Manusia Berencana, Tuhan Punya Kuasa

 

Oleh: Illa Kartila – Redaktur Senior MINA News Agency

Masyarakat Indonesia kembali berduka, deraian air mata dan nestapa mendalam serta ketidak-pastian sedang dirasakan khususnya oleh kerabat para korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 jurusan Jakarta-Pontianak yang dikemudikan oleh pilot senior dan berpengalaman, Kapen Afwan Zamzami, 9 Januari lalu.

Pesawat Boeing 737-500 itu tinggal landas dari bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Sabtu pk.14.36 WIB dengan mengangkut 62 penumpang terdiri dari 40 orang dewasa, 7 anak, 3 bayi dan 12 kru menuju lapangan terbang Soepadio, Pontianak.

Setelah kehilangan kontak dengan menara pengawas Jakarta hanya 4 menit setelah tinggal landas, pesawat tak terlihat lagi di layar radar. Sesudah dilakukan pencarian selama dua hari dan terlihat sinyal dari dalam laut, pesawat itu dinyatakan jatuh di perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu.

Sepekan sejak musibah tersebut terjadi, sampai Sabtu, baru 17 korban pesawat Sriwijaya Air yang berhasil diidentifikasi oleh “Disaster Victim Identification (DVI)” Polri setelah Tim Gabungan berhasil mengevakuasi 272 kantong jenazah.

Ke-17 korban yang telah diidentifikasi adalah: Okky Bisma (30), Fadly Satrianto (28), Khasanah (50), Asyhabul Yamin (36), Indah Halimah Putri (26), Agus Minarni (47), Ricko (32), Ihsan Adhlan Hakim (33), Supianto (37), Pipit Supiyono (23), Mia Tresetyani (23), Yohanes Suherdi (37), Toni Ismail (59), Dinda Amelia (15), Isti Yudha Prastika (34), Putri Wahyuni
(25) dan Rahmawati (59).

Di balik tragedi itu banyak kisah memilukan terkait para korban penumpang. Ada satu keluarga yang baru pulang berlibur, ada kru ekstra yang jadi penumpang, ada dua bersaudara yang habis belanja untuk tokonya, ada calon pengantin yang menunda pernikahannya gara-gara pandemi Covid-19 dan akhirnya tewas dalam musibah tersebut.

Tidak biasanya, Sabtu pagi itu Kapten Afwan Zamzami, berangkat kerja dengan tergesa-gesa setelah meminta maaf kepada istri dan anak-anaknya serta mengenakan baju seragam yang belum disetrika. “Biasanya kalau mau pergi hanya salaman saja,” kata keponakan pilot itu, Mohammad Akbar.

Setelah sampai di bandara, Kapten Afwan juga mengirim video call kepada anaknya. “Ini hal yang tak lazim dilakukan oleh beliau. Biasanya setiap kali ‘landing’, Kapten Afwan selalu telpon istrinya tapi sampai waktu ‘landing’ ternyata tidak ada kabarnya hingga pesawat dinyatakan jatuh,” tutur Akbar.

Takdir

Meski Fadly Satrianto adalah co-pilot, tetapi pada Sabtu kelabu itu dia tidak sedang bertugas dan menjadi penumpang pesawat Sriwijaya Air. Menurut ayahnya, Sumarzen Marzuki, bungsu dari tiga bersaudara itu selalu menelepon ibunya, Ninik Andriyani, setiap kali akan terbang. “Kemarin saat telepon, ibunya tanya, mau terbang bawa pesawat atau tidak. Dijawab tidak.”

Fadly bekerja di maskapai penerbangan “NAM Air”, anak perusahaan Sriwijaya Air. “Dia rencananya membawa pesawat NAM Air sebagai co-pilot dari Pontianak. Jadi di dalam pesawat Sriwijaya Air itu juga ada kru lengkap NAM Air, mulai dari pilot hingga pramugari yang rencananya akan terbang bersama Fadly.”

Lajang berusia 28 tahun dan sudah bertunangan dengan seorang dokter itu seharusnya sudah menikah. Tetapi pandemi Covid-19 menyebabkan dia menunda pernikahannya. Fadly mengikuti sekolah penerbangan setelah mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Airlangga, Surabaya. Dia langsung bekerja di Nam Air sesudah lulus dari serangkaian sekolah penerbangan selama tiga tahun terakhir.
“Menjadi pilot adalah cita-citanya sejak kecil,” ucap ayahnya.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, takdir membawa Faisal Rahman dan kakaknya Asyhabul Yamin, ke pesawat Sriwijaya Air, padahal seharusnya mereka terbang dengan pesawat NAM Air dari Jakarta ke Pontianak, Sabtu pagi itu.

