Menghilang Demi Gafatar

Illa Kartila
Illa Kartila

Oleh: Illa Kartila – Redaktur Senior Miraj Islamic News Agency/MINA

Laporan orang hilang terus mengalir ke kepolisian di banyak wilayah di seluruh Indonesia belakangan ini. Mereka yang menghilang bukan hanya orang-orang kebanyakan, tetapi juga warga terdidik mulai dari dokter, pegawai negeri sipil, karyawan bank yang sudah mapan hingga manajer perusahaan.

Kasus orang hilang merebak menjadi peristiwa yang menghebohkan ketika seorang dokter, Rica Tri Handayani dan anak balitanya Zafran, sempat menghilang. Setelah ditelusuri, dipastikan dokter tersebut terlibat organisasi terlarang Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Rica bersama anaknya dilaporkan hilang sejak 30 Desember 2015 dan ditemukan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Senin (11/1). Dia dijemput kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah bersama tiga orang lainnya saat hendak menuju Semarang, Jawa Tengah.

Dugaan bahwa dokter itu direkrut Gafatar muncul dari suaminya, dr Akbar Aditya Wicaksono yang menyebutkan Rica sudah aktif di Gafatar sebelum menikah. Setelah menikah, Rica tak terlalu aktif. Namun ketika Akbar kuliah di Yogya, Rica yang menetap di Lampung diduga kembali berkomunikasi dengan Gafatar, hingga akhirnya menghilangkan diri dan meninggalkan surat perpisahan pada suaminya.

Orang hilang lainnya adalah Erri Indra Kausar yang juga diduga bergabung dengan Gafatar. Dia menghilang sejak Agustus 2015. Mahasiswa asal Surabaya ini sempat menelepon keluarga dan meminta mereka tidak khawatir, namun tetap saja orangtuanya curiga.

Menurut ayahnya, Suharijono, Erri (19) telah bergabung dengan Gafatar sejak sebelum masuk perkuliahan. Saat hendak menghilang, dia pamit hendak ke luar rumah dan dijemput oleh salah seorang temannya, yang juga merupakan anggota Gafatar. Sejak itu Erri sama sekali tidak pernah pulang.

Silvi Nur Vitriani (20) juga dilaporkan hilang sejak Desember 2015 lalu. Diduga, mahasiswi semester 5 Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo juga bergabung dengan Gafatar.

Silvi yang dikira direkrut oleh pacarnya, menghilang setelah mengirimkan surat kepada keluarganya di Banjarnegara untuk berpamitan. “Yang Vivi lakukan adalah pengorbanan kepada Tuhan dalam penegakan dien.”

Gafatar, organisasi yang didirikan tahun 2012 itu sudah dipastikan terlarang oleh polisi dan MUI. Mereka disebut-sebut berkaitan dengan Negara Islam Indonesia (NII). Ajarannya pun disinyalir menyimpang. Ada yang menyebut “messiah”, Gafatar menggabungkan ajaran Islam dan Advent Hari Ketujuh.

“Sudah dilarang oleh MUI, sudah jelas. Tapi doktrinnya apa belum jelas,” kata Kapolda DIY Brigjen Pol Erwin Triwanto.

Namun, mantan Ketua DPD Gafatar Jawa Timur, Budi Lasmono, menolak oraganisasi masyarakat itu berada di balik hilangnya sejumlah orang. Menurut dia, tak ada instruksi untuk hijrah atau eksodus lantaran Gafatar telah dibubarkan sejak Agustus 2015. Dia berkilah, ada banyak alasan mengapa para bekas anggota Gafatar menghilang.

“Memang ada yang sifatnya karena masih mengikuti akidah-akidah yang dia dapat selama di Gafatar, tapi ada juga yang menghilang karena faktor ekonomi dan permasalahan dalam rumah tangga,” katanya.

Dia menyebutkan, Gafatar tak mengajarkan akidah yang menyimpang dari ajaran Islam. Mereka juga mempergunakan Al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia. Hanya saja, Gafatar juga menekankan para firman Allah dalam Al-Quran bahwa terdapat perintah untuk mengimani kitab-kitab terdahulu. “Ada kitab Taurat, Injil, Zabur, tapi juga tetap memegang Al-Quran.”

Selain itu, para pengikut Gafatar diwajibkan melaksanakan 10 perintah Tuhan yang pernah dibawa oleh Nabi Musa. Beberapa poin di antaranya ialah dilarang berzina dan harus menghormati kedua orang tua. “Tapi kenyataannya orang-orang yang hilang itu kan nggak pamit. Itu kesalahan individual, Gafatar tidak mengajarkan itu,” katanya.

Dia menduga, bekas anggota Gafatar yang menghilang kemungkinan besar berada di Kalimantan untuk bergabung dalam gerakan bercocok tanam. Sebelum berangkat, mereka biasanya juga telah menyiapkan area bercocok tanam di rumahnya masing-masing untuk dikelola keluarga.

Oleh karena itu, Budi membantah jika kedatangan para bekas anggota Gafatar ke Kalimantan tersebut untuk mendirikan negara Islam. “Mereka di Kalimantan menyewa lahan persawahan yang sudah ada. Ada perjanjiannya.”

DPD Gafatar Jawa Timur secara resmi dibubarkan Agustus 2015. Berdiri sejak 2011, Gafatar terpaksa dibubarkan karena tak mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Kementerian Dalam Negeri.

Bergerak di Bidang Sosbud?

Gafatar merupakan organisasi yang mengklaim bergerak di bidang sosial dan budaya. Visi, misi, tujuan dan program kerja organisasi kemasyarakatan ini sama sekali tak menyebutkan nama satu agama. Beberapa kegiatan Gafatar seperti donor darah sampai napak tilas memperingati hari Pahlawan 2012.

