Pelatihan Pengelolaan EcoMasjid Jabar Banten Digelar di Tangerang

(Foto: Istimewa)

Tangerang Selatan, MINA – Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pusat Generasi Lingkungan (Puslatmas PGL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kembali menggelar Pelatihan Pengelolaan Masjid Ramah Lingkungan (ecoMasjid) pada Selasa-Kamis (3-5/12).

Pelatihan yang digelar di Wisma Dormitory Puslatmas PGL KLHK yang berlokasi di Komplek Perumahan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan, Banten ini diikuti pengurus dari 40 masjid di 13 kabupaten/kota dari Jawa barat dan 4 kabupaten/kota Banten.

Kepala Puslatmas PGL KLHK,Cicilia Sulastri, S.H, M.Si., menyatakan pihaknya mendukung penuh siap memfasilitasi gerakan EcoMasjid melalui pelaksanaan pelatihan atau bimbingan teknis, pemberian bantuan sarana prasarana dalam pelaksanaan EcoMasjid, misalnya bibit pohon, dan sarana pengelolaan sampah.

“Semoga gerakan EcoMasjid yang diinisiasi oleh Pak Hayu (MUI) ini, bisa menjadi pelopor dalam penyelamatan lingkungan berbasis agama,” kata Cicilia saat menyampaikan sambutan saat pembukaan pelatihan di Wisma Dormitory Puslatmas PGL KLHK, Tangerang Selatan, Selasa (3/12).

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga siap memberikan dukungan pemberian penghargaan EcoMasjid berupa memberikan konsultasi untuk evaluasai dan perancangan gerakan EcoMasjid serta penyerahan piagam penghargaan.

Sementara Kepala Bidang Penyelenggaraan Pelatihan Masyarakat, Setyo Winarso, S.Hut, mengharapkan para pesertga dapat menyelenggarakan dan membiasakan kegiatan yang ramah lingkungan di masjid dan lingkungan sekitarnya.

“Semoga para dai dapat menjadi corong dalam mendakwahkan prilaku dan budaya yang ramah lingkungan melalui gerakan EcoMasjid,” ujarnya.

Peserta melihat pilot project EcoMasjid di Komplek Az-Zikra Sentul, Bogor.(Foto: Istimewa)

Ketua Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH-SDA MUI) Dr. Hayu Prabowo sebagai pembicara menjelaskan, pelatihan tersebut digelar dalam rangka peningkatan pengetahuan pengelolaan masjid ramah lingkungan.

Menurutnya, krisis lingkungan hidup dengan berbagai manifestasinya adalah krisis moral, maka penanganannya haruslah melalui pendekatan moral.

“Masjid merupakan salah satu sarana yang digunakan untuk pembinaan moral keagamaan,” tegas Hayu saat menyampaikan sambutan.

Dia mengatakan, pembinaan moral keagamaan tersebut tidak bisa hanya dengan ceramah, perlu aksi nyata untuk membangun kemandirian umat dalam menghadapi ancaman kelangkaan air, pangan dan energi.

“Hal ini kita lakukan dengan orientasi pengelolaan masjid yang mandiri dan berkelanjutan pada aspek idarah, imarah, dan ri’ayah,” ujar Hayu.

Program EcoMasjid ini menjadi program yang diharapkan dapat mampu meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif pengurus dan jamaah terhadap pentingya pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam di sekitar masjid dan tempat tinggalnya. (L/R01/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)