pemerintah dengan warga negara di kamp-kamp itu bertanggung jawab dan membawa pulang anak-anak dan keluarga mereka” sesuai dengan hukum internasional.

“Setiap hari anak-anak asing dan keluarga mereka tinggal di kamp dan itu adalaha kegagalan pemerintah mereka,” katanya. (T/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)