Memantapkan Hubungan Indonesia-Pakistan (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

Hari ini, Selasa 23 Maret merupakan Hari Nasional Pakistan, menandai sebuah resolusi bahwa negara itu menjadi Republik Islam pertama di dunia pada 23 Maret 1956 lalu.

Pakistan berdiri berkat kegigihan perjuangan Muhammad Ali Jinnah dan segenap tokoh Muslim lainnya yang dengan tegas mengatakan di hadapan Pemerintah Inggris dan Partai Kongres bahwa mereka ingin membentuk pemerintahan sementara, terpisah dari pemerintahan Hindu di India. Saat itu Pakistan dan India adalah satu negara.

Ali Jinnah memboikot rencana sidang Dewan Konstitusi pada 1946. Kondisi politik semakin buruk ketika terjadi pertikaian antara umat Hindu dan Islam semakin membuat umat Islam menuntut berdirinya negara Pakistan sebagai negara Islam, hingga akhirnya berdirilah Negara Republik Islam Pakistan.

Negeri yang bersebelahan dengan Afghanistan dan Iran itu menyimpan banyak sejarah di masa lampau. Beberapa kerajaan besar pernah barjaya di wilayah itu. Salah satunya yang terkenal adalah Dinasti Mughal dengan Kota Lahore sebagai pusat pemerintahannya. Banyak sekali bangunan bersejarah peninggalan kerajaan Mughal dengan arsitekturnya yang khas Islami. Salah satunya adalah Masjid Badshahi yang dibangun pada abad ke-17 Masehi.

Pakistan juga tersohor dengan aneka masakannya yang lezat. Masakan berupa olahan daging, kari, diramu dengan rempah-rempah yang khas. Salah satu contoh masakan khasnya adalah Biryani. Hidangan khas berupa nasi dengan olahan daging kambing atau ayam dicampur aneka rempah, kentang dan cabai hijau. Selain itu, ada minuman yang terkenal, yaitu Chai; minuman teh khas Pakistan yang dicampur dengan susu dan rempah-rempah.

Lantas, bagaimana dengan penduduknya. Warga Pakistan memiliki budaya yang dibalut dengan nilai-nilai Islami dengan khas adat ketimuran. Masyarakat Pakistan sangat ramah dan menghormati para tamu. Senyum, salam dan sapa sudah menjadi kebiasaan warga lokal kepada para tamunya.

Memori Kebersamaan Indonesia-Pakistan

Indonesia memiliki ikatan “emosional” dengan Paksitan. Sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga kini, hubungan itu tetap terpelihara. Mengapa demikian? Jika kita tilik sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1949 silam, sekitar 600 personel militer Pakistan yang sedianya merupakan bagian dari pasukan Sekutu, memilih membelot dan bergabung bersama para pejuang Indonesia setelah mengetahui bahwa yang akan di serang adalah orang-orang yang seagama dengan mereka (Islam). Semangat para tentara Pakistan semakin bulat membela bangsa Indonesia setelah mendengar seruan tokoh revolusioner Pakistan kala itu, Muhammad Ali Jinnah (pemimpin Liga Muslim), untuk mendukung perjuangan Indonesia.

Sebagai pengakuan terhadap tentara Muslim dari Pakistan, pada perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1995, Indonesia memberikan penghargaan Independence War Awards kepada mantan tentara Pakistan yang masih hidup dan memberikan penghargaan tertinggi, yaitu Bintang kelas 1 Adipurna kepada Bapak Bangsa Pakistan, Muhammad Ali Jinnah.

Di sisi lain, Indonesia juga tercatat memiliki peran besar terhadap Pakistan dengan mengirimkan Angkatan Laut Indonesia beserta kapal selam dan persenjataan lengkap untuk mengamankan perairan Pakistan ketika bertikai dengan India pada 1965. Ketika itu, kekuatan militer Indonesia diperkirakan sebagai yang terkuat di belahan bumi selatan. Dukungan Indonesia ini juga disampaikan dalam materi pembelajaran di sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP di Pakistan.

Tingkat kepercayaan orang Pakistan terhadap Indonesia sangat tinggi, begitu juga sebaliknya. Dalam sebuah survey yang dikeluarkan kantor berita BBC World Service pada 2017, sebesar 38 persen masyarakat Indonesia memiliki pandangan positif mengenai Pakistan.

Indonesia dan Pakistan merupakan dua negara dengan populasi penduduk mayoritas beragama Islam. Jika penduduk Muslim Indonesia dan Pakistan digabung, maka angkanya mencapai seperempat total penduduk Muslim dunia.  Jika orang Indonesia bertemu muslim di Pakistan, maka tak heran jika ada yang menyapa “ Akhi (saudaraku sesama Muslim), sambil menjabat tangan erat atau bahkan saling berpelukan, tentu saja antara sesama lelaki atau wanita, bukan antara lelaki dan perempuan.

Harapan Kerja Sama Selanjutnya

Dalam pertemuan Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur dengan Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Muhammad Hassan, Senin 22 Maret di Kedubes Pakistan, Dubes berharap, Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar terhadap penyelesaian krisis Kashmir. “Indonesia sebagai sebuah negara yang besar, berpenduduk terbanyak keempat dunia, tergabung dalam himpunan negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang maju (G20), serta dikenal konsisten dalam perjuangan mendukung bangsa yang terdzalimi seperti Palestina, maka suara Indonesia akan didengar dan diperhatikan masyarakat internasional,” kata Dubes Hassan.

Sementara itu, Imaam menyampaikan, ke depan, hubungan Indonesia dengan Pakistan harus semakin intensif dan saling menguntungkan, dilandasi dengan semangat ukhuwah Islamiyah (semangat persaudaraan dalam Islam) sebagai saudara seiman dan seperjuangan.

Jika sebuah kerja sama dilandasi dengan Ukhuwah Islamiyah, maka Allah Subahanahu wa Ta’ala akan memberikan pertolongannya, memberkahi buhungan keduanya sehingga Allah berikan keberkahan dan kesejahteraan bagi kedua negara.

“Barang siapa yang saling mencintai karena Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan-Nya di dunia dan akhirat, dimana tidak ada yang dapat memberikan petolongan selain Dia,” kata Imaam Yakhsyallah.

Imaam Yakhsyallah berharap, hubungan Indonesia – Pakistan tidak hanya antar pemerintah (Government to Government) tetapi juga people to people (kerja sama antar warga negaranya).

Sebagai wujud perhatian dan kepeduliannya terhadap krisis Kashmir, yang juga menjadi agenda utama Pemerintah Pakistan, Imaam menulis sebuah buku berjudul “Kashmir yang Membara dan Solusinya”. Buku itu menawarkan solusi krisis Kasmir dengan pendekatan sosial, pendidikan dan keagamaan, bukan pendekatan politik.

Dalam bidang pendidikan, saat ini sudah ada 218 mahasiswa Indonesia yang belajar di Pakistan. Sementara, di tahun 2021, Indonesia menyediakan sedikitnya 166 beasiswa bagi pelajar Paksitan untuk dapat merasakan kuliah di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan people to people kedua negara cukup intens di bidang pendidikan. (A/P2/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)