Menlu Jerman di Yordania: Cegah Aneksasi Sebagai Prioritas

Amman, MINA – Dalam kunjungan ke Yordania pada Rabu (10/6), Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan, Berlin menjadikan prioritas  mencegah rencana aneksasi Israel dari bagian-bagian Tepi Barat, Palestina.

Dalam sebuah pernyataan bersama Perdana Menteri Otoritas Palestina Mohammad Shtayyeh dan Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi, Maas setuju bahwa “aneksasi bertentangan dengan hukum internasional dan bahwa sekarang merupakan masalah prioritas untuk mencegahnya.”

Times of Israel melaporkan, para menteri menyatakan dukungan berkelanjutan mereka untuk solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina dan “menegaskan kembali bahwa setiap negosiasi di masa depan untuk mencapai perjanjian status akhir harus didasarkan pada Hukum Internasional dan resolusi PBB yang relevan.”

Pernyataan itu muncul setelah sehari sebelumnya Maas mengunjungi Israel dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Benny Gantz dan Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi untuk memperingatkan terhadap aneksasi.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah membuat rencana secara sepihak untuk memperluas kedaulatan Israel hingga sekitar 30 persen dari Tepi Barat. Dia berencana melangkah maju dalam pencaplokan itu pada awal Juli, yang mengundang banyak kecaman regional dan internasional.

Selama perjalanan satu hari ke wilayah itu, Maas bertemu dengan mitranya Yordania di Amman sementara PM Otoritas Palestina Shtayyeh berpartisipasi melalui video.

Sebelumnya, Israel memblokir Maas dari berkunjung ke Tepi Barat, dengan dalih masih pembatasan virus Corona. Meskipun ternyata memungkinkan pekerja Palestina untuk masuk dan keluar dari Israel.

Pada konferensi pers di Amman, Maas mengatakan bahwa “sebagai tetangga langsung, Yordania lebih terkena dampak langsung daripada negara lain oleh perkembangan apa pun” dalam beberapa pekan mendatang berkaitan dengan Israel dan wilayah Palestina.

Dia juga memperingatkan bahwa “langkah-langkah sepihak tidak akan membawa lebih dekat ke solusi dua negara yang dinegosiasikan”, dan hanya akan berdampak pada stabilitas regional dan melahirkan “potensi eskalasi yang sangat besar.”

Bulan lalu, Raja Yordania Abdullah II mengatakan kepada majalah Jerman Der Spiegel bahwa aneksasi Israel berisiko memicu konflik dengan negaranya.

Para pejabat senior Yordania telah memperingatkan langkah semacam itu bisa memaksa kerajaan Hashemite untuk meninjau kembali perjanjian damai dengan Israel. (T/RS2/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)