PPPA Daarul Qur’an Jadi Pelopor Laznas yang Membuat Sustainability Report

Tanggerang, MINA – Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) PPPA Daarul Qur’an menjadi lembaga pelopor yang pertama kali membuat sustainability report atau laporan keberlanjutan di dunia Laznas.

Sustainability report tersebut resmi diluncurkan Laznas PPPA Daarul Qur’an pada acara Public Expose 2021, Kamis (25/2).

Direktur Utama Laznas PPPA Daarul Qur’an Abdul Ghofur mengatakan, sustainability report adalah laporan kinerja yang dilakukan oleh suatu lembaga atau perusahaan untuk mengukur, dan mengelola perubahan untuk membuat kegiatan yang keberlanjutan.

“Laznas PPPA Daarul Quran menjadi lembaga pertama yang menerapkan sustainability report, yang umumnya diterapkan oleh lembaga atau perusahaan yang berorientasi bisnis,” kata Ghofur.

Ghofur menjelaskan, meski pertama kali diterapkan, sustainability report sangat relevan disesuaikan dengan lembaga Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (Ziswaf).

“Biasanya, sustainability report, laporan keberlanjutan digunakan oleh lembaga yang orientasinya business minded, sehingga untuk Laznas, kita sesuaikan untuk lembaga nirlaba atau filantropi Islam, khususnya lembaga zakat dan wakaf,” papar Ghofur.

Menurut Ghofur, sustainability report dapat menunjukkan jati diri sebuah lembaga, sebab bagian dari transparansi kepada publik bahwa lembaga tersebut mempunyai tata kelola.

Selain itu, laporan ini juga memaparkan dampak yang sudah dilakukan, baik dampak pada ekonomi, lingkungan maupun sosial.

Insya Allah, laporan ini juga akan meningkatkan kepercayaan donatur, salah satunya karena ada laporan tahunan, seberapa baik kita mengelola lembaga, dan seberapa peduli kita terhadap isu keberlanjutan,” ungkap Ghofur.

Tidak hanya itu, pelaporan ini juga mengadopsi mekanisme pelaporan keberlanjutan yang dikembangkan oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK) melalui POJK 51/2017 tentang Penerapan Program Keuangan Berkelanjutan (Sustainable Finance).

Atas langkah tersebut, Laznas PPPA Daarul Qur’an mendapatkan apresiasi oleh sejumlah lembaga diantaranya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Kemenag RI, Badan Wakaf Indonesia (BWI), Forum Zakat (FOZ) serta sejumlah stakeholder.

“Mohon masukkan dan review dari para pakar sustainability, GRI dan penggiat filantropi serta para profesional SDGS atas sustainability report yang kami buat dari proses learning by doing,” pungkas Ghofur yang memiliki pengalaman belajar di Magister Sustainability Universitas Trisakti dan diimbangi dengan 15 tahun menjadi praktisi di lembaga filantropi Islam. (R/R4/P1)

 

 

Mi’raj News Agency (MINA)