Palestina Bentuk Otoritas Obat dan Makanan dengan Dukungan Indonesia

Foto: EPA

Ramallah, MINA – Menteri Kesehatan Palestina, Mai Alkaila mengatakan, negaranya sedang berupaya membentuk sebuah otoritas untuk mengatur produksi dan distribusi makanan dan obat-obatan. Hal itu dilakukan dengan dukungan dari Indonesia.

Hal tersebut sampaikan Alkaila saat menghadiri lokakarya virtual peningkatan kapasitas bagi staf Kementerian Kesehatan di bidang pengawasan obat dan makanan yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) pada Senin (23/11). Demikian dikutip dari Wafa.

Kegiatan dengan tema “Indonesian FDA’s Support for the Establishment of an Independent Palestinian Food and Drug Authority” itu akan berlangsung selama tiga hari (23-25 November 2020) dan dibuka Kepala BPOM serta dihadiri oleh 20 peserta pelatihan dari Kementerian Kesehatan Palestina.

Alkaila mengatakan, lokakarya tersebut sebagai langkah awal pembentukan otoritas pangan dan obat-obatan Palestina dengan dukungan Indonesia, yang menurutnya penting dalam membangun institusi negara.

Sementara itu, Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito menegaskan komitmen dalam membantu peningkatan kapasitas fungsi regulator Palestina melalui program Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS).

Menurutnya, dampak pandemi COVID-19 dirasakan seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan dunia, tak terkecuali rakyat Palestina.

Terlebih lagi, rakyat Palestina memiliki keterbatasan akses obat, vaksin, dan makanan yang sangat dibutuhkan.

“Situasi pandemi COVID-19 saat inilah yang melatarbelakangi dukungan teguh kami dalam memberikan bantuan teknis kepada Otoritas Regulator Palestina untuk meningkatkan sistem pengawasan Obat dan Makanan di Palestina,” ujar Penny K. Lukito dalam sambutannya di acara itu.

“Dukungan ini sekaligus merupakan upaya kami dalam mengimplementasikan Rencana Aksi hasil pertemuan Otoritas Regulatori Obat Negara Anggota OKI pada tahun 2018 di Jakarta. Yaitu mendorong terciptanya National Medicine Regulatory Authorities (NMRAs) yang mandiri dengan memberikan bantuan untuk memperbaiki sistem regulasi dan meningkatkan efektivitas fungsi regulasi,” lanjutnya.

Melalui lokakarya virtual tersebut, Kepala BPOM berharap peserta regulator Palestina memperoleh pengetahuan sehingga dapat berkontribusi pada tujuan pembentukan Otoritas Regulator Obat dan Makanan Palestina yang Independen.

“Hal ini merupakan tugas berat, jika dilakukan secara terpisah dan tanpa upaya kolaboratif. Untuk itu, sekali lagi kami tekankan Badan POM terus mendukung Palestina, termasuk membantu pembentukan Badan Pengawas Obat dan Makanan Palestina yang independen.” ujarnya. (T/RE1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)