MASJID DISERANG, MUSLIM BANGUN GEREJA

Sebuha masjid di Berlin yang dibakar pada tahun 2014. (Foto: dok. Daily Sabah)
Sebuha masjid di Berlin yang dibakar pada tahun 2014. (Foto: dok. Daily Sabah)

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Serangan di Kabupaten , Provinsi Papua oleh warga Kristen Injili Di Indonesia (GIDI) yang berujung pada pembakaran puluhan kios dan terbakarnya mushala, sontak membakar reaksi Muslim Indonesia. Tapi reaksi-reaksi ini akhirnya masih tergolong menahan diri, malahan disertai penggalangan dana kesiapan ummat secara perorangan maupun lembaga, untuk membangun kembali mushola dan kios yang terbakar,    maupun membantu korban yang rumah dan kiosnya terbakar. Ummat Islam di Papua sendiri dapat menahan diri. Pemerintah pusat dan daerah juga bertindak cepat dengan tiga langkah strategis untuk membangun kembali yang terbakar, menindak yang terlibat secara hukum dan memulihkan situasi kondusif.

Yang membuat dunia turut terkejut dengan kasus ini adalah adanya bias, tidak akurat,  dalam berita yang ditulis sementara pers barat. Faktanya adalah serangan tersebut membubarkan paksa shalat Idul Fitri pada Jumat 17 Juli 2015, yang seketika mencuatkan isu SARA yang kental. Berbagai kecaman, analisa dan tudingan mengemuka. Anehnya ada sementara media Barat justeru menuding umat Islam yang minoritas di Tolikara yang diserang, dan menuduh minoritas Islam sebagai pihak yang menindas kaum Kristen.

Muslim Eropa sudah siap diserang

Membaca tuduhan sementara media barat itu, akan sangat mengejutkan jika pembakaran terjadi terhadap tempat ibadah Islam di Indonesia di mana Muslim merupakan penduduk mayoritas, sementara  di Papua muslim adalah warga minoritas.

Untuk perbandingan, coba kita tengok kesabaran Muslim minoritas di negeri Barat.

Pada tahun baru 2015, di kota Uppsala, dikejutkan oleh serangan pembakaran masjid untuk ketiga kalinya dalam sepekan, di tengah meningkatnya ketegangan mengenai munculnya gerakan anti-imigrasi dari kelompok sayap kanan.

Saksi mata mengatakan, terlihat seorang pria melemparkan benda terbakar di masjid sekitar pukul 04.30 GMT, namun masjid tidak terbakar.

Juru bicara polisi Uppsala mengatakan, seseorang melemparkan bom Molotov ke gedung masjid. Penyerang juga mencoret kata-kata rasis yang vulgar di pintu utama masjid.

“Pulanglah Muslim Sampah”, kalimat rasis itu ditujukan kepada warga imigran yang mayoritas Muslim.

Serangan itu terjadi hanya tiga hari setelah api membakar sebuah masjid di Esloev, Swedia Selatan yang diduga juga sengaja dibakar.

Pada Hari Natal 2014, lima orang luka-luka ketika sebuah bom bensin dilemparkan melalui jendela ke dalam masjid di Eskilstuna, sebelah timur ibukota Stockholm.

Sementara itu di Jerman, sebuah masjid di kota Bad Salzuflen, Jerman, dibakar pada 11 Oktober 2014.

Masjid itu berada di lantai pintu masuk gedung, di mana pemadam kebakaran melaporkan telah menyelamatkan sembilan orang, tiga di antaranya anak-anak.

Masjid itu banyak dihadiri jamaah berdarah Turki di Jerman, di mana saat itu Islamofobia sedang meningkat tinggi.

Sebelumnya, Masjid Mevlana di Kreuzberg, Berlin, juga dibakar pada 11 Agustus 2014. Kreuzberg juga dijuluki dengan nama “Little Istanbul” di mana warga Turki terbesar di Jerman tinggal di distrik itu, sekitar 40.000 orang.

Satu hari sebelum serangan di Berlin, Masjid Raya Sulaimaniah di kota Bielefeld dibakar oleh tersangka yang membakar Al-Quran di masjid.

Pada bulan Februari, Masjid Central di Cologne, salah satu masjid terbesar di Jerman, menjadi sasaran serangan. Tersangka menabrakkan mobil ke pintu masjid dan berusaha untuk membuat masjid terbakar.

Di Jerman sudah terjadi 81 serangan yang menargetkan masjid sejak 2012. Sebanyak 219 serangan dilakukan antara tahun 2001 hingga 2012.

Meskipun pembakaran tetap langka, namun kejahatan dari kebencian yang menargetkan Muslim di Eropa telah menyebar.

Muslim di Swedia dan Jerman adalah dua contoh kondisi Muslim minoritas di negara-negara Eropa lainnya yang mengalami kondisi ancaman yang tidak jauh berbeda. Terlebih jika ada peristiwa kejahatan yang pelakunya dihubungkan dengan Muslim, maka serangan rasis dan anti-Islam akan meningkat tajam.

Muslim bangun gereja

Di saat Muslim Eropa harus bersabar ketika masjid-masjid mereka diserang dan dibakar oleh orang-orang anti-Islam, Muslim di sisi lain tampil sebagai pendukung dan penguat umat beragama lain.

