Meraih Berkah Ramadhan dengan Al Quran, Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur

Firman Allah ﷻ:

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا ٱلْأَلْبَـٰبِ

“Kitab (AlQuran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (Q.S. Shad [38]: 29)

  1. Makna Berkah

Berkah dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab, yakni albarakah (الْبَرَكَةُ). Lantas apa makna kata albarakah itu sendiri?

Dalam Lisanul Arab, kata albarakah (الْبَرَكَةُ) memiliki makna:

النَّمَاءُ وَالزِّيَادَة

“Berkembang dan bertambah.”

Kata barakah asalnya dari al-barku (الْبَرْكُ) yang maknanya dada onta. Orang Arab mengatakan

بَرَكَ البَعِير

maknanya, onta menderum sehingga dia mantap dan tetap di tempatnya. Dari sini, diambil dari kata barakah ini makna alluzum (اللُّزُوْمُ) yang artinya menetapi sesuatu. Ada pula ungkapan Arab:

اِبْتَرَكُوا فِي الْحَربِ

“Mereka menetapi medan perang.”

Tambahan lain, kolam dalam Bahasa Arab disebut albirkah (الْبِركَةُ), sedangkan kolam adalah tempat untuk menampung air sehingga air yang berada dalam kolam itu bersifat tenang dan tetap. Makna inilah yang dikandung oleh kata barakah. Ar-Raghib al-Ashfahaniy menga-takan,

البَرَكَةُ: ثُبُوتُ الْخَيرِ الْإِلَهِيّ فِي الشَّيءِ

“Berkah itu tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu.”

Keberkahan ini jika turun pada sesuatu yang sedikit, niscaya akan membanyakkannya dan jika turun pada sesuatu yang banyak, niscaya akan membuatnya bermanfaat.

Makna berkah dalam hidup memang bisa berbeda dari setiap orang. Namun, sebenarnya Allah ﷻ senantiasa memberikan kemudahan dan kebutuhan dalam hidup kita, baik kita sadari ataupun tidak. Sebagai manusia kita selalu menyadarinya dan bersyukur setiap saat akan kenikmatan yang menjadi berkah dalam hidup kita.

Untuk menambah keberkahan dalam hidup, membaca Al Quran bisa menjadi salah satu kuncinya. Al-Quran diturunkan memang salah satu tujuannya adalah untuk memberikan keberkahan bagi manusia yang membacanya. Adapun untuk dapat meraih keberkahan dari Al-Quran, maka kita hendaknya membaca Al-Quran dengan cara mentadaburinya.

  1. Makna Tadabbur

Menurut Syaikh Utsaimin,  tadabbur adalah:

التَّأَمُّلُ فِي الْأَلْفَاظِ لِلْوُصُوْلِ إِلَى مَعَانِيْهَا

“Merenungkan lafal-lafal untuk sampai kepada kandungan-kandungan maknanya”

Al-Qur’an, kitab suci umat Islam memiliki makna mendalam jika kita benar-benar membacanya dan memahaminya. Tidak hanya itu, keindahan lafadz Al-Qur’an juga memberikan rasa ketenteraman ketika hati sedang merasakan kegundahan.

Akan tetapi meski membaca dan memahami Al-Quran mampu memberikan ketenteraman dan memberikan solusi atas segala permasalahan, namun tidak banyak orang yang bertadabur, belajar, membaca dengan baik dan benar, memahami makna Al-Quran serta mengamalkannya. Padahal Allah ﷻ menurukan Al-Quran pasti ada tujuannya.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa makna al-albab pada surah Shad [38] ayat 29 adalah bentuk jamak dari lub yang artinya akal. Maka Allah ﷻ akan memberikan pelajaran dari Al-Quran bagi yang memahami Al-Quran. Kemudian al-Hasan al-Basri t mengatakan bahwa pada intinya cara mengambil pelajaran dari Al-Quran itu bukan hanya dengan menghafal, akan tetapi menyia-nyiakan batasannya. Sehingga seseorang dari mereka yang tidak mengindahkan batasannya mengatakan, “aku telah membaca seluruh Al-Quran”. Tetapi pada dirinya tidak ada ajaran Al-Qur’an yang disandarkannya, baik dalam bentuk akhlaknya ataupun pada amal perbuatannya.

