Nasihat Untuk Para Penuntut Ilmu

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat,” demikian petuah masyhur guru Imam Syafii, Imam Waqi’.

Ibnu Mas’ud, salah satu Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah berwasiat soal ilmu, bahwa hakekat ilmu itu bukanlah menumpuknya wawasan pengetahuan pada diri seseorang, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang bersemayam dalam hati.

Bahkan Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan, “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut dalam tanah, serta ikan di lautan, benar-benar mendoakan bagi pengajar kebaikan”. (HR. Tirmidzi).

Mengingat kedudukannya yang penting itu, maka menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya adalah wujud takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah shadaqah dan mengingatnya adalah tasbih tanda menyucikan keagungan-Nya.

Begitulah, dengan ilmu, manusia mengenal Allah dan menyembah-Nya. Dengan ilmu, manusia akan bertauhid dan memuja-Nya. Serta dengan ilmu pula, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.

Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu, Imam al-Ghazali mengarahkan agar para pelajar membersihkan jiwanya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah qalbu (hati) dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadats dan kotoran. Demikian juga ibadah batin dan pembangunan qalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan. Sebab hanya dengan hati yang sehat akan menjamin keselamatan manusia. Sedangkan hati yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran abadi.

Karenanya, sebagai amalan ibadah, maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar semata-mata karena Allah dan ditujukan untuk memperoleh manfaat di akhirat.

Adapun ijazah, sertifikat, wisuda, gelar bukanlah tujuan. Namun itu hanyalah bagian dari etape perjalanan menuntut ilmu. Setelah mendapatkan itu semua, maka justru itu awal dari pengamalan ilmunya di tengah-tengah masyarakat. Bukan untuk kebanggaan, kesombongan apalagi mempertuhankan selembar ijazah itu.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan, “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah).

Justru dengan bertambahnya ilmu, maka bertambahlah petunjuk dalam kebaikan. Dengan ilmunya itu juga mampu memberikan petunjuk kemanfaatan bagi sesama.

Termasuk penguasaan sain dan teknologi, pun menjadi kewajiban generasi Muslim untuk menguasaninya. Sehingga kaum Muslim itu menjadi pioner, yang terdepan dalam . Demikian tausiyah Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur pada Wisuda STAI Al-Fatah Bogor, Sabtu (18/11/2017).

Ia juga menyampaikan derajat seorang beriman akan naik jika diimbangi dengan ilmu pengetahuan, ujarnya mengutip Surat Al-Mujadalah ayat 11.

Sebuah nasihat dari kaum bijak mengatakan:

مَنِ ازْداَدَ عِلْماً وَلَمْ يَزْدَدْ هُدىً، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً

Artinya: “Barangsiapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah petunjuknya, niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah”.

Maka, saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berkata, “Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akhirat. Niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah”.

Selanjutnya, Al-Ghazali menjelaskan makna nasihat kaum bijak pandai bahwa, ‘Jika mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan merapat, kecuali harus diniatkan untuk Allah. Ilmu itu tidak mau membuka hakikat dirinya, jika tanpa niat Lillaah. Ilmu hanya akan sampai pada lafaz-lafaznya dan definisinya saja”.

Maka, ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya. Namun kesemuanya ini dipelajarinya dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka, disorientasi pendidikan diawali dengan hilangnya integritas nilai-nilai ruhiyah imaniyah dalam pendidikan, atau sering disebut dengan sekularisasi.

Sekularisasi dalam dunia pendidikan berjalan dengan dua hal, pertama, menempatkan ilmu-ilmu fardhu ‘ain (seperti aqidah, ibadah, akhlaq), yang dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi, pada skala prioritas terakhir, atau dihapus sama sekali. Sehingga mahasiswa kedokteran misalnya, tidak perlu dikenalkan pelajaran-pelajaran agama Islam.

Kedua, mengutamakan pencapaian-pencapaian formalitas akademik. Sehingga keberhasilan seorang pelajar hanya ditentukan dari hasil nilai ujian formal yang menjadi ukuran pencapaian ilmu dan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.

Begitulah, rusaknya dunia pendidikan terjadi ketika ilmu diletakkan secara salah sebagai sarana untuk mengejar syahwat duniawi.

Dalam kaitan ini, Imaam Ali bin Abi Thalib mengingatkan, “Barangsiapa yang kecenderungannya hanya pada apa yang masuk ke dalam perutnya, maka nilainya tidak lebih baik dari apa yang keluar dari perutnya”.

Wallahu A’lam bish Shawwab. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)