Pemerintah Irak Kecam Pembakaran Konsulat Iran

Najaf, MINA – Para pemrotes anti-pemerintah menyerbu dan membakar gedung konsulat Iran di kota Najaf, Irak selatan,  pada Rabu (27/11), menuai kecaman dari pemerintah Irak, ketika kekacauan politik terus meningkat.

Serangan itu adalah ekspresi terkuat dari sentimen anti-Iran oleh demonstran Irak, yang telah turun ke jalan selama berminggu-minggu di Baghdad dan mayoritas kota mayoritas Syiah di selatan.

Pada Kamis (28/11), kantor berita negara Irak mengutip kementerian luar negeri mengutuk serangan terhadap fasilitas diplomatik. Demikian Al Jazeera melaporkan.

Demonstran anti-pemerintah membakar gedung konsulat Iran di Najaf, Irak selatan pada Rabu (27/11), sementara enam pengunjuk rasa dibunuh oleh pasukan keamanan yang menembakkan peluru tajam di tengah kekerasan yang sedang berlangsung, kata para pejabat Irak.

Para pengunjuk rasa menghancurkan konsulat Iran di kota Najaf di malam hari. Paling tidak 33 orang terluka ketika polisi menembakkan amunisi tajam untuk mengusir mereka memasuki gedung, kata seorang pejabat polisi. Pihak berwenang menyatakan jam malam di Najaf setelah insiden itu. Pejabat berbicara dengan syarat anonimitas sesuai dengan peraturan.

Staf Iran tidak terluka dan melarikan diri dari pintu belakang. Demikian Daily Sabah melaporkan.

Dua pengunjuk rasa tewas dan 35 lainnya luka-luka ketika pasukan keamanan menembakkan peluru tajam untuk membubarkan mereka dari Jalan Rasheed yang bersejarah di Baghdad, kata pejabat keamanan dan rumah sakit.

Jalan itu, yang berbatasan dengan jembatan Ahrar yang strategis, telah menjadi fokus kekerasan selama seminggu penuh, dengan insiden kematian hampir setiap hari sebagai akibat dari pasukan keamanan menggunakan amunisi tajam dan gas air mata untuk mengusir demonstran agar tidak melewati rintangan beton.

Demonstrasi berkecamuk di Baghdad dan di Irak selatan yang sebagian besar berpenduduk Syiah sejak 1 Oktober. Para pengunjukrasa menuduh pemerintah yang dipimpin Syiah itu sangat korup dan mengeluhkan pelayanan publik yang buruk dan pengangguran yang tinggi. Setidaknya 350 orang telah tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam apa yang telah menjadi gerakan protes akar rumput terbesar dalam sejarah modern Irak.

Para pengunjuk rasa menduduki tiga jembatan utama di Baghdad tengah – Jumhuriya, Ahrar dan Sinar – dalam perselisihan dengan pasukan keamanan. Pada hari Rabu, mereka juga membakar ban di Jembatan Ahrar untuk memblokir pasukan keamanan dari mengakses daerah itu.

Di Karbala, empat pengunjuk rasa tewas oleh tembakan langsung dari pasukan keamanan dalam 24 jam sebelumnya.

Tiga dari pengunjuk rasa anti-pemerintah tewas ketika pasukan keamanan menembakkan peluru tajam untuk membubarkan kerumunan di kota suci Karbala Selasa malam, kata pejabat keamanan dan medis.

Tiga ledakan serentak mengguncang Baghdad Selasa malam, menewaskan lima orang dan melukai lebih dari selusin, kata pejabat Irak, dalam serangan terkoordinasi pertama yang terlihat sejak protes anti-pemerintah meletus. Pemboman itu terjadi jauh dari Lapangan Tahrir di Baghdad, pusat dari protes anti-pemerintah selama berminggu-minggu yang telah menimbulkan tantangan keamanan terbesar bagi Irak sejak kekalahan kelompok ISIS. (T/R11/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)