Nur Ikhwan: Alhamdulillah Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myanmar Selesai

Ir. Nur Ikhwan Abadi bersama Muslimin Rohingya merayakan Idul Fitri di Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar, Rabu, 5 Juni 2019. (Foto: Karidi/MER-C)

Jakarta, MINA – Sebanyak empat relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) telah kembali dari Myanmar dan mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tengerang pada Kamis malam, 7 November 2019.

Kepulangan mereka terjadi setelah pembangunan fisik Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar selesai seratus persen.

Ketiga relawan yang menghabiskan waktu di Rakhine sekitar dua tahun lamanya itu adalah Ir. Nur Ikhwan Abadi asal Lampung, Karidi asal Jakarta, Ahmad Fauzi dari Kalimantan, dan Wanto dari Wonogiri.

Dalam sebuah wawancara via telepon pada acara Bedah Berita MINA (BBM) di Radio Silaturahim (Rasil) Cibubur, Bekasi, Jumat malam (8/11), Nur Ikhwan mengungkapkan bahwa pembangunan fisik rumah sakit di daerah konflik itu sudah selesai dan tahap berikutnya akan ditindaklanjuti oleh Palang Merah Indonesia (PMI) untuk pengadaan dan pengiriman alat-alat kesehatan.

Pada kesempatan itu, Nur Ikhwan juga berbagi cerita dan menjelaskan kondisi yang dialami para relawan dan penduduk lokal di sana yang terdiri dari Muslim dan Buddha.

Berikut ini adalah transkip lengkap wawancara MINA dan Rasil dengan insinyur pembangun dua Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza dan Rakhine State:

 

MINA & Rasil: Bagaimana progres Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar?

Nur Ikhwan:       Alhamdulillah, atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan doa serta dukungan dari para pendengar Rasil dan masyarakat Indonesia semuanya, pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang ada di Rakhine State, alhamdulillah sudah selesai. Kami relawan MER-C empat orang, alhamdulillah sudah kembali setelah menyelesaikan pembangunan tersebut. Pembangunan sudah selesai seratus persen, pembangunan fisik, kemudian juga bangunan-bangunan pendukung, seperti ground tank, kamar jenazah, generator, alhamdulillah sudah kami serah terimakan kepada Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar.

 

MINA & Rasil: Selama pembangunan, kendala apa saja yang dihadapi oleh tim?

Nur Ikhwan:       Pembangunan ini sejatinya kita rencanakan (dibangun) selama 10 bulan, sejak November 2017. Tapi memang, banyak sekali tantangan dan kendala di lapangan yang kami hadapi. Membangun di daerah konflik tidak bisa kita target. Kadang-kadang meleset, karena banyak sekali kendala. Yang pertama, kendala utamanya adalah keamanan. Di daerah lokasi rumah sakit ini, belakangan, selama kurang lebih dari setahun terakhir ini menjadi pusat pertempuran antara tentara Myanmar dengan tentara pemberontak dari Arakan Army.

Di Rakhine itu ada etnis Arakan yang beragama Buddha, punya sayap militer yang namanya Arakan Army. Mereka ingin memerdekakan diri atau otonomi khusus dari Pemerintah Myanmar. Karena itu mereka bertempur dengan tentara Myanmar.

Lokasi rumah sakit ini menjadi salah satu pusat pertempurannya, sehingga (pembangunan) banyak terhambat. Bahkan, pernah beberapa kali lokasi pertempuran di dekat rumah sakit sehingga terkena dampak, seperti banyak yang bolong, dinding terkena tembakan dan lainnya.

Para pekerja juga takut untuk datang ke lokasi. Sementara kami stay dulu di penginapan yang jaraknya 16 km dari lokasi. Jika situasi sudah sedikit kondusif, kami baru menuju lokasi lagi dan memanggil para pekerja untuk bekerja kembali. Dan kondisi ini terjadi secara terus-menerus, sehingga target 10 bulan jadi tertunda menjadi dua tahun.

 

MINA & Rasil: Anda pernah juga berada di Gaza, Palestina, membangun Rumah Sakit Indonesia. Apa bedanya kondisi Gaza dan Rakhine? Mana yang lebih menyeramkan?

Nur Ikhwan:       Pada dasarnya sama, daerah konflik tidak ada jaminan keamanan. Di mana kita berusaha membantu warga yang terdampak konflik, cukup berbahaya baik di Gaza maupun di Rakhine. Tetapi MER-C menerapkan prinsip-prinsip keadilan. Kita memang senantiasa menunjukkan kenetralan kita, tidak memihak pihak satu atau pihak lain. Jadi kita sedikit lebih leluasa untuk bergerak.

