Meubel Indonesia Diminati di Aljazair

Aljir, 28 Rajab 1437/6 Mei 2016 (MINA) – Meubel Indonesia mendapatkan minat cukup besar dari pasar Aljazair. Pemerintah dan kalangan pengusaha Aljazair mengaku membutuhkan meubel buatan Indonesia yang terkenal berkualitas dengan harga jauh di bawah pasaran internasional.

Hal ini terungkap dalam pertemuan dalam rangka mendorong peningkatan investasi, perdagangan dan pariwisata antara Indonesia-Aljazair, pekan kemarin¬†di Biskra, Aljazair, demikian keterangan pers Kemlu RI yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jumat.

Wakil Dirjen Lembaga Nasional untuk Perdagangan Luar Negeri (ALGEX) menyatakan bahwa pihaknya saat ini membutuhkan meubel Indonesia dalam jumlah besar. Pasalnya hal ini untuk mendukung program pemerintah Aljazair yang gencar menggalakkan diversifikasi ekonomi, salah satunya dengan mengucurkan kredit besar-besaran kepada masyarakat Aljazair untuk pembelian furnitur dan perlengkapan rumah.

Besaran kredit yang dikucurkan bisa mencapai 2 juta dinar atau sekitar 200 juta rupiah per orang.

“Saya berharap kepada teman kita dari Indonesia, karena Indonesia maju di bidang perlengkapan rumah dan furnitur, maka kami menginginkan untuk dapat mengimpor produk meubel dan furnitur dari negara anda,” tandasnya.

Selama ini, Aljazair rutin mengimpor dari Malaysia untuk menutupi kebutuhan mebel dan furnitur dalam negeri. Padahal, para pengusaha Aljazair mengetahui meubel dari Malaysia sebagian besar berasal dari Indonesia yang diekspor kembali dengan harga lebih tinggi.

Pihaknya sudah mengetahui kualitas dan harga kompetitif dari meubel asal Indonesia. Karena itu, dirinya berharap bisa mengimpor furnitur langsung dari Indonesia.

Selain itu, pemerintah Aljazair juga berkeinginan untuk mendirikan pabrik meubel untuk memenuhi permintaan di pasar Afrika dan Eropa.

Khubzi Abdelmadjid, Ketua Kadin wilayah Biskra mengundang investor Indonesia untuk mengekspor meubel ke Aljazair serta berpartisipasi dalam pendirian pabrik meubel di Aljazair.

“Kami telah mengetahui bahwa industri meubel di Indonesia sangat berkualitas dan dapat memproduksi dalam kuantitas besar. Akan sangat menggembirakan sekali jika kami bisa melakukan kerjasama secara langsung dengan para pengusaha meubel di Indonesia,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya menyayangkan belum adanya kesepakatan perdagangan antara pemerintah Indonesia dengan Aljazair membuat meubel Indonesia harus dikenai bea masuk barang yang cukup tinggi. Akibatnya, produk furnitur dalam negeri kesulitan untuk menembus pasar Aljazair.

Khubzi cukup menyayangkan belum terjalinnya kerjasama perdagangan antara Indonesia – Aljazair membuat potensi perdagangan meubel yang besar kurang tergarap maksimal.

“Sayang sekali ya, potensi meubel Indonesia di negara ini (Aljazair) yang cukup besar harus tertahan hanya karena belum adanya kesepakatan kerjasama perdagangan (antara Indonesia – Aljazair). Kami berharap segera ditemukan solusi mengatasi permasalahan ini,” ujarnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Machrusah memandang perlu segera dilakukan kesepakatan perdagangan antara Indonesia-Aljazair. Kesepakatan tersebut, perlu juga ditindaklanjuti dengan mengadakan sidang komisi bersama kedua antara Indonesia-Aljazair.

“Kami akan serius mengupayakan terjalinnya kesepakatan perdagangan antar kedua negara, melalui pelaksanaan SKB kedua nanti. Ya mudah-mudahan nantinya perdagangan antara kedua negara tidak lagi menemui hambatan tarif perdagangan” kata Safira.

Neraca perdagangan Aljazair- Indonesia pada tahun 2013 mencapai total sekitar US$ 700 juta. Sedangkan pada tahun 2015 mengalami penurunan menjadi hanya US$ 555,95 juta. Ekspor RI ke Aljazair sebesar US$ 220,388 juta dan impor RI dari Aljazair mencapai US$ 335,565 juta. RI selalu mengalami defisit neraca perdagangan akibat tingginya nilai impor migas.

Diharapkan dengan adanya trade agreement antara Indonesia-Aljazair dapat menjadi pintu masuk Indonesia dalam menembus pasar Afrika. (T/R05/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)