Partai-Partai Palestina Bersatu, Ciptakan Harapan di Pemilu Israel

Spanduk kandidat aliansi Arab Joint List di pasang di gedung pertokoan di Jaffa. (Foto: Arwa Ibrahim/Al Jazeera)

Beberapa hari sebelum pemilihan parlemen nasional di Israel tangggal 17 September 2019, jalan-jalan di kota Palestina yang menjadi Tel Aviv setelah 1948, dipenuhi dengan semangat pemilu.

Empat partai Palestina bergabung dalam aliansi Arab Join List. Poster kampanye aliansi itu terlihat di kota pelabuhan kuno. Wajah-wajah kandidat utama Arab Joint List menghiasi lampu-lampu jalan dan gedung-gedung apartemen. Slogan mereka adalah “Persatuan kita adalah kekuatan kita”. Slogan itu pun telah terpampang di jendela-jendela toko dan balkon-balkon rumah.

Kondisi ini jauh berbeda dari enam bulan lalu,pada pemilu bulan April lalu,  ketika aliansi empat partai – Hadash, Taal, Balad dan United Arab List – terpecah menjadi dua blok yang bersaing. Keduanya akhirnya bernasib buruk dalam pemilihan April lalu itu, karena jumlah pemilih di antara warga Palestina Israel turun menjadi 49,2 persen, turun dari 68 persen dalam pemungutan suara sebelumnya.

Tetapi Arab Join List telah berkumpul kembali untuk pemilihan mendatang dan para pemimpinnya berharap pada 17 September bisa mengalahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, ketua partai sayap kanan Likud.

Hasutan Netanyahu

Para pemimpin dan pendukung Arab Joint List mengatakan, tindakan-tindakan Netanyahu dan hasutannya baru-baru ini terhadap warga Palestina di Israel dapat memperkuat aliansi mereka dengan mendorong lebih banyak warga Palestina untuk memilih.

“Bahasa Netanyahu (terhadap warga Palestina di Israel) tidak dapat diterima. Itu membuat kami – partai Arab dan pemilih kami – ingin menjatuhkan Netanyahu,” kata Ahmed Al-Tibi, Ketua Partai Taal, kepada Al Jazeera.

“Bibi”, panggilan Netanyahu, mendiskreditkan partai-partai Yahudi Israel di sayap kiri dengan menuduh adalah “kebutuhan mereka” bekerja sama dengan partai-partai Palestina untuk membentuk koalisi pemerintahan.

Selama beberapa pekan terakhir, Netanyahu telah menuduh adanya kecurangan pemilih yang signifikan pada pemilu April lalu. Ia menuding bahwa Partai Balad tidak akan melewati ambang pemilihan tanpa kecurangan. Namun, tuduhan itu bertentangan dengan hasil pemilu itu yang menunjukkan tidak ada tuduhan kecurangan yang diajukan terhadap suatu partai atau individu sehubungan dengan pemungutan suara.

Netanyahu juga menuduh saingannya – termasuk partai Palestina – mencoba mencuri suara, karena halaman Facebook-nya mengirimkan peringatan bahwa “orang Arab ingin menghancurkan kita”. Pada akhirnya, Netanyahu mencoba meloloskan RUU yang kontroversial untuk memungkinkan menaruh kamera di dalam TPS, tetapi itu gagal.

Para pengamat mengatakan, penggunaan kamera di tempat pemungutan suara dalam pemilu April adalah upaya Netanyahu untuk mengintimidasi warga Palestina di Israel dan menurunkan jumlah pemilih.

Aymen Odeh, Ketua Partai Hadash dan pemimpin Arab Joint List, mengecam pernyataan Netanyahu. Ia menyerukan “diakhirinya hasutan rasis dan berbahaya ini … terhadap penduduk Arab”.

Tetapi alih-alih menjauhkan pemilih Arab dari kotak suara, beberapa warga Palestina di Israel, terutama kaum muda, mengatakan, “hasutan” dan “bahasa rasis” Netanyahu telah mendorong mereka untuk memilih pada 17 September nanti.

“Ketika kami menemukannya berbicara rasis tentang kami, kami lebih bersikeras memilih melawannya karena kami ingin melawan taktiknya,” kata Amin, seorang mahasiswa berusia 21 tahun. “Bahkan jika itu tidak berhasil, setidaknya kita membuat suara kita terdengar.”

Hal senada diutarakan seorang mahasiswa kedokteran di Tel Aviv. Ia merasakan hal yang sama dan mengatakan bahwa bersatunya kembali Arab Joint List telah meningkatkan motivasinya untuk memilih.

