Jakarta, MINA – Tokoh Nasional Palestina, Dr. Mustafa Al Barghouti menyebut Zionis Israel telah melakukan tiga dosa besar di era modern yang menjadi bukti nyata praktik kejahatan terhadap kemanusiaan dan rakyat Palestina.
Hal itu ia sampaikan dalam Seminar Internasional Solidaritas Palestina: Perjuangan Keadilan Antar Bangsa yang diselenggarakan Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP) di Jakarta, Ahad (31/8).9
“Pertama, Zionis Israel melakukan genosida terhadap rakyat Palestina. Kedua, mereka menjalankan strategi pelaparan sistematis. Dan ketiga, dosa terbesar mereka adalah proyek ethnic cleansing atau pembersihan etnis,” tegas Al Barghouti.
Menurutnya, proyek pembersihan etnis itu bertujuan mengusir seluruh rakyat Palestina dari tanah airnya agar Zionis Israel dapat mengambil kendali penuh atas Palestina.
Baca Juga: Adnan Hmdan: Pemindahan Warga Gaza ke Luar Palestina adalah Pembersihan Etnis
Al Barghouti menegaskan, sejak 1948 tragedi pengusiran rakyat Palestina telah terjadi. “Sebanyak 70 persen rakyat Palestina terusir, 523 desa dihancurkan, dan jutaan orang dipaksa menjadi pengungsi,” jelasnya.
Tragedi itu berlanjut pada tahun 1967 ketika pasukan Zionis Israel menguasai wilayah Tepi Barat, termasuk Nablus, dan sejak saat itu serangan terhadap Masjid Al-Aqsa terus terjadi.
Ia menegaskan, dampak bom yang dijatuhkan Zionis Israel di Gaza lebih dahsyat dibanding bom Hiroshima dan Nagasaki.
“Kini 20 persen penduduk Gaza telah menjadi syuhada. Bayangkan jika 10 persen rakyat Indonesia dibantai dalam dua bulan, itu berarti jutaan jiwa. Kita tidak hanya bicara angka, tetapi nyawa manusia,” ujarnya.
Baca Juga: PAN Nonaktifkan Eko Patrio dan Uya Kuya dari DPR RI Imbas Kontroversi Joget
Selain itu, pembunuhan juga dilakukan lewat senjata biologis. “Satu orang di Gaza rata-rata menderita empat penyakit. Mereka hanya menunggu syahid, entah lewat bom atau lewat penyakit,” tambahnya.
Al Barghouti mengecam standar ganda negara-negara Barat yang bungkam atas kejahatan Zionis Israel. “Rusia mendapat lebih dari 11 ribu sanksi internasional, sementara Zionis Israel tidak mendapat satu pun sanksi. Di mana keadilan itu?” katanya.
Ia menyerukan dunia Islam agar bersatu membela Masjid Al-Aqsa dan rakyat Palestina.
“Dengan kekuatan dua miliar Muslim, apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan kezhaliman ini? Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga Masjid Al-Aqsa agar tidak terus dilecehkan?” ujarnya.
Baca Juga: Prabowo: Tunjangan DPR Dicabut, Kunjungan Luar Negeri Dimoratorium
Terkait solusi politik, ia menilai Solusi Dua Negara tidak akan pernah terwujud karena Zionis Israel sendiri yang menolaknya.
“Pertama, mereka mengklaim seluruh titik-titik historis di tanah Palestina sebagai milik mereka. Kedua, mereka menolak keberadaan negara Palestina. Dari dua prinsip ini, bisa disimpulkan bahwa Solusi Dua Negara tidak akan pernah terjadi,” jelasnya.
Ia menambahkan, Amerika Serikat tidak pernah sungguh-sungguh mendukung Palestina.
“Amerika yang memberi istilah Solusi Dua Negara, tetapi kenyataannya selalu berdiri di pihak Zionis Israel. Karena itu, solusi ini tidak akan pernah berhasil. Dan siapa pun yang tidak mengecam Zionis Israel berarti berdiri di pihak mereka, itu adalah bentuk pengkhianatan,” pungkasnya.
Baca Juga: Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach Dinonaktifkan dari Anggota DPR
Selain Mustafa Al Barghouti, hadir pula Wakil Ketua Forum Palestina di Inggris Adnan Hmdan sebagai pembicara.
Aqsa Working Group (AWG) bersama beberapa organisasi kepalestinaan turut diundang menjadi peserta dalam seminar tersebut.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ketua MUI Lampung: Pemimpin yang akan Mewarisi Bumi dari Kaum Tertindas