Kalau di Gaza, musuhnya Israel, terang. Kalau di Rakhine sendiri, mereka berbaur dengan masyarakat, sehingga terkadang kita bingung juga, mana lawan mana kawan. Di sana banyak pegunungan, kemudian perang-perang gerilya yang dilancarkan Arakan Army terhadap tentara Myanmar cukup merepotkan tentara. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami, bahkan kami harus hati-hati ketika berjalan dari penginapan menuju lokasi rumah sakit. Karena di sana banyak pegunungan dan lahan-lahan, mereka banyak memasang ranjau darat di tepi-tepi jalan yang dilewati banyak kendaraan. Jadi harus sangat super hati-hati. Banyak juga kendaraan-kendaraan, baik umum dan lainnya yang terkena ranjau darat.

 

MINA & Rasil: Bagaimana orang-orang di sana membedakan mana orang Myanmar dan orang Indonesia, karena pada hakikatnya dari ras yang sama?

Nur Ikhwan:       Secara fisik, secara muka, tidak jauh berbeda. Kita membaur dengan warga sekitar, tidak menunjukkan ekslusifitas. Alhamdulillah kita bisa diterima di kedua belah pihak, baik di komunitas Buddha dan komunitas Muslim.

 

MINA & Rasil: Apakah Rumah Sakit Indonesia sudah diserahterimakan secara resmi kepada Pemerintah Myanmar?

Nur Ikhwan:       Secara tekhnis, bangunan sudah selesai semua, tinggal alat kesehatannya yang nanti akan dikerjakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Karena ini sudah selesai dan memang suasananya kurang kondusif untuk kami bertahan di sana, sehingga bangunan ini sudah kami serah terimakan secara tekhnis kepada Kementerian Kesehatan Myanmar. Kemarin berita acara sudah serah terima, kunci-kuncinya sudah kami serahkan agar mereka bisa menjajal bangunan itu sambil menunggu peralatan yang dikirim PMI tiba di lokasi.

 

MINA & Rasil: Di Gaza sudah di bangun RSI, di Rakhine juga sudah. Ada informasi tentang lokasi lain yang mungkin akan dibangun RSI juga?

Nur Ikhwan:       Kami relawan kan sesuai amanah. Di mana diamanahkan, kami siap, sami’na wa atho’na (kami dengar kami taat) kami berangkat sesuai kemampuan yang kami miliki. Gaza selesai, kemudian Rakhine selesai, ya nanti di mana lagi.

 

MINA & Rasil: Bagaimana kondisi air di lokasi RSI, sekarang musim kemarau, air susah di mana-mana?

Nur Ikhwan:       Air jadi kendala tersendiri di Rakhine, karena kebutuhan air sangat vital. Masyarakat di sana biasa menggali lubang lumbung, kemudian menampung air hujan. Air hujan itulah yang mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-sehari selama bertahun-tahun.

Untuk menyuplai kebutuhan air di rumah sakit ini, sekarang musim kemarau dan cukup kering, kita membangun ground tank dengan ukuran 4 x 40 meter dengan kedalaman 3 meter yang akan menyuplai kebutuhan air rumah sakit. Kebutuhan air sendiri saat ini dalam kondisi kemarau, kita tarik dari sungai terdekat. Ada sungai yang jaraknya 700 meter dari lokasi rumah sakit, kemarin sudah kita pasang pipa secara permanen untuk menyuplai air ke rumah sakit, ke dalam ground tank ini saat kemarau tiba.

Alhamdulillah kemarin sudah kita pompa dan kita meninggalkan rumah sakit dalam kondisi ground tank terisi penuh.

Sementara untuk sumur bor, di sana airnya kurang bagus, asin, sehingga tidak layak konsumsi. Kalau musim hujan, sistem pemipaan rumah sakitnya, setiap hujan yang turun, airnya kita alirkan langsung ke dalam ground tank dan tertampung di situ. Untuk musim kemarau, kita antisipasi dengan membuat pipa ke sungai.

 

MINA & Rasil: Anda sudah melihat langsung konflik di Gaza dan Rakhine, Anda merasakan langsung. Apa pesan Anda bagi pembaca MINA dan pendengar Rasil?

Nur Ikhwan:       Konflik, apa pun bentuknya akan merugikan semua pihak, siapa pun itu. Kami melihat sendiri bagaimana menderitanya rakyat, menderitanya masyarakat akibat konflik yang ada. Di Rakhine sendiri, akibat konflik itu, semua ekonomi menurun bahkan terhenti. Rakyat juga banyak yang mengungsi. Di rakhine saat ini menyebabkan lebih dari 60.000 warga mengungsi di tenda-tenda yang sangat darurat sekali. Semua pihak dirugikan.

Untuk itu kami menyampaikan, mari kita jaga persatuan dan kesatuan. Jangan mudah kita tersulut emosi kemudian menyebabkan terjadinya konflik yang pasti akan merugikan kita semua. Karena setiap konflik yang terjadi, yang rugi terutama rakyat. Jadi kita jaga kesatuan dan persatuan, ini sangat penting.

Kita lihat di Indonesia ini damai, shalat bisa tenang, ibadah bisa nyaman, bebas, semua bisa kita lakukan. Ketika daerah konflik seperti itu, setelah pukul enam (sore) sudah tidak boleh ada aktivitas keluar. (W/RI-1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)