Menurut Al-Biqa’i dalam Metode Tafsir Maqasidi karya Wafi’ Asyur Abu Zayd, sebuah surat ibarat sebatang pohon besar yang rimbun dan tinggi, setiap surah memiliki keindahan yang menajubkan dan dapat berdiri sendiri, surah selalu dihiasi dengan berbagai hiasan yang ditata baik di antara dedaunannya secara artistik. Dari sini para mufassir bisa mendapatkan pelajaran dari Al-Quran dan akan merasa sejuk setelah benar-benar bertadabur dengan Al-Quran, memahami segala kein-dahan bahasa Al-Qur’an dengan saksama.

Ada pesan yang menarik dari Muhammad Abduh untuk orang-orang yang bertadabur dengan Al-Quran, isinya adalah istiqamahlah dalam membaca Al-Quran, pahami perintah dan larangannya, ikuti nasihat dan ajarannya sebagaimana para mukminin pada masa diturunkannya wahyu. Hindarilah kitab-kitab tafsir kecuali untuk memahami lafadz-lafadz Arab yang tidak kamu pahami atau ketika hubungan satu kata dengan kata lain tidak jelas bagimu. Ikutilah apa yang telah Al-Quran tunjukkan padamu dan bawalah dirimu pada apa yang ditunjukkan Al-Quran padanya. Tidak diragukan lagi bahwa siapapun yang mengikuti jalan ini, maka setelah beberapa waktu dirinya akan memiliki kemampuan untuk menjadikan pemahaman sebagai tabiat dan cahaya yang menerangi dunia dan akhiratnya dengan izin Allah ﷻ.

  1. Al-Qur’an dan Ramadhan

Sesungguhnya bulan Ramadhan mempunyai beberapa khususiyah bagi Al-Qur’an. Dia diturunkan di salah satu malamnya.

Menurut pendapat umum di Indonesia Al-Qur’an diturunkan pada malam 17 bulan Ramadhan. Ini menurut pendapat Ibnu Ishaq. Allah ﷻ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan Al-Qur’an di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185)

Dan Allah ﷻ berfirman pula:

إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ

“…jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan…” (Q.S. Al-Anfal [8]: 41)

Kedua ayat ini apabila dipautkan yang satu kepada yang lain, menerangkan bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan pada hari perjumpaan dua pasukan, hari pemisahan kebenaran dengan kebathilan.

Abdullah ibn Abbas h berkata: “Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di malam Al-Qadar.”

Turun di malam Al-Qadar, telah ditunjuki oleh Firman Allah ﷻ:

إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar.” (Q.S. Al-Qadar [97]: 1)

Dan Firman Allah ﷻ:

إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةٍۢ مُّبَـٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.” (Q.S. Ad-Dukhan [44]: 3)

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Nu’man ibn Basyir a, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِى تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ.

“Seutama-utama ibadah umatku, ialah membaca Al-Qur’an.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ يَقُوْمُ بِهِ أٰنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ يُحِلُّ حَلَالَهُ وَيُحَرِّمُ حَرَامَهُ حَرَّمَ اللَّهُ لَحْمَهُ وَدَمَهُ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an, dia berdiri dengan Al-Qur’an ini (beribadah dengan membaca Al-Qur’an) pada sebagian malam dan sebagian siang, dia menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an dan mengharamkan apa yang diharamkan Al-Qur’an, niscaya Allah haram-kan dagingnya atas api neraka.”

Al-Qur’an dan Puasa Saling Melengkapi

Diriwayatkan oleh Ibn Abid Dun-ya dan Al-Hakim dari Abdullah ibn Umar h bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُوْلُ الصِّيَامُ إِي رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهْوَةَ فَشَفِّعْنِى فِيْهِ وَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيْهِ قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ

“Puasa dan Al-Qur’an memberi syafa’at kepada para hamba di hari Kiamat. Puasa berkata: “Wahai Tuhanku aku telah menghalanginya dari makan dan minum dan syahwat di siang hari, maka berilah aku keizinan memberi syafa’at kepadanya.” Al-Qur’an berkata: “Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah keizinan kepadaku untuk memberikan syafa’at kepadanya.” Maka diterimalah syafa’at puasa dan Al-Qur’an dan para sahabat lalu masuklah ia ke dalam surga.”

