Membangun Rumah Sakit Kebanggaan Indonesia di Gaza, Palestina

Yayasan Media Group menyerahkan bantuan sebesar Rp 6. 507.911.514 untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza, Palestina.

Setelah penyerahan dana tersebut, dilanjutkan wawancara tentang pembangunan RSI Gaza. Berikut wawancara antara Ali Sadikin, Ketua Yayasan Media Group dan dr. Arief Rachman, Presidium Medical Emergency Rescue-Commitee (MER-C) dengan pewancara Metro TV di Jakarta.

Pewancara: Katanya perjuangan di Gaza masih panjang, lalu berapa donasi yang berhasil dikumpulkan Yayasan Media Group dan bagaimana proses auditnya nanti?

Ali Sadikin : Ya hari ini kita serahkan melalui MER-C Rp 6,5 miliar lebih, semoga ini menjadi awal yang baik, karena kita berharap kepada seluruh rakyat Indonesia tetap meningkatkan kepedulian kepada rakyat Palestina, bisa ke Media Group atau langsung ke MER-C, yang jelas Rumah Sakit Indonesia (RSI) sudah berdiri di Gaza, tinggal kita kembangkan.

Pewancara: Sebenarnya membutuhkan berapa lama untuk mengumpulkan dana sejumlah itu?

Ali Sadikin: Sebenarnya kita ingin mengumpulkan selama satu tahun, namun karena adanya bencana lain di Indonesia, sehingga kita hanya bisa mengumpulkan selama tiga bulan. Dan kita berharap ini bisa kita lanjutkan.

Pewancara: Lalu bagaimana keadaan Rumah Sakit Kebanggaan Masyarakat Indonesia di Gaza pada pembangunan tahap kedua  ini?

dr. Arief Rachman: Alhamdulillah, setelah diserahterimakan pada Desember 2015 lalu, RSI sudah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi warga Palestina di Gaza.

Posisi RS yang berada hanya dua kilometer dari perbatasan Israel di utara, sering terjadiadi eskalasi konflik, seperti, hampir setiap Jumat masyarakat mengadakan aksi The Great Return of March yang ditanggapi dengan kekerasan senjata oleh tentara Israel, jadi dengan adanya RSI dapat membantu menyelamatkan kehidupan di sana.

Pewancara: Bagaimana dengan proyek penambahan dua lantai RSI di Gaza?

dr. Arief Rachman: Di satu sisi, apa yang kita bangun sejak tahun 2013 lalu masih banyak perlu perbaikan, ruangan yang kita sediakan ternyata jauh dari cukup. Semua ruangan dalam keadaan penuh, bahkan empat ruangan operasi yang disediakan hanya bisa dipakai dua saja.

Karena itu, ketika ingin semua pelayanan dapat berjalan, harus ada penambahan kapasitas ruangan dan alat medis, jadi hal tersebut yang menjadi pertimbangan MER-C untuk menambah dua lantai lagi (Lantai 3-4). Lantai 3-4 ini yang nanti kita proyeksikan untuk utamanya penambahan tempat tidur dan pelayanan intensif.

Pewancara: Dengan kondisi RSI yang dekat dengan area konflik dan sering terkena dampaknya, untuk pembangunan tahap kedua, apa tantangan terbesarnya?

dr. Arief Rachman: Tentu tantangan terbesarnya bukan dari perbatasan, dalam artian Gaza hanya punya lima perlintasan, warga atau barang tidak bebas bisa masuk, sehingga ketersedian material ini tentu akan mempengaruhi lama tidaknya pengerjaan RSI.

Hampir semua alat juga didatangkan dari luar Gaza, dan otoritas Israel melakukan screening yang luar biasa, alat-alat yang tidak sesusai akan ditahan.

Pewancara: Bagaimana peran para relawan yang sedang membangun RSI di Gaza saat ini?

dr. Arief Rachman: Kita sangat terbantu dengan adanya 28 relawan kontruksi dari Indonesia yang berasal dari Jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah. Jika pembangunan RSI memakan waktu lebih lama dari target, maka pembiayaan tidak naik, karena mereka relawan sehingga tidak digaji.

Pewancara: Berapa estimasi biaya yang diperlukan dalam pembangunan RSI di Gaza pkedua kali ini?

dr. Arief Rachman: Biaya pembangunan tahab kedua kali membutuhkan sekitar Rp 70 miliar. Jumlah ini lebih sedikit dari pembangunan tahab pertama yang memerlukan dana Rp 130 miliar. Kebutuhan dana lebih sedikit karena alat-alat medis sudah hadir di awal dan sekarang tinggal menambah kapasitas ruangan dan beberapa alat-alat medis saja.

Pewancara: Kira–kira apa lagi yang dibutuhkan warga Palestina selain RSI?

dr. Arief Rachman: Gaza ini sudah tertutup dari dunia luar sejak 2007, artinya banyak masyarakat tidak bisa keluar dan orang luar tidak bisa masuk (isolasi) atau disebut “penjara raksasa”. Oleh karena itu mereka tidak hanya butuh bantuan material, namun juga bantuan moril.

Misalnya, RSI ini dirancang supaya staff medis di dalam dapat berhubungan dengan luar, contohnya ketika staff medis operasi mendapatkan kesulitan, di ruang operasi sudah tersedia kamera online, sehingga ahli dari luar bisa memandu mereka. (W/Sj/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)