Orang yang Tidak Dilalaikan dari Mengingat Allah

Oleh : Mustofa Kamal, Pendakwah Medsos, Alumni Tarbiyah Wustho Lampung

Kesibukan yang kita lakukan dari segala aktivitas, tidak menjadi penghalang kita dari berdzikir mengingat Allah. Baik ketika sedang di kantor, di kebun, di sawah, di pasar atau juga bahkan ketika kita sedang berada di jalan.

Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah al-Yasykuri, berkata, “Aku melihat Muhammad bin Sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah”.

Dalam kesibukan berniaga pun ketika di pasar ketika sedang aktifitas jual beli, tetap lisan dan hatinya selalu berdzikir mengingat Allah.

Begitupun seharusnya kita, apapun kesibukan kita, apapun aktivitas kita, hendaknya kita selalu berdzikir mengingat Allah. Karena dzikir mengingat Allah dengan bertahmid, bertasbih, bertahlil dan beristighfar tidak hanya ketika kita berada di masjid saja.

Orang-orang yang shalih selalu menyibukkan diri dengan berdzikir dan beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan?. Keshalihanya bermanfaat untuk dirinya juga untuk orang lain.

Benarlah sabda Rasulullah Shallallahun ’Alaihi Wasallam, “Wali-wali (kekasih) Allah adalah orang-orang yang jika mereka dipandang maka akan mengingatkan kepada Allah.”

Teladan kita berikutnya adalah imam Ibrahim bin Maimun ash-Shaigh, seorang imam Ahlus sunnah dari generasi Atba’ut tabi’in . Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menukil dalam biografi ash-Shaigh, bahwa pekerjaan dia adalah tukang menempa logam, tetapi jika dia telah mendengarkan seruan azan shalat, maka meskipun beliau telah mengangkat palu, beliau tidak mampu untuk mengayunkan palu tersebut. Dia segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat. Dari kisah diatas Begitulah seharusnya pribadi yang bertaqwa yakni sebantiansa mengagungkan syiar-syiar Allah.

Maha benar Allah yang berfirman:

ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ

Artinya: “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah dan larangan)Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan(dalam) hati.” (QS Al-Hajj/22 : 32).

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

{فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ. لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

Artinya: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An-Nuur/24: 36-38).

Mengenai ayat-ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir menjelaskan,  “Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli dan meraih keuntungan (besar) dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka (Allah Ta’ala) Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezki kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan) di sisi Allah Ta’ala adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi.

Imam al-Qurthubi menjelaskan, dianjurkan bagi seorang pedagang untuk tidak disibukkan/dilalaikan dengan perniagaannya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya. Maka ketika tiba waktu shalat fardhu hendaknya dia segera meninggalkan perniagaannya untuk menunaikan shalat, agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dipuji Allah Ta’ala dalam ayat ini.

Begitulah, orang mukmin yang bertakwa adalah orang yang tidak disibukkan dengan urusan dan kesibukan dunia dari mengingat Allah. Inilah yang dipuji oleh Allah dalam firman-Nya.

Tempat bekerja dan berjual-beli sangat berpotensi untuk melalaikan manusia dari mengingat Allah, maka menyebut dan mengingat Allah di tempat-tempat tersebut sangat besar keutamaannya di sisi Allah .

Imam ath-Thiibi mengatakan, “Barangsiapa yang berzikir kepada Allah ketika berada di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah berfirman tentang keutamaan mereka”.

Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang berupa kisah nyata, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan.

Semoga kita menjadi orang yang tidak dilalaikan dari mengingat Allah di tengah berbagai kesibukan kita. Aamiin. (A/Mus/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)