MENAG, 2015 TAHUN EMAS BAGI PONDOK PESANTREN

Foto: Kemenag
Foto: Kemenag

Jakarta, 20 Rabiul Awwal 1436/11 Januari 2015 (MINA) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap tahun 2015 dan tahun-tahun berikutnya menjadi tahun emas bagi pondok pesantren.

Hal itu disampaikan Menag saat meresmikan gedung baru Al-Azhar dan peletakan batu pertama pembangunan asrama Wali Songo di Pondok Pesantren Moderen Baitussalam, di daerah candi Prambanan.

“Saya berharap tahun ini dan beberapa tahun ke depan menjadi tahun emas bagi pondok pesantren,” ujar Menag, sebagaimana rilis resmi Kemenag yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Lukman mengatakan, apa yang disampaikanya bukan sebuah mimpi di siang bolong. Hal itu dapat diwujudkan dengan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan pesantren secara kontinyu dan serius.

“Program beasiswa santri berprestasi yang bekerjasama dengan kampus-kampus seperti UGM, ITB, Unair, ITS, UIN dan perguruan tinggi lain, merupakan bukti prestasi yang berhasil ditorehkan para santri, dimana hal itu sebelumnya tak pernah kita duga,” kata Lukman.

Dia menambahkan, dari program itu lahir para santri yang menguasai aneka disiplin ilmu seperti IT, dokter, ekonom, arsitek dan bidang lainnya yang selama ini belum pernah dimiliki.

Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, juga telah menempatkan pesantren pada pusara pendidikan nasional.

Menurutnya, model regulasi yang telah memberikan ruang gerak dan penghargaan yang luar biasa terhadap keberadaan pesantren itu harus di jadikan momentum kebangkitan pesantren.

“Sepanjang 2014, saya telah menandatangani dua regulasi terkait pesantren, pertama PMA No 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, dan yang kedua PMA no 18 tahun 2014 tentang Satuan Pendidikan Muadalah,” ujar Menag.

Ia menambahkan, pesantren telah berhasil mencetak generasi-generasi unggul yang berkomitmen mendedikasikan dirinya untuk kemajuan bangsa yang dilandasi oleh jiwa ikhlas dalam berjuang dan beramal.

“Letak sejarah perjalan kehidupan pesantren setidaknya telah menghantarkan lembaga pendidikan keagamaan khas bangsa Indonesia pada tiga peran besar, yaitu perannya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, sebagai lembaga dakwah dan perannya sebagai lembaga sosial kemasyarakatan,” jelas Lukman.

Menurutnya, sebagai lembaga pendidikan keagamaan, peran kependidikan pesantren tidak berhenti pada kajian-kajian keagamaan saja tetapi juga berkembang hingga memasuki wilayah kesadaran sosial terkait isu-isu kekinian yang universal. (T/P010/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0