Salah satu gereja di Carolina Selatan, Amerika Serikat, yang dibakar pada pertengahan Juni 2015. (Foto: dok. Muslimvillage.com)
Salah satu gereja di Carolina Selatan, Amerika Serikat, yang dibakar pada pertengahan Juni 2015. (Foto: dok. Muslimvillage.com)

Sebuah kampanye pembangunan yang diluncurkan pertengahan Ramadhan lalu oleh aktivis dan organisasi Muslim Amerika Serikat (AS), telah mengumpulkan lebih dari $ 53.000 untuk membantu membangun kembali gereja-gereja yang terbakar.

Pendapatan dana amal itu melampaui target awal yang hanya sebesar AS $ 10.000 dengan target donasi dari seluruh dunia.

Kampanye galang dana ini dipelopori oleh tiga kelompok: Kolaborasi Muslim Anti-Rasisme, Asosiasi Amerika Arab New York, dan Ummah Wide.

“Semua rumah ibadah adalah tempat-tempat suci, tempat di mana semua harus merasa aman, tempat kita bisa berlindung ketika dunia terlalu berat untuk ditanggung,” tulis para aktivis di situs kampanyenya.

“Sekarang, mari kita bersatu untuk membantu saudara-saudara kita dalam imannya.”

Warga AS baru saja berduka oleh pembunuhan mengerikan sembilan anggota Gereja AME Emanuel di Charleston, Carolina Selatan, pada 17 Juni.

Serangan terhadap gereja berjamaat warga Amerika kulit hitam terjadi setelah kematian tragis sembilan orang itu.

Pria 21 tahun, Dylann Roof, telah ditangkap dan didakwa dengan pembunuhan, di mana penyelidikan FBI menyatakan serangan dilakukan atas dasar kebencian.

Semua orang yang terbunuh adalah warga Afrika Amerika berkulit hitam.

Dalam sebuah laporan oleh Voiceonline, kampanye penggalangan dana merupakan gagasan mahasiswi Muslim berkulit hitam Faatimah Knight, yang Ramadhan ini pernah berbuka puasa bersama Presiden Barack Obama.

Faatimah mengatakan, Islam menekankan perlindungan bagi yang lemah dan rentan. Dia mengatakan, komunitas Kristen berkulit hitam dari Selatan mungkin tidak lemah, tapi mereka rentan.

Pada akhir 2013, sebuah komunitas Muslim di Philipina mengejutkan tetangga Kristen mereka dengan membangun kembali gereja Katolik yang hancur akibat pertempuran antara pemerintah dengan pejuang Muslim akhir September 2013.

“Kami berpikir mereka hanya membangun kembali masjid yang rusak,” kata Jimmy Villaflores, kepala desa Santa Catalina kepada media Inquirer Mindanao.“Kami tidak pernah mendengar Muslim membantu membangun kapel sebelumnya.”

Kapel yang asalnya dibangun pada awal 1980-an hampir sepenuhnya runtuh selama pertikaian tersebut, tetapi sekarang telah terbangun kembali.

tidak terprovokasi

Protes yang terjadi bersamaan dengan pelaksanaan shalat Idul Fitri di Kabupaten Tolikara, Papua, hingga mengakibatkan terbakarnya sebuah mushalah, Jumat (17 Juli), ternyata tidak membuat tokoh Muslim di Papua terprovokasi untuk melakukan aksi balasan.

“Warga Papua di sini, baik Muslim dan non-Muslim, sangat menyayangkan kejadian itu. Namun kami tetap rukun satu sama lain,” kata aktivis dakwah Papua, Abdul Wahab, di sela pertemuan sejumlah tokoh agama, TNI dan Polri, di Kanwil Kementerian Agama Papua, Jayapura, Ahad (19 Juli), harian Republika melaporkan Senin, 20 Juli 2015.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua, Saiful Islam Al Payage pada Ahad 19 Juli menyerukan Muslim di Tolikara dan seluruh Indonesia untuk menahan diri dan menyikapi kejadian dengan lebih damai. Peristiwa ini diharapkan tidak menjadi pemicu kekerasan baru.

Saiful menyarankan masyarakat terus membangun komunikasi satu dengan lainnya untuk saling menguatkan.

Islam bukan agama pendendam

Menanggapi konflik yang terjadi di Karubaga, Tolikara, Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah) Yakhsyallah Mansur menegaskan, tugas umat Islam adalah menjaga tempat ibadah agama lain.

“Umat Islam Indonesia jangan terprovokasi dengan kasus yang kemarin (Jumat) terjadi di Tolikara. Sesuai firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 40, tugas kita memelihara dan menjaga tempat ibadah agama lain. Jadi, kekerasan jangan dibalas dengan kekerasan pula,” tutur Yakhsyallah di Lampung saat dihubungi wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA), melalui sambungan telepon, Sabtu (18/7).

Duta Al-Quds Internasional ini juga menegaskan, umat Islam agar waspada dengan aksi pemutarbalikan fakta oleh pihak-pihak yang benci Islam jika Muslim melakukan aksi balasan.

“Sebagai contoh di Myanmar, media-media pro-Budha Rakhine memberitakan pembunuhan dilakukan oleh umat Islam. Mereka membungkus para korban Muslim dengan pakaian Budha seolah-olah mereka korban sebenarnya dan umat Islam pelaku kekerasannya. Begitulah media anti-Islam memberitakan,” paparnya.

Lebih lanjut dia menghimbau umat Islam untuk lebih menghayati makna rahmatan lil alamin.

“Islam pembawa kedamaian, bukan pembalas dendam. Memaafkan lebih baik dari membalas kejahatan,” tegasnya.

Yakhsyallah menambahkan, peristiwa Tolikara juga membuktikan tidak ada toleransi di luar Islam. Sementara dalam Islam sangat ditekankan toleransi. (T/P001/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Ismet Rauf

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.

Comments: 0