Masjid Bogo Missiri Pantai Gading Masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO

(Foto: UNA-OIC)

Nama Negara yang paling unik adalah Pantai Gading, walau namanya yang belum familiar, negara ini memiliki berbagai sejarah dan destinasi wisata yang luar biasa dan jarang diketahui banyak orang.

Beberapa wisata di Pantai Gading yang termasuk warisan budaya UNESCO meliputi: Gunung Nimba, Kota Grand-Bassam yang bersejarah, Taman Nasional Comoe yang merupakan salah satu daerah terbesar di Afrika Barat, Taman Nasional Tai tempat hidup 11 spesies monyet dan yang terakhir adalah Masjid Bogo Missiri yang baru diresmikan sebagai situs warisan budaya UNESCO.

Situs Fatmat.info melaporkan, Walikota Tengrela, Ballo Bakary, pada hari Ahad 30 Agustus 2020, menyambut baik pemilihan Masjid “Bôgô Missiri” di antara delapan masjid yanga ada di Pantai Gading, yang terpilih sebagai prasasti dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.

Masjid “Bôgô missiri” bergaya arsitektur Sudan, dibangun dengan kayu dan tanah liat, berasal dari zaman Almamy Samory Touré, lebih dari 300 tahun yang lalu.

Masjid merupakan tempat beribadah umat muslim untuk melaksanakan sholat wajib, sunnah, membaca Al Qur’an pengajian atau ibadah lainnya, sehingga dibuat seindah dan senyaman mungkin dengan arsitektur yang megah dan memiliki nilai sejarah penting di setiap bangunannya.

Masjid Bogo Missiri yang terhitung sudah 300 tahun ini yang dibangun dengan kayu dan tanah liat adalah khas arsitektur Sudan yang mirip juga dengan Masjid Agung Djenne di Mali dengan bahan dan arsitektur yang tidak jauh berbeda.

Wali Kota Tengrela mengatakan Masjid ini merupakan salah satu simbol Tengrela yang telah menarik perhatian para pejabat nasional yang bertugas mengelola pusaka.

Hakim pertama pemerintah kota sedang melakukan segalanya untuk memastikan bahwa masjid ini memiliki persetujuan akhir. Inilah sebabnya mengapa Hakim mengikuti semua rekomondasi ahli Lassana Cisse yang datang dalam misi evaluasi karena dia menyadari banyak keuntungan yang akan dibawa oleh peradaban semacam ini ke pemerintah kota.

Pantai Gading terletak di Afrika Barat, berbatasan dengan negara-negara lain seperti Liberia, Guinea, Mali, serta Teluk Guinea di sebelah selatan, bahasa Prancis merupakan bahasa Nasional yang dipakai mereka untuk berkomunikasi dan Abidjan adalah nama ibukata tersebut.

Selain itu, negara ini miliki beberapa sebutan atau sering diterjemahkan di berbagai negara, dalam Bahasa Indonesia sebutannya Pantai Gading, dalam Bahasa Inggris Ivory Coast, Elfebeinkuste dalam bahasa Jerman, dan Costa de Marfil dalam bahasa Spanyol.

Selain namanya yang unik, kekayaan bumi yang melimpah, negara ini dicatat sebagai penghasil coklat terbesar di dunia. Laman Telegraph mengatakan bahwa produksi cokelat Pantai Gading adalah yang terbanyak di dunia. Jumlahnya pada tahun 2013 mencapai 1,4 metrik ton. Itu sama dengan lebih dari 30 persen produksi cokelat dunia.

Masuknya Islam ke Pantai Gading

Islam masuk ke Pantai Gading pada gelombang kedua, yaitu pada abad ke-13 ketika Kesultanan Mali berjaya dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Afrika Barat. Sedangkan Kristen baru datang ke kawasan itu pada abad ke-17.

Mayoritas pemeluk Islam di Pantai Gading beraliran Sunni, dan mengikuti Madzhab Maliki. Aliran sufi juga dianut oleh sebagian komunitas Muslim Pantai Gading. Aliran sufi yang dianut adalah Qadiriyah dan Tijaniyah.

Pada awalnya, Pantai Gading adalah suatu perkampungan yang sangat terisolasi, didiami tak kurang dari 60 suku, ditemukan oleh para pedagang Portugis dan Perancis pada abad ke-15.

Mereka mencari gading dan budak, dan pada akhirnya Perancis menduduki Pantai Gading hingga abad ke-20.

Mungkin Pantai Gading adalah sebuah negara di antara sedikit negara yang dibangun penuh dengan pertikaian agama sampai saat ini, yaitu Islam dan Kristen. Islam di utara dan Kristen di selatan, yang saling berebut kekuasaan. (A/SH/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)