Mendidik Anak  Seperti Amil (Oleh: Nana Sudiana)

*Penulis adalah Sekjen. Forum Zakat & Direksi  Inisiatif Zakat Indonesiia (FOZ & IZI.

Ada satu hal lagi, para amil yang juga orang tua pasti akan bangga ketika apa yang ia lakukan ternyata diikuti dan diteruskan oleh anaknya. Bahkan lebih dari itu, ia juga mungkin amat terharu bila akhirnya, anak kandungnya sendiri menghargai dirinya dan profesinya sebagai amil.

Bagi orang tua yang amil, tak peduli seberapa lama seorang anak biologisnya membantu pekerjaan dirinya sebagai amil, ia tetap akan merasa bangga dan merasakan kepuasan dalam mendidik seorang anak.

Dengan situasi tadi, seorang ayah atau Ibu yang amil, merasa terbahagiakan hidupnya walau bisa jadi secara materi tak berlebihan. Ia merasa cukup, begitu juga jiwa-nya. Ada kebahagiaan dan rasa terima kasih atas balasan anak terhadap dirinya. Juga ada semacam rasa senang atas penghargaan anaknya atas profesi amil yang dijalani orang tuanya.

Pertanyaan-nya, apa saja yang perlu kita siapkan sehingga kita para amil punya kaderisasi amil berikutnya. Baik anak biologis kita maupun para amil muda yang akan menjadi penerus gerakan zakat Indonesia dan menjadi pembawa obor spirit kebaikan zakat di negeri ini.

Pertama: Didiklah Anak untuk Peduli Sesama

Para Nabi, Rasul dan orang-orang shaleh sebelum kita dalam hidup mereka tak hanya soal memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya semata. Mereka walau tak semua termasuk orang kaya, terbiasa menjadikan hidupnya bak sebuah tokoh atau tempat air minum sebelum ke gelas atau cangkir. Begitu teko ini ada isinya, maka tak menunggu lama, ia akan disdistribusikan bagi yang memerlukan. Kadang bukan soal uang saja, bisa makanan, pakaian dan beragam kebutuhan lainnya. Kita para amil yang selama ini berjuang, yang kadang penuh keprihatinan dan bercucuran keringat, terbiasa membantu sesama.

Nah sesekali, ajak dan biasakan anak-anak kita untuk jadi bagian yang memberikan sesuatu pada sesama. Baik harta benda yang kita miliki atau amanah pihak lain yang ada pada kita untuk dibagikan pada yang memerlukan. Anak-anak yang sejak kecil mengerti dengan pekerjaan orang tuanya sebagai amil, Insyaallah ia akan paham bagaiamana posisinya begitu ia dewasa dan memiliki harta benda serta kedudukan dalam kehidupannya. Legacy yang kita harapkan, pada dasarnya lebih luas dari barang atau uang yang kita bisa berikan pada anak kita, namun justru yang akan mereka terima adalah nilai-nilai kemuliaan dalam kehidupan manusia.

Anak-anak amil harus tahu, bahwa air mata dan darah-nya yang jatuh dalam berjuang menjadi amil zakat adalah sebuah jalan baik dalam mendekatkan diri-nya pada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di jalan ini, pengorbanan selalu diperlukan, karena memang untuk menjadi insan mulia, terkadang ada begitu banyak halangan dan tantangan-nya. Sejarah telah membuktikan, tiada satu Nabi, para ulama dan oang-orang soleh yang hidupnya lantas merasa nyaman dan berhenti berjuang Ketika dirinya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Inilah makna spirit amil zakat, boleh jadi anak-anak seorang amil akhirnya jadi apapun, namun dalam jiwanya harus tertanam kepedulian dan cinta pada sesama manusia, termasuk kesediaannya untuk adil dan menjadi solusi atas problematika yang dihadapinya.

Kedua: Libatkan Anak dalam Kegiatan Orang Tua

Di manapun bumi di pijak, menjadi orangtua yang didengar dan diperhatikan nasihatnya oleh anak-anaknya sendiri tentu saja membanggakan. Lebih dalam lagi kebanggaan ini, manakala anak-anaknya mampu meneruskan spirit dan perjuangan orang tua-nya yang berjuang di dunia amil zakat. Anak-anak para amil, tak cukup harus menuruti nasihat orang tuanya. Mereka juga harus tahu dan mengerti apa pekerjaan orang tuanya juga tujuan akhir yang ingin dicapai dalam hidupnya.