“Ketika kamera dipasang di tempat pemungutan suara pada bulan April lalu, saya merasa tidak ada gunanya memilih. Tapi kali ini, di saat banyak orang masih merasa kecewa, itu membuat saya ingin menantang Netanyahu dan memilih,” katanya kepada Al Jazeera, dalam status anonim.

Namun, beberapa pemilih Arab merasa kecewa dengan proses politik dan mungkin memboikot pemilihan itu.

“Saya sudah banyak berpikir tentang apakah akan memilih atau tidak,” kata Michel Al-Rahib, pemilik toko buku dan kafe berusia 60 tahun.

“Jujur, saya tidak berpikir itu (memilih Joint List), tetapi tidak ada alternatif,” tambahnya.

Memblokir pemerintah sayap kanan

Warga negara Palestina di Israel – yang meliputi Muslim, Yahudi dan Kristen – adakah sebanyak 20 persen dari populasi dan lebih dari 900.000 dari hampir 6 juta pemilih Israel yang memenuhi syarat memilih.

Karena warga Palestina secara tradisional memilih sebagai blok terpadu untuk Arab Joint List, mereka dapat memiliki efek yang signifikan pada hasil pemilu mendatang, jika mereka memberikan suara dalam jumlah besar.

“Masyarakat Israel terbagi hampir di tengah, jadi kami memiliki kesempatan untuk menyingkirkan Netanyahu kali ini,” kata Sami Abu Shahadah, yang menjalankan pemerintahan dari Partai Balad.

“Jika 65 persen pemilih kami memilih, kami akan mencegah Netanyahu membangun koalisi sayap kanan berikutnya,” tambahnya.

Menurut jajak pendapat terbaru, banyak warga Israel diperkirakan akan memilih penantang utama Netanyahu, yaitu Benny Gantz, pemimpin partai Blue and White, serta partai-partai saingan lainnya, termasuk partai sayap kanan Yisrael Beiteinu dan sayap kiri Partai Democratic Camp.

Ini bisa membuat Netanyahu tanpa dukungan yang cukup dari partai-partai sayap kanan lainnya untuk mencapai ambang batas 61 kursi yang diperlukan dari 120 kursi di parlemen, untuk dapat membentuk pemerintahan koalisi. Jika Netanyahu gagal, kesempatan itu kemudian dapat diteruskan kepada Gantz.

“Sekarang kita telah bersatu kembali. Jika kita memberikan suara dalam jumlah besar, kita dapat menjatuhkan Netanyahu dengan menciptakan mayoritas pemblokiran terhadapnya,” kata al-Tibi.

Tantangan mobilisasi

Terlepas dari harapan yang begitu tinggi, Arab Joint List mengakui mereka menghadapi tantangan untuk memobilisasi pemilihnya.

“Banyak pemilih kami kecewa atau melepaskan diri dari politik, yang lain mungkin memilih partai lawan, sementara beberapa, seperti penduduk gurun Negev, kekurangan sumber daya untuk mempertimbangkan pemungutan suara,” jelas Abu Shahada.

Menurut jajak pendapat internal Joint List, 52-58 persen pemilih dari konstituennya akan memilih.

Media Israel melaporkan beberapa pekan lalu bahwa pemimpin aliansi itu, Odeh, akan mempertimbangkan untuk bergabung dengan koalisi yang dipimpin oleh Gantz jika syarat-syarat tertentu dipenuhi, tetapi para pemimpin lain dari Joint List telah membantah kemungkinan seperti itu.

Arab Joint List tidak akan menjadi bagian dari pemerintah,” tegas Al-Tibi. Ia menyatakan, aliansi tersebut menolak bergabung dengan pemerintah yang berpotensi mengebom Gaza atau melakukan pembongkaran rumah warga Palestina di wilayah pendudukan.

Terlepas dari ketidakpastian itu, seperti banyak warga Palestina di Israel, Kholoud Zibidi, seorang ibu rumah tangga berusia 40 tahun dari Jaffa, menyatakan akan memberikan suaranya untuk Joint List, apa pun yang terjadi.

“Saya akan memberikan suara untuk Joint List bagaimanapun caranya. Saya ingin seseorang mewakiliku di Knesset dan menyuarakan suara kami di sana,” katanya. (AT/RI-1/P1)

 

Sumber: Tulisan Arwa Ibrahim di Al Jazeera

 

Mi’raj News Agency (MINA)