Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Amerika “Menjaga” Israel?

Arif Ramdan - Senin, 24 Juni 2024 - 06:56 WIB

Senin, 24 Juni 2024 - 06:56 WIB

4 Views

Tentara Zionis Israel. FOTO: Future Of Jewish

Oleh Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Antropolog tinggal di Banda Aceh

 

Sebagai “globocop”, Amerika Serikat benar-benar tidak ingin ada peluang bagi Palestina untuk menjadi anggota tetap PBB. Dalam rapat terakhir untuk menghasilkan Resolusi PBB untuk pengakuan Palestina, Amerika Serikat melakukan “hak veto” untuk peluang bagi Palestina menjadi bagian penting di PBB.

Sikap pemerintah Amerika Serikat yang ingin melakukan “baby sitting” untuk Israel tidak akan pernah berhenti. Dalam pertemuan saya dengan Pj. Duta Besar Amerika Serikat Michael F. Kleine di Banda Aceh, memang mengatakan, salah satu alasan penting mengapa Amerika benar-benar dekat dengan Israel adalah karena hanya Amerikalah yang bisa berbicara langsung dengan pihak Israel, dalam keadaan apapun situasinya.

Baca Juga: Itrek, Organisasi yang Membiayai Perjalanan Oknum Nahdliyin ke Israel

Atas alasan di atas, maka mau tidak mau, Amerika Serikat harus benar-benar mengawal semua kepentingan Israel di level internasional. Kendati tekanan bertubi-tubi atas genosida di Gaza, pihak Amerika Serikat tetap melakukan proses “baby sitting” dengan Israel.

Aliansi Amerika dan Sekutunya

Pengamat intelijen dan keamanan global, George Friedman dalam dua bukunya, The Next 100 Years: A Forecast for the 21 Century  dan The Next Decade: Empire and Republic in a Changing World, telah memaparkan bagaimana peran Amerika Serikat di masa yang akang datang. Di situ muncul satu istilah yaitu American Chaliphate (Khilafah Amerika). Salah satu argumen Friedman adalah: The United States is only at the beginning of its power. The Twenty-first century will be the American Century.

Karena itu, ketika ada negara-negara yang hendak menyaingi Amerika Serikat, baik sekarang dan di masa yang akan datang, akan mengalami tekanan demi tekanan, untuk tidak menyaingi kedigdayaan Amerika. Tulisan berkait ini beberapa di antaranya telah Saya sajikan di kba13.com dengan analisis mendalam dan terus diperbaharui.

Baca Juga: Perhatian Terhadap Yatim Piatu di Lingkup Nasional dan Internasional

Negara-negara yang hendak berhadapan langsung dengan Amerika Serikat dan Sekutunya adalah Rusia dan Cina. Rusia yang memiliki sejarah panjang sebagai Uni Sovyet yang runtuh pada tahun 1989, telah menjadi rival abadi Amerika Serikat.

Saat ini, konflik kedua negara ini dalam kategori shadow war (perang bayangan) yang terkadang menggunakan model Proxy War (Perang Proksi). Rusia memiliki hubungan yang cukup baik dengan Cina. Negara terakhir ini telah melebarkan sayap kekuatan globalnya melalui kekuatan kebijakan ekonomi, di mana mereka lebih tertarik melakukan investasi sebagai pendudukan suatu negara, ketimbang melakukan invansi militer, seperti Amerika Serikat.

Di tengah-tengah kedua negara di atas, maka muncullah Korea Utara di Semenanjung Korea, yang menjadi musuh abadi daripada Korea Selatan. Setelah negara-negara tersebut, muncul pula Iran yang merupakan rival abadi Israel, yang tidak akan pernah menundukkan diri kepada kekuatan Amerika Serikat dan sekutunya.

Pemetaan di atas menjadi satu barisan utama untuk menjadi rival secara geopolitik dan geo-ekonomi bagi Amerika Serikat. Di sini, Amerika membangun hubungan diplomatik yang cukup strategis dengan negara-negara tetangga yang menjadi musuh daripada ngara-negara di atas. Di Eropa Timur, Amerika Serikat bersama NATO berusaha mengunci setiap arah kebijakan Putin yang akan semakin memperlihatkan negara ini menjadi pemain utama di benua tersebut. Di Asia Selatan, India menjadi salah satu negara yang selalu berusaha menjadi lebih Amerika daripada orang Amerika itu sendiri.

Baca Juga: Memahami Makna Hidup Berjama’ah

Di Timur Tengah, kecuali Iran dan Yaman, dalam kategori tertentu Turki, maka semua negara tersebut sudah berada dalam “pelukan” Amerika, yang dikawal penuh kepentingan jangka panjangnya oleh pemerintah Israel. Adapun di Asia Timur, Korea Selatan dan Jepang menjadi mitra strategis Amerika Serikat, yang benar-benar ingin menjaga kestabilan di kawasan tersebut, sambil melirik setiap usaha Cina untuk mengganyang Taiwan dan dalam kategori tertentu, Hong Kong.