Untuk menguatkan konsep pengasuhan dan pendidikan agar spirit amil masuk ke dalam jiwa seorang anak, sejak dini perlu melibatkan anak dalam beragam kegiatan orang tua. Kegiatan ini diharapkan menumbuhkan habbit yang positif bagi diri anak serta akan membentuk konsep diri yang menyatu dengan apa yang dikerjakan orang tua.

Dengan begitu, tak perlu banyak nasihat dan arahan yang harus diberikan, cukup dengan interaksi langsung, maka transfer budaya dan keterampilan bisa secara otomatis terjadi. Di luar itu, tentu saja masih diperlukan doa-doa yang tak putus dari kita, para orang tua untuk kebaikan dan keberhasilan hidup mereka.

Ada setidaknya tiga manfaat penting manakala para amil melibatkan anak-anaknya sejak dini dalam kegiatan keseharian sebagai seorang amil, baik saat di kantor maupun ketika di lapangan.

Ketiga manfaat itu adalah : Pertama, anak-akan mendapatkan teladan yang baik untuk proses identifikasi perannya kelak dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat ; Kedua, rasa kagum atau adoration anak terhadap orang tuanya akan semakin membuka komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua, sehingga hubungan bertambah erat; dan Ketiga, anak belajar cara-cara berinteraksi sosial yang lebih luas terhadap orang lain. Hal ini muncul karena saat anak bangga dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan orang tuanya, ia juga belajar menghargai serta berempati atas peran orang lain.

Ketiga: Perbanyak Dialog Dua Arah

Semua kita mafhum, bahwa mendidik anak dan generasi muda untuk menjadi atau seperti seorang amil tidak mudah. Amil sebagaimana kita tahu karakter DNA-nya adalah pejuang. Ia terbiasa berkorban untuk orang lain dan mendahulukan kepentingan yang lebih besar. Dan dalam konteks kepemimpinan, menjadikan seseorang  menjadi amil pada dasarnya sedang menyiapkan sebuah generasi mas’uliyah dengan pundak yang siap menahan beban dakwah. Para amil ini, diharapkan mampu memikul amanah besar dakwah. Dakwah yang dimaksud di sini tentu saja dakwah zakat dan dakwah Islam secara umum. Para amil yang dididik ini diharapkan juga memilik ibadah yang khsuyuk, punya karakter sabar, jujur dan pemberani. Seorang Ulama menasehati : “Jadilah ahli ibadah sebelum kalian jadi amil”. Dengan situasi ini, menjadi amil tentu saja tak bisa dilimpahkan pada orang-orang yang urusan dirinya sendiri saja belum selesai. Menjadi amil dengan alasan tadi, tak mungki mampu dipikul oleh generasi rebahan, yang terlalu santai hidupnya dan tanpa motivasi yang kuat untuk membantu dan berkorban bagi sesama.

Dengan besarnya harapan tadi, menjadi amil jelas butuh persiapan panjang serta penyiapan mental yang tak mudah. Dan untuk menguatkan mental anak-anak kita, juga generasi muda amil Indonesia, kita butuh memperkuat dialog dengan anak-anak kita ini. Dialog ini penting untuk memastikan respon dan kepahaman anak-anak dan generasi muda akan apa yang akan dikerjakan dan dilakukan di masa yang akan datang. Dengan memperbanyak dialog, kita transfer perasaan, keinginan dan harapan secara sadar dalam bingai keyakinan yang sama bahwa masa depan itu akan lebih baik.

Keempat: Ajarkan Kasih Sayang Sejak Dini

Mendidik anak ibarat menanam pohon jambu batu. Bisa saja membutuhkan waktu lama untuk sampai memetik hasilnya. Walau lama, kita tetap menunggunya dengan sabar. Durasi menunggu ini tak sama satu sama lainnya, bahkan bisa bertahun-tahun, itu pun tak pasti. Dan Ketika berbuah pun, di periode awal, belum semua muncul bunga dan apalagi menjadi buah yang banyak. Lamanya waktu Ketika menunggu, tiba-tiba seolah hilang manakala pohon jambu batunya berbuah. Kira-kira begitulah perasaan kita sebagai orang tua saat mendidik anak. Penuh tantangan dan dinamika. Namun akhirnya terbayar lunas manakala anak yang kita didik berhasil dalam kehidupannya, bahkan lebih baik dari kita semua.

