MUI Gelar Audiensi Masalah Vaksin MR

Jakarta, MINA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Selasa (28/8) mengadakan audiensi dengan sejumlah komunitas halal di antaranya Halal Corner, Komunitas Korban KIPI, dan Komunitas Thinker Parents mengenai masalah vaksin Measles and Rubella (MR).

Komunitas yang hadir menyampaikan sejumlah hal seperti misalnya pengujian jangka panjang soal vaksin MR. yang dikemukakan dr Susilorini, Msi.med, SpPA.

Ia mendorong pihak kesehatan untuk melakukan pengujian klinis lanjutan untuk vaksin MR atau campak rubella.

“Selama ini vaksin lewat fase 3 (uji klinis) dipasarkan, tidak ada uji fase 4, yang melihat post marketing surveillance nya untuk jangka panjang yang panjang”.

“Rata-rata post marketingnya hanya berlangsung 5 tahun tidak sampai 20-40 tahun, padahal kita bicara produksi vaksin menggunakan sel hewan atau sel hewan kemungkinan kerusakan genetik karena pencemaran DNA dari virus hewan, DNA dari hewan, itu bisa menyebabkan mutagenesis pada gen manusia, dan itu sudah diakui oleh WHO,” kata dr Rini di Gedung MUI, Jakarta Pusat.

Pertemuan juga dihadiri oleh para orangtua yang mengeluhkan mengenai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Mereka pun mendorong agar pemerintah juga lebih aktif dalam memantau kejadian pasca imunisasi.

“Kami bukan anti vaksin, kami justru sebelumnya pro vaksin,” tegas Seliowati, salah satu perwakilan dari Komunitas Korban KIPI. Ia merasa selama ini pengawasan dan tindak lanjut untuk KIPI belum maksimal.

Pertemuan ini disambut baik dari pihak MUI dan pada akhir pertemuan disampai bahwa informasi yang diberikan oleh para komunitas akan diteruskan kepada pemerintahan. Bukan tidak mungkin audensi akan dilanjutkan dengan mempertemukan mereka dengan dinas kesehatan.

Sementara Ketua MUI Dr KH Sodikun mengatakan pihaknya berterima kasih atas informasi dari yang hadir, dan berhadap  pertemuan bukan untuk yang pertama dan terakhir, akan berlanjut.

Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil-Wakil Sekretaris Jenderal MUI KH Tengku Zulkarnain dan Dr Amirsyah Tambunan. (L/R03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)