Adalah Rasulullah ﷺ pada tiap-tiap bulan Ramadhan didatangi Jibril p, lalu Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an sejumlah untuk didengar Jibril p. Kemudian Jibril p membaca jumlah apa yang dibaca Rasulullah ﷺ, untuk didengar Rasulullah ﷺ. Dalam istilah dinamakan “mudarasah” atau “mu’aradhah”.

Abdullah bin Abbas berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنُ فَلَرَسُوْلُ اللَّهِ حِيْنَ يَلْقَاءُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ لَا يُسْأَلُ عَنْ شَيْئٍ إِلَّا أَعْطَاهُ.

“Adalah Nabi orang yang paling murah tangannya. Dan beliau paling bermurah tangan di bulan Ramadhan, di ketika Jibril menjumpainya untuk memudarasahkan Al-Qur’an. Maka sungguhlah Rasulullah, ketika Jibril menjumpainya lebih cepat memberikan sesuatu kebajikan, dari pada kecepatan angin berhembus yang dilepaskan Allah. Tidak dimintakan sesuatu kepadanya, melainkan diberinya.” (H.R. Bukhari Muslim)

Ibnu Abbas h berkata pula:

إِنَّ الْمُدَارَسَةَ كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جِبْرِيْلَ لَيْلًا.

“Sesungguhnya mudarasah di antara Nabi dan Jibril, adalah di malam hari.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ditandaskan oleh Fathimah dalam suatu riwayat yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, ujarnya:

إِنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يُعَارِضُهُ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً وَإِنَّهُ عَارَضَهُ فِي عَامِ وَفَاتِهِ مَرَّتَيْنِ.

“Sesungguhnya Jibril p datang kepada Rasulullah buat memper-dengarkan bacaannya kepada Rasulullah , dan buat memperde-ngarkan bacaan Rasulullah, setiap setahun sekali. Dan sesungguhnya Jibril telah melaksanakan yang demikian pada tahun Nabi wafat, dua kali.”

Hadits-hadits yang tersebut ini menunjukkan bahwa mudarasah Al-Qur’an dalam bulan Puasa di malam hari, adalah suatu amal yang sangat disukai. Mudarasah Al-Qur’an, ialah “menyuruh seseorang yang benar-benar ahli membaca Al-Qur’an serta menerangkan isi kandu-ngannya kepada orang lain. Dan membaca Al-Qur’an di hadapan orang yang ahli dan menanyakan kepadanya makna dan tafsir serta maksud-maksud yang dikandung oleh Al-Qur’an.”

Demikianlah arti mudarasah yang sebenarnya. Maka hendaklah umat Islam memperkatakan Al-Qur’an dan memudarasahkannya sesama-nya, baik dia bertindak sebagai pengajar, ataupun selaku pelajar. Dan amat baik diusahakan adanya halaqah-halaqah ilmu di masjid sepan-jang bulan Ramadhan, untuk memenuhi sabda Rasulullah ﷺ:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللَّهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ فِيْمَا بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، مَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.

“Tiada berkumpul sesuatu kaum di suatu rumah dari Rumah-rumah Allah, mereka membacakan Kitab Allah dan mentadaruskannya di antara mereka, melainkan turunlah kepada mereka ketenangan, ditutupilah mereka oleh rahmat, dilindungilah oleh Malaikat dan Allah menyebut mereka bersama-sama dengan orang yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa dilambatkan oleh amalnya, tidaklah dapat dicepatkan oleh hubungan darahnya.”

Apabila kita memperhatikan hadits-hadits dan perkataan-perkataan para Sahabat, nyatalah bahwa kita sangat disukai membanyakkan Tilawatil Qur’an di malam hari, karena di malam hari itu, kita lepas dari kebimbangan dan kemasygulan. Dan di malam hari, berkumpul segala kemauan dan dapat bersatu hati dengan lidah untuk membaca dan mentadabburkan Al-Qur’an. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّابِ (A/R7/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)