Kasih sayang, baik terhadap anak maupun sesama manusia ibarat sebuah gelombang. Ia akan merambat dan mengalir melewati medan yang luas.  Fenomena anak-anak amil yang bermasalah bila kita dalami ternyata masalahnya mereka kurang perhatian dan kasih sayang. Di sadari atau tidak, kenapa kita sendiri (para amil) dan juga anak-anak dan generasi muda amil daya juangnya sering melemah?, tiada lain juga bisa jadi kurangnya perhatian dan kasih sayang para sesepuh atau pendahulu gerakan zakat ini. Dengan daya juang yang lemah, maka bisa menggangu estafet dakwah. Dengan kelemahan ini juga, proses pencapaian Langkah menuju cita-cita kebaikan di masa depan bisa semakin berat.

Pelarian anak akan kasih sayang, bisa ke banyak hal. Termasuk ke dalam hal ini adalah munculnya kecanduan anak-anak pada gadget, game online, youtube dan lain-lain. Hal ini bisa mengakibatkan relasi yang terbangun antar generasi jadi tak normal. Ada kesulitan komunikasi dan pada akhirnya akan merusak relasi anak-ayah atau sebaliknya. Bahkan bisa juga relasi horisontal antar generasi menjadi tak harmoni. Walau generasi hari ini secara  fisik lebih baik, didukung dengan kemajuan ekonomi dan peningkatan taraf hidup yang semakin baik, nyatanya dari sisi mental, belum tentu hal ini lebih baik. Di saat seperti inilah orang tua tetap harus memperhatikan anak-anaknya dengan baik dan terus memastikan agar mereka secara masuliyah mentalnya sehat, kuat dan tabah serta berada dalam lingkup kedisplinan dan keyakinan yang baik akan masa depan. Kita juga harus tetap memberikan kasih sayang dan bimbingan dalam segala hal.

Kelima: Pastikan Anak Paham Sebelum Menjadi Sesuatu

Ketika anak kita ingin kita dorong untuk jadi orang yang sukses dan berhasil dalam hidupnya, maka kita harus sudah menyiapkan mentalnya terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat atau mengajarkan sesuatu. Hal ini penting agar ada kesiapan mendasar dari seorang anak terhadap ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang akan diajarkan. Inilah yang disebut persiapan pemahaman sebelum ilmu. Pemahaman ini penting agar Ketika anak-anak mulai menikmati proses pendidikannya, ia telah kuat jiwanya, bahkan kelak siap memimpin masyarakat di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan lainnya yang lebih luas. Ia juga nantinya tanpa keterpaksaan akan menyerap ilmu secara maksimal dan secara konsisten akan terus belajar dengan sungguh-sungguh

Menuntut ilmu bagi seorang anak layaknya berjihad. Selain butuh kesadaran diri yang kuat untuk belajar, ia juga harus mampu menyerap ilmu yang dipelajarinya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya. Namanya ilmu, tentu akan mubazir bila justru tak berguna, atau malah justru membuat hal yang tidak baik.

Seorang amil yang juga orang tua, tentu saja berkeinginan besar anak-anak-nya sanggup menuntut ilmu dan mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Mereka bukan hanya harus soleh akhlaknya, namun juga menjadi seorang alim, orang yang berilmu dan mulia. Dengan pemahaman yang baik dan tertanam dalam jiwa seorang anak, bisa jadi kelak ia akan mampu menjadi solusi atas setiap permasalahan umat. Imam Syafii berkata: “Siapa yang masa mudanya tidak digunakan menuntut ilmu, maka dia akan merasakan kehinaan sepanjang hidupnya”.

Seorang amil yang Allah anugerahi anak-anak yang baik dan soleh atau solehah pastilah senang hatinya. Ia juga pasti akan bersyukur pada Allah atas amanah ini. Namun pertanyaan-nya, apakah anak-anaknya juga bangga memiliki orang tua yang berprofesi sebagai seorang amil?. Sebuah pepatah lama berkata “ketam menyuruh anaknya berjalan betul,” artinya, orang tua pandai menasihati anak, namun tak dapat melakukannya sendiri. Hal ini bisa saja terjadi ketika para orang tua yang sibuk lalu tiba-tiba berharap anaknya berhasil dan bisa ia banggakan. Orang tua seperti ini bisa jadi lupa bahwa diri mereka juga perlu menjadi orang tua yang membanggakan bagi anak-anak-nya. Relasi yang terbangun antara anak dengan orang tua ini amat tergantung pada kedekatan selama ini. Kalau ada anak seorang amil bangga bahwa orang tuanya adalah amil. Pastilah orang tua anak ini lebih bangga lagi. (R/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)