Namun, Gafatar ditolak warga di banyak kota karena dianggap aliran keagamaan sesat. Ketua Umum Gafatar, Mahful M. Manurung menyatakan, organisasi ini tak akan berevolusi menjadi organisasi keagamaan. “Masalah keagamaan bukanlah menjadi ranah kerja Gafatar. Urusan agama kita serahkan kepada ahlinya dan pribadi masing-masing.”

Ormas ini juga dituding sebagai perpanjangan dari sekte Al-Qiyadah al Islamiyah, Komunitas Millah Abraham (Komar), pimpinan nabi palsu Ahmad Mushaddeq sejak awal kemunculannya. Menurut Ketua DPD Gafatar Jawa Tengah, HS Cakraningrat,  organisasinya bergerak di bidang sosial, budaya dan ilmiah.

“Kami dituding berafiliasi dengan aliran sesat, itu tidak benar. Dulu kami pernah disusupi, tapi sudah dilakukan pembersihan. Kami ini Ormas yang bergerak melestarikan budaya Indonesia,” katanya.

Tetapi, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh telah mengeluarkan fatwa bahwa Gafatar beraliran sesat. Pengurus Gafatar Aceh diadili di PN Banda Aceh dengan tuduhan menyebarkan aliran sesat. MUI Maluku Utara menghentikan seluruh kegiatan Gafatar sejak 27 Maret 2015, karena dianggap mengajarkan berbagai aliran yang bertentangan dengan nilai Islam, di antaranya melarang orang menunaikan salat, zakat, dan puasa.

Gafatar diduga merekrut mantan aktivis keagamaan, khususnya anak muda dengan latar belakang profesi. “Itu yang berhasil kami deteksi. Kami akan telusuri lebih jauh siapa sasaran rekrutmen Gafatar,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Cholil Nafis menyebutkan, Gafatar juga menyasar orang berpendidikan tinggi yang tertarik dengan agama tapi tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mencukupi.

Mantan pengikut NII, Ken Setiawan mengatakan kepada sebuah media, Gafatar dalam basis gerakannya tak jauh berbeda dengan NII. Organisasi ini menanamkan simpatik kepada warga lewat beragam kegiatan positif seperti donor darah, pelatihan atau bimbingan belajar gratis. “Propaganda ketidakadilan yang diterima warga negara, menjadi rumus ampuh untuk merekrut anggota khususnya para generasi muda.”

Ormas Ilegal

Mimpi Gafatar untuk membuat negara baru ditunjukkan, salah satunya dengan menyediakan perkampungan khusus pengikutnya di Kalimantan Barat. Penelusuran polisi menunjukkan, ada lahan seluas 5.000 hektare yang telah disiapkan untuk pemukiman.

Perkampungan itu, kata Ken yang kini mendirikan NII Crisis Center, dikelompokkan berdasarkan asal daerah para pengikutnya. Sebab itu, kenapa muncul laporan orang hilang, beberapa diantaranya ditemukan di Kalbar.

Ken mengaku NII Crisis Center telah banyak menerima laporan warga hilang. “Teman saya di Bangka Belitung, empat kepala keluarga anaknya hilang. Di Ciledug, satu keluarga tiga anaknya hilang positif masuk Gafatar. Juga di Yogyakarta, Banyumas, Bojonegoro, jadi banyak sekali.”

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, ormas Gafatar tidak layak diikuti masyarakat. Pasalnya, ormas itu tidak terdaftar di Kementerian Dalam Negeri. Selain itu, dari sisi keormasan Gafatar dianggap ilegal. “Mereka tidak menyatakan diri sebagai islam. Tapi mereka ingin menyatukan agama ibrahimiyah, seperti islam, yahudi dan kristiani.

Dia menilai, ada kecenderungan ormas itu berpotensi radikalisme. Namun, itu tetap harus didalami kembali oleh pihak kepolisian. Ia berharap polisi bisa menemukan latar belakang dan motif penyebaran Gafatar di masyarakat. “Terus dilakukan penelusuran, pengamatan dan pelacakan terhadap gerakan itu.”

Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan mengakui, aliran Gafatar kian meresahkan masyarakat. “Aliran ini tidak menimbulkan reaksi kekerasan, hanya saja mereka tidak mengikuti ajaran agama yang benar sehingga kalau diibaratkan ini aliran nyeleneh.”

Aliran nyeleneh ini menurut Luhut, harus diluruskan. Meski ada informasi bahwa Gafatar yang ada di Kalbar sudah membubarkan diri, namun masih didalami bagaimana bisa, masuk ke Kalbar dan membangun komunitas melalui bidang pertanian.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) juga menegaskan, semua ajaran yang tidak benar harus dilarang.

Meski JK mengaku tidak mengetahui banyak soal organisasi ini, tetapi jika Gafatar terbukti menyimpang dan melakukan tindakan-tindakan melanggar hukum, maka perlu ditindak tegas.

“Kalu itu memang melanggar keyakinan yang bersifat umum di masyarakat ya, memang ada aturannya. Apalagi, ada masalah-masalah orang hilang,” katanya.

Majelis Ulama Indonesia menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsudin, juga sudah mengeluarkan fatwa, bahwa  kelompok ini masuk kategori aliran sesat dan menyesatkan. “Gafatar ini ternyata ada tali temali dengan sebuah gerakan yang beberapa tahun lalu menyebut Al Qiyadah Al Islamiyah pimpinan Ahmad Musadeq yang mengaku sebagai nabi baru.”
(R01/P4).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)