Di Asia Tenggara, Singapura dan Australia yang menjadi bagian dari “five eyes” mengawal kawasan ini daripada pengaruh Cina di Laut Cina Selatan dan dalam kategori tertentu, memonitor setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia. Sebab negara terakhir ini adalah negara yang paling banyak penduduk Muslim di dunia.

Jadi, dari pemetaan singkat di atas, tidak perlu diragukan bahwa Palestina menjadi tabung emosi umat Islam yang disiram apinya oleh Israel, di mana Amerika Serikat memberikan amunisi untuk membakarnya sampai habis, suatu saat.

Dari Proxy War ke Perang Nuklir?

Baca Juga: Larangan Memberikan Loyalitas dan Pertemanan dengan Yahudi

Ketika Perang Dingin dilakukan Amerika Serikat, dunia baru saja mengakhiri Perang Dunia ke-2. Saat itu, Proxy War menjadi tren untuk menaklukan suatu negara. Tidak perlu menghancurkan negara dengan mengirimkan pasukan, melainkan cukup dengan mendanai dan melatih beberapa kekuatan sipil yang dipersenjatai, kemudian mereka menjalankan kebijakan negara yang menjadi sponsor utamanya. Tren ini terus berlanjut sampai hari ini, tidak terkecuali apa yang sedang terjadi di Gaza.

Disadari atau tidak, hampir semua negara yang menjadi musuh abadi Amerika Serikat, mendapatkan sanksi ekonomi dari PBB ataupun dari Amerika Serikat dan sekutunya. Mereka harus bahu membahu membangun perekonomiannya di balik layar. Pemutusan hubungan diplomatik terkadang dilakukan, untuk memperindah plot drama, demi pemulusan sanksi ekonomi tersebut.

Akan tetapi ketika Proxy War tidak lagi efektif, maka salah satu pilihan yang sangat mungkin dilakukan adalah Perang Nuklir. Hingga saat ini, beberapa negara di dunia memang memiliki persenjataan Nuklir, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Cina, Israel, Korea Utara dan beberapa negara lainnya yang diduga telah membangun persenjataan nuklir, seperti Rusia dan Iran.

Kalau pun belum terjadi perang terbuka antara Amerika Serikat dengan Korea Utara, salah satu alasannya mungkin karena negara yang terakhir ini memiliki senjata nuklir yang diduga kuat, jika dilepaskan, akan sampai ke negara bagian Amerika Serikat.

Baca Juga: Perang Digital Membela Palestina

Karena itu, jika perang Nuklir ini benar-benar menjadi pilihan terakhir dari setiap keinginan perang yang tertunda, maka tidak menutup kemungkinan beberapa belahan dunia akan mengalami kegoncangan global.

Amerika Serikat selalu menggunakan “big stick” daripada “carrot” terhadap negara-negara yang mengancamnya di Timur Tengah. Akan tetapi untuk kawasan Laut Cina Selatan akan juga melakukan hal yang sama jika Cina mulai melakukan agresinya di Taiwan. Rusia akan melakukan hal yang sama, jika NATO mengeroyok mereka secara bersama-sama.  Maka peta dunia akan berubah total, jika perang nuklir benar-benar tersebut.

Apa Hubungannya dengan Israel?

Negara ini menjadi kunci perdamaian abadi di Asia Barat. Sebagai negara yang paling merasakan terancam selama 24 jam 7 hari seminggu, maka Israel akan terus memburu di manapun keberadaan rakyat Palestina, baik di dalam maupun di luar negeri.

Baca Juga: Diplomasi Publik Israel

Dalam konteks ini, Mossad sampai hari ini masih memburu diaspora Palestina, HAMAS, Ikhwanul Muslim, dan berbagai jaringan kekuatan ideologi di seluruh penjuru bumi. Selama mereka belum berhasil membumi hanguskan keturunan Palestina, baik di dalam negara maupun di luar negara Palestina, maka sampai kapan pun, Israel akan siaga.

Jika Israel siaga, maka Amerika dan sekutunya akan lebih siaga lagi. Sebab kalau Israel terganggu di Asia Barat, maka Amerika Serikat dan sekutunya tidak akan tinggal diam. Demikian pula, musuh abadi Amerika Serikat, seperti Rusia, akan terus siaga, sepanjang Amerika tidak bisa duduk diam di Washington DC.

Karena itu, perdamaian abadi di Asia Barat sulit dicapai, bukan dikarenakan jumlah penculikan yang dilakukan oleh HAMAS atau IDF, melainkan ada kesengajaan untuk menjadikan Israel lebih brutal di kawasan tersebut. Hal ini juga dipicu oleh kesengajaan Amerika Serikat untuk tidak mengakui Palestina menjadi Negara merdeka di tanah mereka sendiri. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Sinyal-Sinyal Kehancuran Zionis Israel Semakin Nyata

Rekomendasi untuk Anda