MENJAUHI ROKOK SEBAGAI BAGIAN DARI NILAI TAQWA

Uray-Helwan
Uray-Helwan
Uray Helwan Rusli

Oleh: Uray Helwan

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَـغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله ِمِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا  وَ مِنْ سَـيِّـَئاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,  أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيرًا بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ, مَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَـقَدْ رَشَدَ, وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَاِنَّهُ لَا يَضُرُّ اِلَّا نَفْسَهُ وَلَا يَضُرُّ اللهَ شَيْءً  أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ  مُسْلِمُونَ  اَللَّهُمَّ صَلِّ وّسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ  وَ التـَّابِعِيْنَ  وَاتَّـابِعُ التـَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِ حْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ.

فَـإِنّ  أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ , وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِىالنَّارِ

 Kaum Muslimin, jamaah sholat Jum’at rahimakumullah. Saat ini polemik tentang hukum merokok masih terjadi. Sebagian kalangan menyatakan maksimal hukumnya adalah makruh, artinya masih boleh dilakukan meskipun lebih disukai untuk ditinggalkan. Sebagian lagi dengan jelas menyatakan keharamannya karena dianggap terbukti mudharatnya yang sangat besar. Sebagian lagi tidak terlalu peduli apakah merokok itu haram, makruh atau mubah, mereka sudah terlanjur cinta sehingga sangat sulit untuk meninggalkannya meskipun ia tahu betapa banyak penelitian ilmiah yang menelanjangi keburukan rokok.

Kaum muslimin rahimakumullah, mari kita menyelami jiwa kita. Apakah bibit-bibit taqwa telah bersemai di dalam qolbu kita, sebagai buah Ramadhan yang belum lama kita lalui. Ternyata orang bertaqwa itu, mereka tidak terfokus mencari-cari kepastian hal yang buruk untuk mereka tinggalkan,  namun yang terpenting bagi mereka adalah senantiasa bersikap dan berbuat yang terbaik dalam setiap situasi dan kondisi. Karena mereka menyadari mereka adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia dan alam semesta. Terbaik dalam hal pikiran, sikap, zat yang dikonsumsi dan perbuatan. Allah berfirman dalam Al-Quran:

كُنۡتُمۡ خَيۡرَ اُمَّةٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَتُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ‌ؕ وَلَوۡ اٰمَنَ اَهۡلُ الۡكِتٰبِ لَڪَانَ خَيۡرًا لَّهُمۡ‌ؕ مِنۡهُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَاَكۡثَرُهُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ‏ ﴿۱۱۰﴾

Artinya: Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. QS. Ali Imran:110.

Inilah semestinya yang menjadi interaksi ideal kaum muslimin terhadap rokok serta zat-zat lain yang serupa. Mereka jangan hanya terfokus pada segi larangannya saja, karena ini pada kenyataannya masih belum disepakati, namun hendaknya mengalihkan perhatian pada: mana sikap terbaik terhadapnya, apakah menghisapnya serta menganjurkan kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama? Tentu tidak seperti itu. Semua orang tahu bahwa yang terbaik adalah membebaskan diri kita, keluarga kita serta umat pada umumnya dari segala bentuk kemudharatan baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang tidak disengaja lebih-lebih yang disengaja, dan rokok tidak bisa dipungkiri adalah zat yang lebih besar mudaharatnya.

Kaum Muslimin jama’ah Sholat Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Kholifah Umar bin Khoththob pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Jawab Ubay sembari bertanya kembali: “Apakah anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?”. Jawab Umar: “Saya sangat waspada dan bersungguh-sungguh  menyelamatkan diri dari duri itu.”

Inilah aplikasi taqwa, mereka sangat berhati-hati mengarungi kehidupan. Agar jangan sampai terpijak pada duri dunia apalagi hanyut pada lautan kenikmatan semu. Dunia ini Allah ciptakan sebagai ujian. Ia memiliki seribu wajah dengan  nilai yang sangat beragam. Ada yang terbaik, sangat baik, baik, kurang baik, buruk bahkan sangat buruk. Nah orang-orang yang bertaqwa mereka yang sangat selektif dalam berucap dan bertindak, mereka hanya memilih yang terbaik, serta membuat garis yang tegas antara dirinya dengan segala bentuk keburukan. Mereka lebih rela meninggalkan hal yang mubah jika hal itu dikhawatirkan menjerumuskan pada kemaksiyatan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

 لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ

Artinya: “Seorang hamba tidak akan menjadi  muttaqin sehingga dia meninggalkan sesuatu yang boleh (mubah) karena berhati-hati dari hal-hal yang dilarang.”  Dalam Al Quran juga disebutkan:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi:7) Kaum Muslimin rahimakumullah,Marilah kita mencontoh keteladanan para sahabat dahulu bagaimana mereka berinteraksi terhadap perintah dan larangan yang Allah turunkan.  Ketika wahyu mengenai larangan khomar  Allah nyatakan, maka seketika kaum Muslimin yang ada di Madinah dan sekitarnya, menyambut larangan ini dengan kalimat sami’na wa atho’na, kami dengar dan kami taati. Mereka membuang khomar di mana-mana. Meskipun mungkin saja banyak yang masih menyukai khomar, namun kecintaan kepada Allah adalah yang utama. Begitupula ketika perintah sempurna menutup aurat bagi kaum muslimah Allah tegaskan dalam Al-Quran, mereka berlomba-lomba untuk melaksanakannya, bahkan ada yang sampai menggunakan horgen untuk menutup seluruh tubuhnya. Inilah para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada generasi pertama umat ini, mereka telah lulus menjadi umat terbaik pada kurun waktu terbaik, sekaligus pula menjadi teladan bagi kita semua untuk berbuat yang sama mengejewantahkan nilai taqwa menjadi khoiro ummah.

بَا رَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيْمِ  وَنَفَعَنِي وَاِيَا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلَا يَا تِ وَذِّكْرِالْحَكِيْم اَقُوْلُ قَوْلِي هَاذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْم لِي وَلَكُمْ وَلِسَا ءِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَا سْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِلُزُمِ الْجَمَاعَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍالَّذِىْ اَرْسَلَهُ اللهُ

إِلَى جَمِيْعِ الْأُمَّةِ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَانِ لْأُ مًّةِ. اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّااللهُ

وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِـيَّ بَعْدَهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وّسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ

وَالتَّا بِعِيْنَ وَاتَّـابِعُ التـَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِ حْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Kaum Muslimin rahimakumullah, salah satu persoalan penting mengapa siklus perokok tidak pernah terputus, senantiasa ada perokok-perokok baru dari kalangan remaja bahkan usia dini,  ini terkait erat dengan  perihal keteladanan. Ternyata anak-anak kita, generasi muda kita, mereka merekam perbuatan para orang-orang tua yang merokok. Pencitraan rokok tertanam dalam  long term memory mereka. Sehingga mereka tidak memiliki ketahanan diri yang kuat ketika ada ajakan untuk merokok. Kondisi ini memprihatinkan kita, ternyata racun rokok sudah sedemikian menyebar, tidak hanya melalui asap yang dikepulkan yang meracuni si pelaku dan lingkungan sekitar namun juga secara budaya meracuni antar generasi.

Dalam Al Quran Allah mengingatkan,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. QS. An Nisa:9.

Mudah-mudahan ini menjadi renungan kita. Sungguh taqwa itu adalah keteladanan. Siapapun yang mengingnkan taqwa bersarang dalam dirinya, mau tidak mau ia harus menjadi teladan bagi dirinya, anak dan istrinya, keluarganya,  dan masyarakatnya. Teladan dalam hal kebaikan dan kemaslahatan ummat.  Teladan dalam menjauhi perkara keburukan dan kesia-siaan.

Selanjutnya marilah kita munajat kepada Allah:

عِنْدِكَ  أَللَّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ   وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُبِهِمْ وَاجْعَلْ فِى قُلُوْبِهِمُ اْلاِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ  وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَوْزِعْهُمْ اَنْ يُوْفُوْابِعَهْدِكَ الّذِيْ عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ اِلَهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ اْلأَحْزَابِ إِهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ , اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيْعَ الْحِسَابِ اِهْزِمِ اْلاَحْزَابِ اَللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

أَللَّهُمَّ اَنْجِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ   وَالْمُؤْمِنَاتِ فِي بِلَدِ فَلَسْطِيْنَ خَاصَّةً وَفِي سَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَمَّةً  أَللَّهُمَّ  اَنْجِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى اَعْدَاِئهِمْ

اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ اْلقُلُوْبِ  صَرِّفْ قُلُوْبَناَ عَلَى طَاعَتِكَ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

 رَبَّنَا اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ اْلكَافِرِيْنَ ,

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفيِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ,

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

 

Comments: 0