Menurut sahabat mereka sejak kecil, Budi Kurniawan, Faisal baru dipercaya ibunya meneruskan bisnis pakaian milik keluarga. Abang adik itu berangkat dari Sintang ke Jakarta sebelum Natal 2020. Asyhabul rutin ke Jakarta untuk berbelanja pakaian yang akan dijual di toko mereka. Kepergiannya bersama Faisal ke Jakarta adalah kali pertama dalam rangka mengajari adiknya belanja.

Yaman Zai, pria asal Pulau Nias, menangis histeris begitu mengetahui pesawat Sriwijaya Air yang ditumpangi istri dan ketiga anaknya dari Jakarta, hilang kontak. Pembicaraan
terakhir dengan keluarganya adalah sesaat sebelum pesawat lepas landas. Setelah itu, dia pergi ke Bandara Supadio untuk menjemput keluarganya.

“Tadi terakhir kontak saya setengah 2 siang, mereka sudah di bandara, makanya saya tunggu-tunggu, paling kan satu jam sudah sampai, tapi tidak kunjung datang, ditelepon tidak aktif,” katanya sambil menambahkan, awalnya mereka ingin ke Pontianak untuk berlibur.

Sambil menangis, pria itu juga menyebutkan, bayinya yang baru saja lahir beberapa bulan lalu juga diajak serta. “Istri saya, lalu tiga anak saya jadi penumpang pesawst itu. Mereka mau ke Pontianak untuk liburan.”

Tewas sekeluarga

Yusrilanita tak kuasa menahan tangis kemudian pingsan saat mengetahui pesawat Sriwijaya rute Jakarta-Pontianak hilang kontak. Pasalnya, pesawat itu mengangkut anaknya, Indah Halimah Putri, menantu, besan, cucu, serta keponakan menantunya.

Adik Indah, Nabila mengisahkan, sebelum lepas landas kakaknya sempat mengirim foto sayap pesawat Sriwijaya berikut sebuah pesan. “Doakan ya.”¬†Menurut Nabila, setelah menikah, Indah ikut suaminya, Muhammad Rizky Wahyudi, di Pontianak. “Namun sejak hamil besar, Indah pulang ke Desa Sungai Pinang Ogan Ilir, Sumsel hingga melahirkan, sampai anaknya usia tujuh bulan.”

“Baru seminggu lalu suami Indah, Muhammad Rizky datang ke Ogan Ilir menjemput isteri dan anaknya, untuk kembali ke Pontianak. Namun, takdir berkata lain musibah itu tiba,” kata Nabila dengan berlinang air mata.

Ricko, warga Makassar juga seharusnya naik pesawat NAM Air, namun dialihkan ke Sriwijaya Air. “Dia mau pergi ke Jakarta dan jika urusannya di sana selesai, terus ke Pontianak,” kata ibunya, Magdalena yang tak menyangka anaknya berada dalam penerbangan pesawat Sriwijaya Air itu.

Magdalena terus menghubungi Ricko – pegawai PLN di Pontianak yang pergi ke Jakarta untuk urusan dinas – tapi tak juga nyambung. Kabar duka datang setelah dia melihat sejumlah pemberitaan di stasiun televisi dan menyebut anaknya ikut dalam pesawat yang jatuh itu.

Di balik tragedi nahas tersebut, muncul kisah Vera Gusman. Ia sempat akan menjadi salah satu penumpang Pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Tes Swab membuat dia gagal berangkat hari itu. “Ya Allah, tadi pagi harusnya saya terbang dari Jakarta ke Pontianak antar kakak Febri pulang.”

Sampai di bandara ada peraturan baru per tanggal 9 Januari hasil Tes Swab hanya berlaku tiga hari. “Aku sedih tak bisa terbang karena hasil tesnya sudah gak berlaku. Jauh-jauh dari Bandung, naik bis, udah beli oleh-oleh tinggal masuk aja ke terminal, masa gak boleh pikirku.”

Tak menyerah, Vera masih berusaha keras untuk memperjuangkan keberangkatan hari itu, namun tetap ditolak. “Saya lari ke sana ke mari, menghadap untuk minta kebijakan Sriwijaya agar bisa terbang, tapi ditolak. Ada perasaan kecewa, kesal dan marah.”

Alhasil, Vera harus kembali ke Bandung debgan kecewa lantaran tak bisa berangkat ke Pontianak. Tstapi gagal terbang membawa berkah dan hikmah, karena kemudian gadis itu terhindar dari maut. Manusia berencana, Tuhan punya kuasa.
(A/RS1/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)